Penetapan 1 Syawwal 1437 H / 2016 M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 SYAWWAL 1437 H = RABU 6 JULI 2016 M

بسم الله الرحمن الرحيم

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ



1 SYAWWAL 1437 H = RABU 6 JULI 2016 M

تقبل الله منا و منكم


Sumber:




وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dan dari Ibnu Umar رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا dia berkata: Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Apabila kalian melihatnya (hilal 1 Ramadhan) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya (hilal 1 Syawwal) maka berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah." Muttafaq 'alaihi.
وَلِمُسْلِمٍ: ( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ )
Menurut riwayat Muslim رحمه الله: "Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari."
وَلِلْبُخَارِيِّ: ( فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ )
Menurut riwayat Bukhari رحمه الله: "Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari."
وَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ )
Menurut riwayatnya (Bukhari رحمه الله) dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه: "Maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Bulughul Maram al-Asqalani: 674-675]

لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلَالَ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَه
“Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (‘iedul fithr) sampai kalian melihat hilal. Apabila (bulannya) tersembunyi (tidak terlihat) maka tetapkanlah (tiga puluh hari)” (HR Bukhory-Muslim)

...yang kesimpulannya kembali kepada pekataan Imam Asy-Syaukany Rahimahulloh:
“Masalah ini tidak khusus bagi penduduk salah satu penjuru dengan hukum tersendiri, melainkan yang diajak bicara (dalam hadits ini –pent) adalah seluruh kaum muslimin yang berhak (puasa). Pendalilan dengan hadits ini atas pengharusan penggunaan ru’yah suatu negeri atas negeri yang lain, lebih jelas ketimbang pendalilan atas tidak adanya keharusan. Sebab, apabila penduduk suatu negeri telah melihat, artinya kaum muslimin telah melihat, maka mengharuskan yang lain apa-apa yang diharuskan bagi yang melihat” [Nailul Author 4/194]
Jadi yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah kaum muslimin secara umum. Dimana saja ada sebagian kaum muslimin yang melihat hilal, maka berarti kaum muslimin lainnya dihukumi telah melihatnya dan wajib beramal dengan konsekuensi ru'yah tersebut.

Dinukil dari: http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/10/kapan-awal-dzulhijjah-puasa-arafah-dan.html

Diskusi: Apakah seluruh umat Islam berpuasa jika ada sebagian umat melihat Hilal dan orang yang melihatnya bisa dipercaya?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?

11.) Apakah seluruh umat Islam berpuasa jika ada sebagian umat melihat Hilal dan orang yang melihatnya bisa dipercaya?

Jawaban: Ini adalah salah satu kebingungan yang besar di antara umat Islam pada masa ini. Permasalahan ini disebut dengan Masalah Ikhtilaf al-Mathla' (Masalah Perbedaan Mathla'). Banyak orang yang berpendapat bahwa mereka harus mengikuti apapun ketetapan pemerintah mereka atau apapun organisasi Islam setempat tetapkan untuk mereka, apalagi jika mereka melihat Hilal mereka sendiri.
Umat Islam adalah satu, ibadahnya adalah satu, rasulnya adalah satu dan Rabbnya adalah satu, maka bagaimana bisa awal puasa tidak satu (sama)?
Karena kebingungan ini kami melihat perbedaan besar di antara orang-orang dan ini tentunya sebuah cobaan bagi umat ini. Perbedaan-perbedaan ini terutama disebabkan hal-hal berikut ini:
a) Politik: Ada persaingan di antara orang-orang yang berbeda atau di antara dua atau lebih pemimpin wilayah atau negara yang berbeda. Perbedaan ini menyebabkan isu politik yang terjadi setelah umat Islam terpecah dari Khilafah, tidak seperti saat umat Islam disatukan di bawah satu Khalifah.
b) Kesalahan ijtihad beberapa ulama: Para ulama tidaklah ma'sum (bebas dari kesalahan) dan mereka melakukan kesalahan.
c) Tamazhub (fanatik dalam bermazhab), taqlid (fanatik buta) dan ta'ashub (fanatisme).
Solusi untuk menghilangkan kebingungan dan isu yang besar ini adalah dengan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Hadits berikut ini adalah salah satu bukti/dalil untuk menghilangkan konflik yang besar ini:
عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْهُ قال قَالَ النهبِيُّ صلى الله عليه و سلم :أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صلى الله عليه و سلم
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِ ه دةَ شَعْبَانَ ثَلََثِينَ .
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه عَنْهُ berkata Nabi صلى الله عليه و سلم atau berkata Abu al-Qasim صلى الله عليه و سلم: "Berpuasalah kalian karena melihat Hilal dan berbukalah (berharirayalah) kalian juga karena melihatnya, dan jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Shahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 31, Nomor 133]
Jika kita memperhatikan dengan seksama ucapan Nabi صلى الله عليه و سلم, dapat dipahami bahwa beliau صلى الله عليه و سلم memerintahkan seluruh umat (tidak satu negara atau satu wilayah atau satu kelompok orang) untuk berpuasa jika siapapun dari mereka melihat hilal. Maka jika sebagian dari para Shahabat رضي الله عنه عَنْهُم berada di wilayah yang berbeda pada saat itu, mereka رضي الله عنه عَنْهُم akan berpuasa jika Hilal telah dilihat di salah satu wilayah Islam. Dua hadits Ibnu Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا (Pada point 6 dan 8) yang telah kami sebutkan di atas adalah juga dalil dalam point ini. Ini adalah pendapat Syaikh al-Albani رحمه الله dan selainnya.
Hadits point 6.
Dari 'Abdullah bin Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا berkata Nabi صلى الله عليه و سلم "Sebulan itu 29 malam, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya (Hilal Ramadhan), jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Shahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 31, Nomor 130]
Hadits point 8.
Dari 'Abdullah bin Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا berkata: "Orang-orang melihat/mencari Hilal, lalu aku beritahukan kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahwa aku benar-benar telah melihatnya, lalu beliau صلى الله عليه و سلم berpuasa dan menyuruh orang-orang agar berpuasa. Riwayat Abu Dawud.
[Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله di Shahih Abi Dawud dan oleh selainnya]

Sumber: Diambil dari risalah Masail fi Shiyam -1 (Issues in fasting -1) oleh Ahmad bin Umar Banajah al-Hadhrami. Download selengkapnya di sini.[http://thedawah.com/articles]

Syaikh Abdullah al-Iryani (Syarah hadits): وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Orang-orang melihat bulan sabit, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.
Syaikh Abdullah Ahmad Hasan al-Iryani - Seluruh Umat Islam Berpuasa Bila Ada Negara yang Lihat Hilal - Magetan Syaban 1431H - Bulughul Maram al-Asqalani Kitab Shiyam Syarah Hadits Kelima
Diambil dari: Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani di Markiz Magetan Indonesia bulan Syaban 1431H.
Ahmad Banajah : (Q&A) Is it a strong opinion that the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is it a strong opinion that the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Diambil dari: http://www.wiziq.com/online-class/914550-usool-ad-dawat-is-salafiyyah-ahmed-banajah Ahad, 3 Ramadhan 1433H (22 July 2012M).
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Diambil dari: http://thedawah.com/en/audio/bulughul-maram/kitaab-siyaam Selasa, 3 Jumadhil Akhir 1433H (24 April 2012M).

Posting-posting Terkait

>>> Penetapan 1 Syawwal 1437 H / 2016 M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 SYAWWAL 1437 H = RABU 6 JULI 2016 M

>>> http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/10/kapan-awal-dzulhijjah-puasa-arafah-dan.html
>>> Berita Rukyatul Hilal 1435H / 2014M
>>> Berita 1 Ramadhan 1434H
>>> Berita 1 Syawwal 1433H
>>> Berita 1 Ramadhan 1433H
>>> Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani
>>> Kitabush-Shiyam (Fasting) Bulughul-Maram al-Asqalani oleh Ahmad Banajah
>>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani dan Syaikh 'Abdul-Ghani al-'Umari
>>> (Soal-Jawab) Permasalahan: Dakwah, Fitnah, & Hizbiyyah
>>> Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Zaid bin Hasan al-Wushabi dan Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2016/07/penetapan-1-syawwal-1437-h-2016-m.html

> > > > > > > READ MORE

Puasa Orang yang Tidak Shalat

puasa tidak sholat?


[14:48 20/06/2016] ‪+62 882-6169-****: Bismillah,
Afwan Ustadz mau tnya:

1.Bgmnkah puasa org yg tdk sholat apakah dia mndapatkan pahala puasanya?

2. Ketika seseorg sengaja u/ tdk berpuasa tanpa udzur apakah dia wajib mngganti puasa tsb.?

3. Bgmna hukum berjualan di selasar (teras/ beranda) masjid...?

*pertanyaan ttipan.
جزاكم الله خيرا

[15:59 20/06/2016] ‪+62 822-4552-****:

1.Bgmnkah puasa org yg tdk sholat apakah dia mndapatkan pahala puasanya?

Yang rojih dari pendapat Ahlul ‘Ilmi adalah orang yang meninggalkan sholat secara sengaja adalah orang yang kafir dengan kekufuran akbar.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهٍ رَضِيَ اللَّهُ، عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَيْنَ الْعَبْدِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ»
Dari Jâbir bin ‘Abdillâh rodhiyaAllôhu ‘anhuma berkata: bersabda Rosulullôh shollallôhu alaihi wa sallam: “Antara seorang hamba dan kekufuran (terdapat) pada (perkara) meninggalkan sholat.” [HR. Muslim dll]

عَنْ بُرَيْدَةَ  قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ "
Dari Buroidah berkata: aku mendengar Rosulullôh shollallôhu alaihi wa sallam bersabda: “Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat, barang siapa yang meninggalkannya maka ia ia telah kafir.” [HR. Ahmad (22937) dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni dan Al-Wâdi’i.]

عَنْ مَعْقِلٍ الْخَثْعَمِيِّ، أَنَّ رَجُلًا، سَأَلَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ امْرَأَةٍ، لَا تُصَلِّي فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَهُوَ كَافِرٌ»
Dari Ma’qil Al-Khots’amî berkata: ada seorang bertanya kepada ‘Ali bin Abî Thôlib rodhiyaAllôhu tentang seorang perempuan yang tidak mengerjakan sholat, maka ‘Ali rodhiyaAllôhu berkata: “Barang siapa yang tidak melaksanakan sholat, maka dia kafir.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.933)]

عَنْ زِرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: «مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَلَا دِينَ لَهُ»
Dari Zirr (bin Hubaisy) berkata: ‘Abdullôh (Ibnu Mas’ûd) rodhiyaAllôhu ‘anhu mengatakan: “Barang siapa tidak mengerjakan sholat maka tidak ada agama baginya.”  [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.935)]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ فَقَدْ كَفَرَ»
Dari Ibnu ‘Abbâs rodhiyaAllôhu ‘anhuma berkata: “Barang siapa meninggalkan sholat, maka dia telah kafir.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.939)]

[15:59 20/06/2016] ‪+62 822-4552-****

: عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ: «لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا صَلَاةَ لَهُ»
Dari Abud Darda’ rodhiyaAllôhu ‘anhu mengatakan: “Tidak ada keimanan bagia yang tidak mengerjakan sholat.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.945)]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قُلْتُ لَهُ: مَا كَانَ يُفَرِّقُ بَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيمَانِ عِنْدَكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ»
Dari Jâbir bin ‘Abdillâh Al-Anshôrî rodhiyaAllôhu ‘anhu seorang shohabat Rosulullôh berkata: aku (Mujâhid bin Jabr) bertanya kepadanya: Dengan apa dibedakan antara kekafiran dan iman di sisi kalian dari suatu amalan pada zaman Rosulullôj shollallôhu alaihi wa sallam? Ia berkata: “Sholat”. [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.893)]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَمْ يَكُنْ  أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الْأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلَاةِ "
Dari ‘Abdullôh bin Syaqîq rodhiyaAllôhu ‘anhu mengatakan: Tidaklah para shohabat Rosulullôh memandang sesuatu perkara dari suatu amalan yang (apabila) ditinggalkan adalah kekufuran selain dari sholat.”  [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.948)]

Sa’îd bin Jubair rohimahullôh mengatakan:
«مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ كَفَرَ»
“Barang siapa meninggalkan sholat secara sengaja, maka sungguh telah kafir.” [AR. Muhammad bin Nasr Al-Marwazî dalam “Ta’dzîmu Qodris Sholat” (no.919)]

Orang yang meninggalkan sholat juga dihapuskan amalannya.
عَنْ أَبِي مَلِيحٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ بُرَيْدَةَ فِي غَزَاةٍ فِي يَوْمٍ ذِي غَيْمٍ فَقَالَ: بَكِّرُوا بِالصَّلَاةِ؛ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ "
Dari Abî Malîh berkata: suatu ketika kita bersama dengan Buroidah pada peperangan yang suasana hari itu sedang mendung, maka ia berkata: Segerakanlah untuk sholat. Karena Rosulullôh bersabda: “ Barang siapa meninggalkan sholat ashar maka telah terhapus amalannya.” [HR. Al-Bukhôrî (no.594)]

‘Umar bin Al-Khoththôb mengatakan:
لَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ
“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.” [AR. Mâlik dalam “Al-Muwaththo’” (no.51)].


[15:59 20/06/2016] ‪+62 822-4552-****:

 Dan ketahuilah bahwa orang yang menyia-nyiakan ibadah sholatnya, maka pada perkara ibadah yang lainnya lebih disia-siakan.
عَنْ نَافِعٍ، مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الَخْطَّابِ كَتَبَ إِلَى عُمَّالِهِ: إِنَّ أَهَمَّ أَمْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ، مَنْ حَفِظَهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا، حَفِظَ دِينَهُ، وَمَنْ ضَيَّعَهَا، فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ.
Dari Nâfi’, maula ‘Abdillâh bin ‘Umar, bahwasanya ‘Umar bin Al-Khoththôb menulis kepada para pekerjanya: “Sesungguhnya yang paling terpenting dari perkara kalian di sisiku adalah (perkara) sholat. Barang siapa menjaganya serta memeliharanya, maka ia telah menjaga (agamanya), dan barang siapa menyia-nyiakan, maka pada perkara selainnya lebih disia-siakan.” [AR. Mâlik dalam “Al-Muwaththo’” (no.9) dengan sanad yang shohih].

Maka tidak sah puasa maupun ibadahnya orang yang tidak sholat sampai dia bertaubat kepada Allôh.
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ.
“Sesungguhnya Allôh hanyalah menerima dari orang-orang yang bertaqwa.” [QS. Al-Maidah:27]

Begitu juga dia tidaklah mendapatkan pahala puasa maupun pahala ibadah yang lainnya ketika ia meninggalkan sholat secara sengaja.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا.
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [QS. Al-Furqon:23]

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ.
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allôh disisinya, lalu Allôh memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allôh adalah sangat cepat perhitungan-Nya.”

waAllôhu a’lam bis showâb.

[20:26 20/06/2016] ‪+62 882-6169-****:

Jazaakallohu khoyron ustadz


[17:13 21/06/2016] أبوالمنذر مجاهد الأندونيس:

جزاكم الله خيرا

1. Masalah kufur ataupun tidaknya org yang meninggalkan sholat bermalas2an merupakan masalah khilaf yang sangat pelik dengan dalil2 yang kuat dari kedua belah pihak sampai sebagian ulama tidak berani untuk mengkafirkan seperti empat imam madzhab: i.malik, i.asysyafi'i, i.abu hanifah dan i.ahmad (salah satu dari dua riwayat darinya)  dan belakangan ana ketahui syeikh albani rohimahumulloh dan syeikhunaa Muhammad bin hizam...dsl hafidzahumulloh

Dalil2 pendapat pihak pertama alhamdulillah telah dipaparkan oleh akhunaa...hafidzahulloh (afwan namanya tdk muncul setelah hp ana restart munculnya fid@)

Dalil2 pihak kedua juga banyak ini di antaranya dan mereka mengarahkan seluruh dalil2 kelompok pertama dg kufur duna kufur (kufrun ashghor) demi untuk mengambil seluruh dalil shg tdk menelantarkan sebagiannya

هذا الحديث رواه أبو داود (٤٢٥)، وأحمد (٢٢١٩٦) عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله عليه وسلم يقول: (خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى، مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ وَصَلَّاهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ، وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ، كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ، فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ)،
وصححه الألباني رحمه الله
"Sholat 5 waktu  alloh taala telah wajibkan maka barangsiapa yang menyempurnakan wudhu untuk sholat tsb dan melaksanakannya tepat pada (awal) waktunya dan menyempurnakan ruku dan khusyunya maka dia mendapat janji/jaminan dari alloh subhanah wa taala berupa ampunan dan barangsiapa tidak melakukannya maka dia tdk mendapat jaminan tsb maka jika alloh ingin dia akan ampuni dan jika alloh tdk ingin mengampuninya maka pasti akan menyiksanya"

Dalil ini menunjukkan bahwa Alloh subhanah wa taala menjadikan dosa meninggalkan sholat di bawah kehendaknya. adapun kufur akbar/syirik alloh sudah memastikan tidak akan mengampuninya.

Adapun meninggalkan dg juhud/menentang kewajibannya shg bersengaja meninggalkannya mereka semua sepakat akan kekufurannya

Almuhim masalah ini sangat pelik maka butuh kelapangan dada, semoga alloh menyatukan hati2 kita di bawah cahaya alquran dan sunnah Rosululloh shollolloh alaih wa sallam

Diterima tdknya puasanya bagi ana kurang bahkan tidak penting untuk dipanjanglebarkan dan yang terpenting bagi saya adalah:
Dinasihatkan kepadanya untuk bertaubat dan memperbaiki seluruh ibadahnya sangat tdk bisa diterima akal, org yang berpuasa dan meninggalkan sholat sementara sholat lebih wajib bahkan saat sakit dan safar pun wajib adaa'an/ditunaikan saat itu juga. berbeda dg puasa wajibnya qodoo'an/diganti pada hari lain.
Kedua, Sholat sangat jauh lebih ringan beberapa menit saja berbeda dg puasa sampai tenggelam matahari. Dan perbandinga2 sehat lainnya.
Semoga alloh mengembalikan akal sehat kaum muslimin.
Ghofarolloh lanaa wa lahum ajmaa'in

Allohulmustaan

Sumber

alhiwaarulhaadi.blogspot.co.id

http://islam-itu-mulia.blogspot.co.id/2016/07/puasa-orang-yang-tidak-shalat.html

> > > > > > > READ MORE

Mahad Memiliki Program untuk Meminta Shadaqah?

بسم الله الرحمن الرحيم

(Soal): Al-Akh... seorang thulabulilmi bertanya... tentang keadaan sebagian mahid... tentang keadaan sebagian pondok pesantren... atau mahad atau markiz... yang mana di setiap tahun mereka... memiliki program untuk meminta shadaqah kepada kaum muslimin... dan mengatakan kami siap menyalurkannya kepada yang berhaknya. Apakah perbuatan seperti ini bisa dibenarkan atau muharram? Dengan catatan tatkala mereka mendapatkan hal tersebut... mereka tidak memberikannya kepada mustahiqnya bahkan mereka gunakan untuk kepentingan pondok mereka sendiri.

(Jawab): Dijawab oleh beliau (Syaikh Abu 'Amr al-Hajuri) -hafizhahullahu ta'ala- bahwasanya perkara ini merupakan perkara yang muhdats... perkara yang dibuat-buat orang zaman sekarang... (selengkapnya silakan download/dengar audio ini).


(Soal-Jawab) Syaikh Abu 'Amr al-Hajuri: Bolehkah Mahad Memiliki Program untuk Meminta Shadaqah?


Sumber

Majelis Ilmu bersama Masyaikh Yaman: Syaikh Abu 'Amr 'Abdul-Karim al-Hajuri الشيخ عبد الكريم الحجوري أبو عمرو dan Syaikh Zaid bin Hasan al-Wushabi Abu 'Abdillah لشيخ زايد بن حسن الوصابي أبو عبد الله di Markiz Salafiyah Ma'had Umar bin Khattab, Dusun Pereng Cipetir Lebakwangi, Kuningan, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, pada bulan Shafar 1432 (Februari 2011).

Posting-posting Terkait

>>> (Soal-Jawab) Syaikh Abu 'Amr al-Hajuri: Bolehkah Mahad Memiliki Program untuk Meminta Shadaqah?
>>> (Soal-Jawab) Permasalahan: Dakwah, Fitnah, & Hizbiyyah
>>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abu 'Amr 'Abdul Karim al-Hajuri dan Syaikh Abu 'Abdillah Zaid bin Hasan al-Wushabi
>>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani dan Syaikh 'Abdul-Ghani al-'Umari
>>> Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah al-Iryani
>>> [Fatwa] Syaikh Rabi' al-Madkhali: Kotak Amal adalah Metode Hizbiyin
>>> [Fatwa] Syaikh Rabi' al-Madkhali: Bahaya al-Jam'iyat

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2012/08/mahad-memiliki-program-untuk-meminta.html

> > > > > > > READ MORE

Risalah: Idul Fithr

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين وبه نستعين والصلاة والسلام على سيد المرسلين
وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد
Hari raya ‘Idul Fithri merupakan hari bahagia bagi kaum muslimin, setelah mereka menyelesaikan ibadah yang agung selama sebulan penuh yaitu puasa Romadhon yang merupakan salah satu rukun Islam. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda dalam sebuah hadits qudsiy:
كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال الله عز وجل إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به يدع شهوته وطعامه من أجلي للصائم فرحتان فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه
“Setiap amalan bani Adam dilipat-gandakan pahala atau kebaikannya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Alloh -‘azza wa jalla- berkata: “Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dengannya Aku akan mengganjar seseorang yang meninggalkan syahwat dan makan-minumnya karena-Ku.” Bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagian: kebahagian ketika hari fithrinya dan kebahagiaan ketika menemui Robb-Nya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-)
Berkaitan dengan akan datangnya hari raya ‘Idul Fithri tahun ini, maka kita sebagai seorang muslim perlu memperhatikan dan mengingat kembali apa-apa yang diamalkan pada hari bahagia tersebut, berdasarkan tuntunan syariat yang benar dan lurus terbebas dari kemungkaran yang ada, baik itu berupa kemaksiatan maupun kebid’ahan. Tentunya hal ini tidaklah didapatkan, melainkan dengan kembali merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah dengan bimbingan para ulama salafush-sholeh yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
Insyaalloh, pembahasan kali ini berisi tentang amalan-amalan yang disyariatkan pada hari raya ‘Idul Fithri disertai pula dengan peringatan dari perkara-perkara yang dilarang dan tidak pantas untuk kita lakukan pada hari tersebut.

HARI-HARI RAYA UMAT ISLAM
Sebelum kita memasuki inti pembahasan, maka perlu diketahui bahwa umat Islam hanyalah memiliki lima hari raya dalam setahun berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah dan ijma’ ulama. Hari-hari raya tersebut adalah: ‘Idul Fithri (1 Syawal), hari ‘Arofah (9 Dzulhijjah), ‘Idul Adhha (10 Dzulhijjah), hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) dan hari Jum’at (tiap pekan). Tidaklah Alloh -ta’ala- dan Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menjadikan selainnya sebagai hari raya bagi umat Islam. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama Islam. (lihat Al-Muhalla: 3/293, karya Ibnu Hazm -rohimahulloh-)
Dahulu orang-orang musyrik menjadikan banyak hari raya bagi mereka, kemudian semuanya dihapus oleh Islam dan diganti dengan hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adhha sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh -ta’ala- setelah menunaikan dua ibadah yang sangat agung: puasa Romadhon dan haji di baitulloh Al-Harom. Telah shohih dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya ketika beliau tiba di Madinah, para penduduknya mempunyai dua hari yang mereka mengadakan permainan di dalamnya. Maka Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
قد أبدلكم الله بهما خيراً منهما يوم النحر ويوم الفطر
“Sungguh Alloh telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari hari kalian itu, yaitu: hari raya kurban dan hari raya fithri.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’iy dari Anas -rodhiyallohu ‘anhu-, dishohihkan oleh Syaikhuna Zayid dalam Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain, hal. 10)
Demikian juga hari-hari ‘Arofah dan Tasyriq termasuk hari-hari raya umat Islam. Telah shohih dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bahwasanya beliau bersabda:
يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام وهن أيام أكل وشرب
“Hari ‘Arofah, hari kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita umat Islam; hari-hari makan dan minum.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan selainnya dari ‘Uqbah bin ‘Amir -rodhiyallohu ‘anhu-, dishohihkan oleh Imam Al-Wadi’iy dalam Ash-Shohihul Musnad: 2/28)
Adapun hari Jum’at, maka berdasarkan hadits Anas -rodhiyallohu ‘anhu- riwayat Imam Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (2083):
عرضت الجمعة على رسول الله صلى الله عليه وسلم جاء جبريل في كفه كالمرآة البيضاء في وسطها كالنكتة السوداء فقال ما هذه يا جبريل قال هذه الجمعة يعرضها عليك ربك لتكون لك عيدا ولقومك من بعدك ولكم فيها خير الحديث
“Telah diperlihatkan hari Jum’at kepada Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.Datanglah Jibril yang di telapak tangannya seperti cermin putih cemerlang, di tengahnya seperti sebuah titik hitam. Maka beliau -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bertanya: “Apa ini, wahai Jibril?” Dia menjawab: “Ini adalah Jum’at yang diperlihatkan oleh Robb-mu supaya menjadi hari raya bagimu dan umatmu sepeninggalmu. Bagi kalian pada hari itu suatu kebaikan…” (Al-Hadits; dihasankan oleh Syaikhuna Zayid dalam Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain, hal. 17)
Dengan demikian, maka tidak diperbolehkan untuk menambah atau menjadikan hari lain sebagai hari raya selain yang tersebut di atas, seperti hari raya maulid (kelahiran) dan sebagainya. Hal ini karena termasuk menambah-nambahi apa yang telah disyariatkan oleh Alloh bagi hamba-Nya dan termasuk membuat kebid’ahan dalam perkara yang telah diatur oleh agama, menyelisihi sunnah sayyidil mursalin serta menyerupai orang-orang kafir, baik itu dinamakan sebagai hari raya (‘id), peringatan, pengenangan dan sebagainya. Semua itu bukanlah ajaran Islam, tetapi sebaliknya termasuk perkara jahiliyah dan taklid terhadap kaum kafir dari negara-negara barat dan selainnya. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda:
من تشبه بقوم فهو منهم
“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhu-, dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Hijabul Mar’ah, hal. 104 dan Al-Irwa’: 1269)
إن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama) dan setiap kebid’ahan itu adalah sesat.” (HR. Muslim dari Jabir -rodhiyallohu ‘anhu-)
Kita memohon kepada Alloh agar memperlihatkan al-haq kepada kita dengan sebenarnya serta memudahkan kita untuk mengikutinya dan memperlihatkan kebatilan dengan sebenarnya serta memudahkan kita untuk menjauhinya.
Hari-hari raya tersebut dinamakan sebagai ‘ied (kembali), karena hal itu terus kembali dan berulang di setiap tahunnya. Hari itu terus berulang dengan rasa senang hati dan bahagia serta Alloh-ta’ala- kembali dengan membawa kebaikan bagi hamba-Nya setelah menunaikan amalan ibadah sebelumnya. (Sholatul-’Idain, hal. 1; Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain, hal. 9-25)

AMALAN-AMALAN DI HARI RAYA
Amalan-amalan yang dilakukan oleh kaum muslimin di hari raya ‘Idul Fithri cukup banyak, ada yang hukumnya wajib untuk dilakukan. Ada pula yang mustahab dan mubah. Bahkan ada pula yang tidak pantas dan haram untuk dilakukan bersamaan dengan banyaknya kaum muslimin yang terjatuh padanya. Semua itu patut untuk diperhatikan dan diilmui oleh segenap kaum muslimin, sehingga mereka berada di atas bashiroh, dapat berbuat hikmah dengan memilah-milah, mana yang selayaknya untuk dilakukan dan mana yang harus dihindari dan dijauhi. Semoga Alloh -ta’ala- memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita semuanya.

Takbiran dan tata caranya serta hukum takbir jama’iy
Pada hari raya fithri, disunnahkan untuk bertakbir ketika berangkat menuju musholla (lapangan) tempat diselenggarakannya sholat ‘iedul fithri. Kemudian takbir tersebut berlangsung di lapangan sholat ‘ied sampai didirikannya sholat ‘Iedul Fithri dengan mengeraskan suaranya bagi laki-laki, baik di masjid, rumah-rumah, pasar-pasar dan di jalan-jalan serta di seluruh tempat yang diperbolehkan padanya dzikir kepada Alloh -ta’ala-. Adapun para wanita tidak mengeraskan suaranya, untuk menghindari timbulnya fitnah yang disebabkan oleh kelembutan suara mereka. Hal ini berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:
ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون
“Hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya (puasa Romadhon) dan hendaklah kalian mengagungkan Alloh (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqoroh: 185)
Juga berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah -rodhiyallohu ‘anha-:
كُنَّا نُؤْمَرُ بِالْخُرُوجِ فِي الْعِيدَيْنِ، وَالْمُخَبَّأَةُ، وَالْبِكْرُ. قَالَتْ: الْحُيَّضُ يَخْرُجْنَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ، يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاسِ
“Kami (para wanita) dahulu diperintahkan untuk keluar (ke lapangan sholat ‘ied) pada dua hari raya (‘iedul fithri dan adhha). Demikian juga para perawan dan wanita pingitan. Para wanita yang sedang haid pun keluar dan berada di belakang manusia, semuanya ikut bertakbir bersama dengan manusia.” (HR. Bukhoriy: 971, Muslim: 890)
Juga telah tsabit (dengan sanad hasan) atsar Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- bahwasanya beliau berangkat menuju sholat ‘ied dan bertakbir sambil mengeraskan suaranya sampai datangnya imam. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah: 1/487)
Hukum bertakbir pada ‘Iedul Fithri ini sunnah mu’akkad menurut para ulama, karena Alloh -ta’ala- telah memerintahkannya pada ayat di atas yang hal itu merupakan syiar Islam yang patut untuk disemarakkan.
Mengenai lafadz takbir, maka pendapat yang benar adalah tidak ada penentuan lafadz khusus yang disunnahkan. Akan tetapi diperbolehkan dengan seluruh lafadz yang mengandung takbir, seperti lafadz:
الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد
“Allohu akbar, Allohu akbar, laa ilaaha illallohu, Allohu akbar, wa lillaahil-hamd.”(riwayat shohih dari ‘Ali dan Ibnu Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhuma-)
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر كبيرا
“Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar kabiiro.” (riwayat shohih dari Salman Al-Farisiy -rodhiyallohu ‘anhu-)
الله أكبر، الله أكبر كبيرا، الله أكبر كبيرا، الله أكبر وأجل، الله أكبر ولله الحمد
“Allohu akbar, Allohu akbar kabiiro, Allohu akbar kabiiro, Allohu akbar wa ajal, Allohu akbar wa lillahil-hamd.” (riwayat shohih dari Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma-) dan sebagainya.
Adapun hukum takbir secara berjama’ah dengan satu suara (jama’iy), maka ini tidaklah disyariatkan dan termasuk kebid’ahan. Hal ini karena tidak ada tuntunan yang shohih dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau, maka hal ini tertolak. Terlebih lagi, jika hal ini diiringi dengan suara tabuh-tabuhan dan arak-arakan, maka keadaannya bertambah semakin memburuk, termasuk sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama ini, wallohul musta’an! Akan tetapi yang benar adalah setiap orang mengeraskan suara takbirnya masing-masing tanpa sengaja disatukan dengan yang lainnya. Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada berlebihan dalam kebid’ahan. (lihat Fatwa Ibnu Bazz dalam kitab Thoharoh wa Sholah: 2/219 dan Al-Lajnah Ad-Da’imah: 8/311)
(Fathul ‘Allam: 2/192,193,196197; Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain, hal. 284; Sholatul ‘Idain, hal. 16)

Membayar zakat fithri
Zakat ini merupakan salah satu rukun Islam, dibayarkan kepada yang berhak menerimanya sebelum keluarnya manusia untuk sholat ‘ied, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- muttafaqun ‘alaih dan hadits Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma- riwayat Abu Dawud dan selainnya (hadits hasan). Lihat pembahasan selengkapnya mengenai hukum-hukum zakat fithri pada risalah: ZAKAT FITHRI, oleh Saudara Abu Ja’far Al-Harits Al-Minangkabawiy dan fatwa seputar zakat: HUKUM PENUNAIAN ZAKAT FITHRI BAGI YANG TIDAK BISA MELAKUKANNYA PADA WAKTUNYA, alih bahasa Saudara Abu ‘Ubaidillah ‘Amir bin Munir Al-Acehiy-saddadahumalloh-.

Sarapan sebelum berangkat sholat ‘idul fithri
Disunnahkan untuk makan dahulu sebelum berangkat sholat ‘Idul Fithri, sebagaimana hadits Buroidah bin Al-Hushoib -rodhiyallohu ‘anhu-:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا كان يوم الفطر لم يخرج حتى يأكل
“Bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- ketika hari ‘Idul Fithri, tidaklah keluar sampai beliau makan dahulu.” (HR. Ahmad dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Zayid dalam Al-Jami’, hal. 57; lihat Tahqiq Bulughul Marom: 472)
Hikmah disunnahkannya sarapan sebelum berangkat sholat ‘Idul Fithri tersebut disebutkan oleh para ulama, diantaranya: untuk membedakannya dengan Romadhon yang kita dilarang untuk makan pada siang hari. Juga untuk menghindarkan prasangka bahwa seseorang itu belum boleh makan sampai didirikannya sholat ‘ied. Demikian juga, sarapan membuat diri seseorang menjadi lebih tenang, karena sholat ‘Idul Fithri biasanya diperlambat waktu pelaksanaannya untuk memberikan kesempatan bagi yang belum membayarkan zakat fithrinya dan masih ada hikmah-hikmah lainnya yang mereka sebutkan.Wallohu a’lam.
Hendaknya seorang muslim itu beribadah kepada Alloh -ta’ala- dengan sebaik-baiknya, baik mengetahui hikmah suatu ibadah tersebut ataupun tidak. Apabila seseorang menemukan atau mengetahui hikmahnya, maka dapat menambah semangat dan giat mengamalkannya, walhamdulillah. Jika tidak demikian, maka hendaknya tetap tunduk dengan syariat-Nya dan mengerti bahwa tidaklah Alloh -ta’ala- membuat suatu syariat, melainkan di dalamnya terdapat hikmah yang sempurna untuk kebaikan hamba-Nya yang beriman. (lihat Fathul Bariy, karya Ibnu Hajar: 2/447, dan Ibnu Rojab: 8/443)
Disunnahkan pula untuk memakan beberapa biji buah kurma, sebagaimana dalam hadits Anas -rodhiyallohu ‘anhu-:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لايغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات
“Tidaklah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- berangkat pada hari ‘Idul Fithri sampai beliau memakan beberapa biji kurma.” (HR. Bukhoriy)
Hikmah disunnahkannya memakan buah kurma adalah bahwa buah tersebut termasuk makanan yang paling utama, terkumpul di dalamnya tiga perkara: gizi, buah dan manisan yang bisa menguatkan pandangan mata, setelah melemah karena berpuasa. Jika tidak menemukan kurma, maka silahkan dengan makanan lain yang tersedia. (Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain, hal. 54-64)

Tajammul (berhias) di hari ‘ied
Dianjurkan pula untuk berhias di hari bahagia ini, baik dengan mandi, bersiwak, memakai baju terbaik yang dimiliki, minyak wangi, memotong kuku, merapikan rambut dan sebagainya sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Telah tsabit (shohih) dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- bahwasanya beliau mandi dan memakai minyak wangi sebelum berangkat sholat hari raya. (Al-Muwattho’: 1/177; Mushonnaf Abdurrozzaq: 3/309)
Dalam Shohih Bukhoriy dan Muslim dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- bahwasanya beliau membawa jubbah (sejenis jaket panjang atau pakaian luar) bagus terbuat dari sutra dari pasar, lalu mendatangi Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan mengatakan: “Wahai Rosululloh, belilah jubah ini untuk berhias di hari raya dan untuk menerima tamu-tamu.” Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menjawab:
إنما هذه لباس من لا خلاق له
“Baju ini (jubbah sutra) hanyalah milik orang yang tidak punya bagian sedikitpun dari ketakwaan di dunia dan pahala di akherat.”
Dalam hadits ini, Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menyetujui maksud Umar agar beliau berhias di hari raya dan waktu penyambutan tamu. Pengingkaran beliau -shollallohu ‘alaihi wa sallam- hanyalah karena baju tersebut terbuat dari sutra yang hukumnya adalah harom bagi laki-laki. Oleh karena itu, hendaknya dalam berhias di hari raya dengan menggunakan sesuatu yang halal dan mubah, tidak menyerupai orang-orang kafir dan unsur kemaksiatan lainnya. (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 75-83)

Beberapa masalah berkaitan dengan sholat hari raya ‘Idul Fithri

Hukum sholat ‘ied
Hukum sholat ‘ied adalah fardhu ‘ain atas setiap musim, baik laki-laki maupun perempuan menurut pendapat yang rojih (kuat), karena hal itu diperintahkan oleh Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah -rodhiyallohu ‘anha-:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، الْعَوَاتِقَ، وَالْحُيَّضَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ، وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para perawan, yang sedang haidh dan wanita pingitan pada hari raya fithri dan adhha. Adapun para wanita yang sedang haidh, menghindari musholla (lapangan tempat sholat) dan menyaksikan kebaikan (sholat ‘ied) dan dakwah kaum muslimin. Aku bertanya kepada beliau: “Wahai Rosululloh, salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab?” Beliau menjawab: ”Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbabnya untuknya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah memerintahkan para wanita untuk keluar melakukan sholat ‘id bersama dengan manusia tanpa mengecualikan dari mereka seorang pun. Sampai-sampai yang tidak punya jilbab pun, beliau -shollallohu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan saudarinya untuk meminjamkannya agar dapat keluar. Bahkan para wanita yang sedang udzur (haidh) untuk sholat pun diperintahkan untuk keluar menuju musholla guna menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. (Sholatul ‘Idain fil Musholla, hal. 37)
Juga berdasarkan hadits Abu ‘Umair bin Anas dari seorang Anshor sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-bahwa orang-orang mengatakan: “Kami tidak melihat hilal Syawal, sehingga paginya kami tetap berpuasa. Kemudian serombongan orang datang menemui Nabi sore harinya dan bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan manusia untuk berbuka puasa hari itu juga dan besoknya keluar ke musholla tempat sholat ‘ied.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang shohih. Lihat Tahqiq Bulugh: 470)
Bagi yang berhalangan untuk hadir di musholla ‘ied dikarenakan sakit dan sebagainya, hendaknya melakukan sholat ‘ied sendirian di tempatnya masing-masing. (Fathul ‘Allam: 2/217)

Syarat bagi wanita yang keluar
Disyaratkan bagi wanita yang keluar menuju musholla ‘ied untuk menutup aurotnya secara sempurna dengan mengenakan jilbabnya yang berwarna gelap, tidak mengenakan pakaian warna-warni penuh hiasan yang mengundang perhatian dan tidak memakai wangi-wangian yang bisa tercium oleh laki-laki, sehingga menimbulkan fitnah. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
أيما امرأة استعطرت فمرت بقوم ليجدوا ريحها فهي زانية
“Wanita manapun yang memakai minyak wangi, lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium aroma wanginya, maka ia termasuk pezina.” (HR. Ahmad dan selainnya dari Abu Musa Al-Asy’ariy -rodhiyallohu ‘anhu- dengan sanad hasan, lihat: Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 98, oleh Syaikh Zayid -hafidzohulloh-)
Jika keluarnya para wanita tersebut menimbulkan fitnah, maka mereka melakukan sholat ‘ied di rumah masing-masing. (Fatwa Syaikh Ibnu Hizam -hafidzohulloh- dalam salah satu majelisnya)

Tempat diselenggarakannya sholat ‘ied
Menurut as-sunnah, sholat ‘ied diselenggarakan di musholla (tanah lapang), bukan di masjid. Demikianlah yang biasa dilakukan oleh Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-dengan meninggalkan masjidnya yang mulia, sebagaimana dalam hadits AbuSa’id Al-Khudriy dan Ibnu ‘Umar -rodhiyallohu ‘anhum- muttafaqun ‘alaih. Demikian juga yang dilakukan oleh para kholifah sepeninggal beliau. Adapun jika ada udzur syar’iy seperti hujan, hawa dingin, angin kencang, rasa takut akan musuh dan sebagainya, maka diselenggarakan di masjid.
Terdapat kekhususan bagi ahli Mekkah (penduduk Mekkah), mereka tidaklah menyelenggarakan sholat ‘ied melainkan di Masjidil Harom, sebagaimana yang dilakukan oleh para salaf sejak dahulu. Mereka tidak pernah meninggalkan masjid terbaik tersebut dan sudah menjadi kesepakatan ulama bahwa sholat di situ lebih utama, bersamaan dengan sulit didapatnya tanah lapang di Mekkah dan sekitarnya. (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 85-90)
Hikmah diselenggarakannya sholat hari raya di tanah lapang, diantaranya: bahwasanya kaum muslimin, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak, berbondong-bondong menuju musholla, disatukan oleh satu kalimat, melakukan sholat di belakang satu imam dengan bertakbir, bertahlil dan berdoa dengan penuh ikhlas. Sepertinya mereka memiliki satu hati dalam keadaan bergembira dan senang dengan kenikmatan Alloh yang dianugerahkan kepada mereka berupa kebaikan dan dakwah kaum muslimin, yang padanya turun rahmat dan keridhoan Alloh -ta’ala-, sehingga hari itu benar-benar merupakan hari raya.
Kemudian setelah sholat, imam memberikan khutbah yang berisi nasehat dan ilmu yang bermanfaat bagi kaum muslimin, baik untuk agama maupun dunia mereka dan menganjurkan mereka untuk bershodaqoh, sehingga banyak dari kalangan orang-orang kaya menjadi terketuk hatinya untuk membantu si miskin yang hal itu membuat hatinya bahagia dan gembira pula atas apa yang diberikan oleh Alloh -ta’ala- berupa rezki dalam perkumpulan yang berbarokah tersebut. (Sholatul ‘Idain fil Musholla, hal. 37-38)

Tidak ada adzan, iqomah atau seruan lainnya
Sholat hari raya tidak didahului adzan, iqomah ataupun seruan serta aba-aba apapun, baik sebelum keluarnya sang imam, ketika keluarnya maupun sesudah keluarnya. Hal ini sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah, Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhum- dalam Shohih Bukhoriy dan Muslim serta hadits Jabir bin Samuroh -rodhiyallohu ‘anhu- dalam Shohih Muslim. Demikian juga tidak diserukan dengan: “Ash-Sholatu jami’ah,” karena hal ini tidak pernah diriwayatkan secara shohih dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau. Itu semua adalah termasuk perkara bid’ah dan muhdats dalam agama ini. (Fatwa Syaikh Ibnu Bazz -rohimahulloh- dan selainnya, lihat Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 115-121; Fathul ‘Allam: 2/205)
Akan tetapi yang benar adalah begitu nampak sang imam keluar, maka para jama’ah segera berdiri meluruskan shof masing-masing dan siap untuk memulai sholat. Wallohu a’lam.

Tidak ada sunnah qobla atau ba’da ‘ied
Tidak disunnahkan sholat rowatib qobla ‘ied atau ba’da ‘ied, akan tetapi Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- begitu keluar menuju musholla, langsung melakukan sholat ‘ied dua rokaat. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma-, bahwasanya Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- keluar pada hari fithri dan melakukan sholat dua rokaat (‘iedul fithri), tidak melakukan sholat (sunnah) apapun, baik sebelum maupun sesudahnya. Waktu itu beliau bersama Bilal.” (HR. Bukhoriy: 989, Muslim: 884)
Jika sholat ‘ied tersebut dilakukan di masjid, maka hendaknya melakukan sholat tahiyatul masjid dua rokaat terlebih dahulu sebelum duduk menunggu imam keluar memulai sholat dan tidak melakukan sholat lainnya. Adapun jika telah menunaikan sholat ‘ied dan telah kembali ke rumah masing-masing, maka dipersilahkan untuk  melakukan sholat sunnah lainnya, seperti sholat Dhuha dan selainnya. (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 256-259; Fathul ‘Allam: 2/204-205)

Mengambil jalan lain ketika pulang
Ketika selesai melakukan sholat dan mendengarkan khutbah ‘ied, maka disunnahkan untuk mengambil jalan pulang selain jalan ketika berangkat. Hal ini berdasarkan hadits Jabir atau Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhuma-: “Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- mengambil jalan lain ketika hari raya.” (HR. Bukhoriy: 986)
Hikmah dari amalan ini disebutkan diantaranya: untuk lebih banyak menyebarkan salam kepada manusia pada kedua jalan tersebut. Juga untuk menampakkan syiar Islam lebih banyak di setiap jalan. Juga untuk menimbulkan kejengkelan bagi para munafik dengan menampakkan ketinggian dan kemuliaan Islam dan syiar-syiar Islam serta kaum muslimin. Juga untuk memperbanyak langkah ketika pergi dan pulang dari tempat sholat, sehingga mendapatkan lebih banyak pahala dan dihapuskan lebih banyak dosa dan kesalahan dan hikmah lainnya yang belum disebutkan di sini. Yang jelas dan pasti adalah amalan itu dalam rangka meneladani dan mengikuti tuntunan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan ini adalah hikmah tertinggi dalam pelaksanaan syariat. (lihat Zadul Ma’ad: 1/449, oleh Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-; Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 112)

Ucapan selamat idul fitri dan berjabat tangan serta saling maaf-memaafkan
Belum ada riwayat yang shohih dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam masalah tahni’ah (ucapan selamat) pada hari raya. Hanya saja telah diriwayatkan dari beberapa orang sahabat Nabi akan hal tersebut, wallohu a’lam akan keshohihannya.
Para ulama -seperti Imam Ahmad -rohimahulloh- dan selain beliau- membolehkan kepada seseorang untuk mengucapkan ucapan-ucapan selamat ‘Idul Fithri, seperti: “Taqobbalallohu minna wa minkum”(semoga Alloh menerima amalanku dan kalian semua) dan selainnya dari ucapan-ucapan yang baik maknanya. Akan tetapi beliau -rohimahulloh- mengatakan: “Aku tidak memulai untuk memberikan ucapan selamat kepada seorang pun. Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepadaku, maka aku akan membalasnya.” Beliau juga mengatakan: “Alangkah baiknya ucapan selamat itu, akan tetapi aku khawatir akan menjadi masyhur.” Yaitu beliau khawatir bahwa hal itu akan dikenal masyarakat awam sebagai ajaran agama.
Kesimpulannya, bahwa memulai ucapan selamat bukanlah bagian dari sunnah dan juga bukan perkara yang terlarang. Bagi siapa yang diucapkan kepadanya ucapan selamat tersebut, maka hendaknya membalasnya dengan baik. Wallohu a’lam. (lihat Al-Mughni: 2/399, karya Ibnu Qudamah; Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam: 24/203; Fathul Bariy karya Ibnu Rojab: 9/74)
Adapun berjabatan tangan setelah sholat ‘Idul Fithri, sebagaimana yang biasa dilakukan, maka pengkhususan hal itu tidak juga tsabit (shohih) dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Akan tetapi berjabat tangan ketika bertemu merupakan perkara yang dianjurkan di setiap waktu dan tempat, sebagaimana sabda Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:
ما من مسلمين يلتقيان في صافحان إلا غفر لهما قبل أن يتفرقا
“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu dan berjabatan tangan, melainkan keduanya akan diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” (HR. Tirmidziy dan selainnya, dishohihkan atau dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah: 525) (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain: hal. 296-300)
Demikian juga pengkhususan saling maaf-memaafkan di hari raya fithri, bukan termasuk sunnah. Akan tetapi jika ada kesalahan pada seseorang, hendaknya segera meminta maaf tanpa menunggu datangnya hari raya.

Hiburan dan permainan di hari ‘ied
Mengadakan acara permainan, perlombaan atau pertandingan serta hiburan-hiburan di hari raya merupakan perkara yang diperbolehkan oleh syariat dalam rangka menampakkan kebahagiaan dan suka cita di hari bahagia tersebut. Hal ini termasuk dalam kemudahan dan syi’ar agama kita selama tidak ada unsur-unsur kemaksiatan di dalamnya.
Adapun berkaitan dengan permainan atau perlombaan, maka dalam hadits Aisyah -rodhiyallohu ‘anha-:
وَكَانَ يَوْمَ عِيدٍ، يَلْعَبُ السُّودَانُ بِالدَّرَقِ وَالحِرَابِ، فَإِمَّا سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِمَّا قَالَ: تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَأَقَامَنِي وَرَاءَهُ، خَدِّي عَلَى خَدِّهِ، وَهُوَ يَقُولُ: دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ حَتَّى إِذَا مَلِلْتُ، قَالَ: حَسْبُكِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: فَاذْهَبِي
“Ketika hari raya, dua orang Sudan bermain dengan tombak kecil dan tameng. Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menanyaiku atau berkata kepadaku: “Kamu ingin melihatnya?” Kujawab: “Ya.” Maka beliau meletakkanku di belakangnya sambil berkata: “Bermainlah, wahai Bani Arfadah.” Ketika aku sudah merasa bosan, maka beliau berkata: “Sudah cukup?” Kujawab: “Ya.” Beliau berkata: “Pergilah.” (HR. Bukhoriy: 950)
Dalam riwayat Muslim dalam Shohihnya (892):
جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَضَعْتُ رَأْسِي عَلَى مَنْكِبِهِ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ، حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِم
“Orang-orang Habasyah bermain-main (dengan tombak dan tameng) di masjid pada hari raya. Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- memanggilku dan meletakkan kepalaku pada pundaknya. Maka aku mulai menonton permainan mereka sampai aku meninggalkan mereka.”
Dianjurkan untuk mengadakan permainan, pertandingan atau perlombaan yang sifatnya melatih ketrampilan dalam bela diri, menunjang kekuatan dan kegesitan tubuh, seperti: gulat, anggar, panahan, lomba lari, berenang dan sebagainya, karena hal-hal tersebut dapat menunjang jihad fii sabilillah. (lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawiy, no. 892; Fathul Bariy karya Ibnu Hajar: 2/445 dan Ibnu Rojab: 8/422) (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 302-303)
Adapun berkaitan dengan hiburan-hiburan di hari raya, maka diperbolehkan bagi para wanita untuk menabuh rebana Arab sambil melantunkan bait-bait syair. Dalam hadits ‘Aisyah -rodhiyallohu ‘anha-:
دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ، تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الْأَنْصَارُ، يَوْمَ بُعَاثَ، قَالَتْ: وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَبِمَزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَهَذَا عِيدُنَا
“Abu Bakar masuk ke tempatku dan di sisiku ada dua orang gadis dari Anshor sedang bernyanyi (melantunkan bait-bait syair) tentang apa yang terjadi pada perang Bu’ats. Mereka berdua bukanlah para penyanyi (biduwanita). Lalu Abu Bakar mengatakan: “Apakah seruling-seruling setan berada di rumah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-?! Ketika itu di hari raya. Maka Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- berkata: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan ini adalah hari raya kita.” Dalam sebuah riwayat: “Biarkanlah mereka, wahai Abu Bakar. Ini adalah hari raya.” (HR. Bukhoriy: 949, 952 dan Muslim: 892)
Dalam hadits ini, diperbolehkan bagi para wanita untuk menabuh rebana Arab (tak bergenta atau bergemerincing) sambil melantunkan bait-bait syair (anasyid), meskipun terdengar oleh laki-laki pada hari raya.
Perlu diperhatikan mengenai bait-bait yang dilantunkan, yaitu berisi tentang kisah kepahlawanan dan keberanian para pejuang dan yang semisalnya, juga berisi tentang keimanan, amal sholeh dan makna-makna syar’iy lainnya. Adapun bait-bait yang bersifat cengeng, memicu syahwat dan pornografi serta kemaksiatan, sebagaimana nyanyian-nyanyian masa kini yang marak di pasaran, maka hal ini tidaklah diperbolehkan.
Demikian pula alat-alat musik yang ada seperti: rebana yang bergemerincing, kendang, seruling, gitar, piano dan sebagainya, baik yang dipukul, diketuk, ditiup maupun digesek, maka ini termasuk yang dilarang dalam syariat menurut kesepakatan para ulama, kecuali pendapat yang ganjil. Nyanyian dan alat-alat musik tersebut dapat menggerakkan syahwat, merubah tabiat serta mengundang kemaksiatan dan fitnah lainnya, diharamkan bagi laki-laki dan perempuan. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
“Akan ada dari umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras dan alat-alat musik.” (HR. Bukhoriy: 5590 dari Abu ‘Amir Al-Asy’ariy -rodhiyallohu ‘anhu-)
Ketika nyanyian dan alat-alat musik tersebut pertama muncul setelah dikalahkannya Romawi dan Persia di zaman sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-, mereka (para sahabat) mengingkari dan melarangnya. Sampai-sampai Ibnu Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan: “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati, sebagaimana air menumbuhkan sayuran.” (lihat Fathul Bariy karya Ibnu Rojab: 8/426-435; Tahrim Alat Lahwi wat-Thorb, karya Syaikh Al-Albaniy -rohimahulloh-)
Hukum menabuh rebana bagi laki-laki tidak diperbolehkan dalam syariat sebagaimana alat-alat musik lainnya, karena hal ini termasuk perbuatan menyerupai wanita. Tidaklah yang menabuh rebana pada zaman Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- melainkan para wanita atau para banci dan syariat telah datang mengenai pembolehan hal tersebut untuk para wanita saja, karena kelemahan akal-akal mereka.
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال
“Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhoriy: 5885 dari Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma-)
Dalam hadits ‘Aisyah -rodhiyallohu ‘anha- di atas, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menyetujui penamaan Abu Bakar terhadap rebana sebagai seruling setan. Ini menunjukkan bahwa hal itu diharomkan secara umum, kecuali siapa yang dikhususkan oleh beliau, yaitu bagi wanita pada hari-hari bahagia. Demikian juga hal itu ditunjukkan oleh hadits Abu ‘Amir Al-Asy’ariy -rodhiyallohu ‘anhu-tersebut di atas, bahwa rebana termasuk alat musik yang diharamkan, selain yang dikecualikan. (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 305-308; Fathul ‘Allam: 2/212-214)

Beberapa kemungkaran di hari ‘ied

Ikhtilath laki-laki dan perempuan
Termasuk kemungkaran yang ada adalah ikhthilath (campur-baur) antara laki dan perempuan yang bukan mahromnya, baik di jalan-jalan, rumah-rumah serta tempat-tempat pertemuan lainnya. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
إياكم والدخول علىالنساء فقال رجل من الأنصار: يا رسول الله أفرأيت الحمو قال: الحمو الموت
“Janganlah kalian bercampur-baur dengan wanita (selain mahromnya)!” Seorang sahabat dari Anshor berkata: “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan hamwu (kerabat dari pihak suami selain mahromnya)?” Beliau -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menjawab: “Mereka itu (hamwu) adalah kematian atau kebinasaan!” (HR. Bukhoriy: 5232 dan Muslim: 2172)
Dalam hadits ini, Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- melarang untuk bercampur dengan kerabat wanita yang bukan mahromnya, seperti istri saudara laki-laki, saudara sepupu (anak perempuan paman atau bibi) dan sebagainya -terlebih lagi jika bukan kerabat- dan mengatakan bahwa bercampur-baur dengan mereka adalah kematian dan kebinasaan. Hal itu karena bercampurnya mereka tersebut lebih berbahaya daripada bercampur dengan wanita bukan kerabat dan lebih dekat untuk terjatuh pada kemaksiatan, karena orang-orang banyak bermudah-mudahan dan kurangnya perhatian serta pengingkaran dalam masalah ini, sehingga lebih kuat untuk menghantarkan kepada timbulnya fitnah. Berbeda dengan wanita asing (bukan kerabat), maka kecurigaan dan pengingkaran akan hal itu akan timbul lebih besar, sehingga kehati-hatian akan lebih ditingkatkan. (lihat Syarh Shohih Muslim: 2172, karya Imam An-Nawawiy -rohimahulloh-)

Jabat tangan antara laki-laki dengan perempuan lain
Demikian juga, termasuk kemungkaran yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin adalah berjabatan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya, baik ketika acara ziaroh (saling kunjung-mengunjungi) maupun pada pertemuan-pertemuan keluarga, sanak kerabat dan handai taulan. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
لأن يطعن في رأس رجل بمخيط من حديد خير من أن يمس امرأة لا تحل له
“Sungguh, lebih baik kepala seorang laki-laki itu ditusuk dengan jarum dari besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thobroniy, Baihaqiy dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah: 226)
Dalam hadits ini terdapat ancaman yang keras bagi siapa yang menyentuh perempuan yang tidak halal baginya (bukan mahromnya). Demikian juga, hal ini sebagai dalil diharamkannya berjabatan tangan dengan wanita, karena hal itu lebih dari sekedar menyentuhnya. (lihat Ash-Shohihah: 226, karya Syaikh Al-Albaniy -rohimahulloh-)
Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- sendiri tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita yang bukan mahromnya, baik dalam bai’at atau selainnya, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah -rodhiyallohu ‘anha-:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يبايع النساء بالكلام بهذه الآية (على أن لا يشركن بالله شيئا) قالت وما مست يده يد امرأة قط إلا امرأة يملكها
“Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- membai’at para wanita dengan ucapan, ketika turun ayat (maknanya): “Untuk tidak menyekutukan Alloh dengan suatu apapun…” (QS. Al-Mumtahanah: 12). Sama sekali tidaklah pernah tangan beliau menyentuh tangan perempuan (selain mahromnya), kecuali perempuan yang dimilikinya (baik mahrom maupun budak beliau).” (HR. Ahmad: 25198, Bukhoriy: 7214)

Isrof dan tabdzir
Berlebih-lebihan dan pemborosan (isrof dan tabdzir) dalam membelanjakan hartanya untuk penyediaan makanan, pakaian dan permainan pada hari-hari raya merupakan perkara yang diharamkan. Alloh -ta’ala- berfirman:
ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين
“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141; Al-A’raf: 31)
Sikap berlebih-lebihan yang dilarang dalam ayat ini mencakup berlebih-lebihan dalam makanan, pakaian, berinfaq dan sebagainya dari rezki yang diberikan Alloh kepada hamba-Nya, yaitu melebihi batas yang wajar dan kebiasaannya. Sikap berlebihan ini bisa jadi berupa tambahan yang melebihi kadarnya yang cukup dan ketamakan terhadap macam-macam makanan, sehingga dapat mengganggu kesehatan badan. Bisa juga berupa bermewah-mewahan dalam hal makanan, minuman dan pakaian dan bisa juga berupa melanggar perkara yang diharamkan oleh syariat berkaitan dengan hal tersebut.
Sikap berlebih-lebihan (isrof) ini dibenci oleh Alloh -ta’ala- dan dapat merugikan kesehatan dan penghidupan seorang hamba. (lihat tafsir As-Sa’diy pada ayat tersebut)
Jika seseorang membelanjakan hartanya ketika hari raya secara wajar dan tidak berlebih-lebihan, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu hukumnya mubah, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bahwa hari-hari raya itu adalah hari-hari makan, minum dan dzikir kepada Alloh -ta’ala-. (lihat As-Sunan wal Mubtadi’at, hal. 103, oleh Muhammad Asy-Syuqoiriy -rohimahulloh-)
Firman Alloh -ta’ala-:
ولا تبذر تبذيرا * إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين وكان الشيطان لربه كفورا
“Janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara para setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Robb-nya.” (QS. Al-Isro’: 26-27)
Hendaknya seorang muslim itu membelanjakan hartanya tanpa mengakibatkan dampak buruk bagi dirinya dan tidak melebihi dari kadar yang sewajarnya, karena hal itu termasuk tabdzir (pemborosan) yang dilarang oleh Alloh -ta’ala- dalam ayat tersebut. Alloh -ta’ala- menjadikan para pemboros (mubaddzirin) tersebut sebagai saudara-saudara setan lantaran setan itu tidaklah menyeru, kecuali kepada sifat-sifat yang buruk lagi tercela.Maka dia mengajak manusia untuk bersifat bakhil dan tamak.Jika tidak mangikutinya, maka dia ajak untuk bersifat lawannya, yaitu isrof dan tabdzir (berlebih-lebihan dan pemborosan). Adapun Alloh -ta’ala-, hanyalah memerintahkan untuk berbuat suatu yang paling adil (pertengahan) dan memuji hamba yang demikian itu sifatnya, sebagaimana dalam firman-Nya tentang sifat-sifat ‘ibadurrohman (hamba-hamba Ar-Rohman) yang baik:
والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما
“Orang-orang yang apabila membelanjakan harta, maka mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir. (Akan tetapi) pembelanjaan itu di tengah-tengah yang demikian (pertengahan).” (QS. Al-Furqon: 67)
Peringatan: Permainan petasan atau mercon dengan berbagai macamnya, selain merupakan pemborosan dalam membelanjakan harta, juga mendatangkan kerugian yang tidak kecil, diantaranya: dapat melukai dan membuat cacat anggota badan jika mengenainya. Berapa banyak penulis mendengar kasus jari-jari putus lantaran permainan ini. Demikian juga dapat membakar baju mereka dan selainnya dari barang-barang yang mudah terbakar; membuat kegaduhan di tengah-tengah masyarakat; mengganggu para pemakai jalan dengan suara yang mengagetkan; dapat menimbulkan pertengkaran dan permusuhan jika salah seorang dari mereka terkena petasan temannya atau pihak lain; menyia-nyiakan waktu dengan sesuatu yang kurang bermanfaat; merugikan perekonomian kaum muslimin dengan mengkonsumsi petasan tersebut dalam jumlah besar; sebaliknya, meningkatkan perekonomian kaum kafir, karena kebanyakan petasan tersebut adalah produk mereka dan lain sebagainya dari kerusakan dan kerugian yang dialami kaum muslimin dari permainan tersebut. Maka hendaknya bagi orang yang berakal sehat untuk meninggalkan model-model permainan seperti ini dan menggantinya dengan permainan lain yang lebih selamat dan bermanfaat. Wabilahit-taufiq. (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 310-314)

Pengkhususan ziarah kubur
Secara umum, ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan oleh syariat. Akan tetapi ziarah kubur secara khusus setelah sholat ‘ied termasuk kebid’ahan, tidak ada tuntunannya dalam syariat. Tujuan ziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan mendoakan untuk si mayit penghuni kubur, maka hal ini dilakukan sewaktu-waktu tanpa mengkhususkan atau mencari hari-hari atau waktu tertentu. (Lihat As-Sunan wal Mubtadi’at, hal. 102; Ahkamul Jana’iz, hal. 325, oleh Syaikh Al-Albaniy -rohimahumalloh-)
Inilah beberapa hal yang perlu disampaikan pada kesempatan kali ini berkaitan dengan amalan-amalan hari raya ‘Idul Fithri. Hal ini sebagai isyarat dari perkara-perkara lainnya di hari bahagia tersebut. Kita berdoa kepada Alloh semoga Dia memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kaum muslimin, sehingga mereka melakukan segala urusan, baik menyangkut perkara dunia maupun akherat di atas ilmu dan bashiroh. Dengan demikian, mereka dapat menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya dan terhindar dari segala yang mendatangkan kerugian bagi diri-diri, keluarga dan masyarakat kaum muslimin, dengan mengisi hari bahagia ini dengan sesuatu yang bermanfaat; menunjang ketakwaan dan keimanan serta menghindari perkara-perkara yang merusak hal tersebut, baik berupa kebid’ahan, kemaksiatan dan perbuatan sia-sia. Wal-hamdulillahi robbil ‘alamin.

Sumber penulisan risalah:
Taisir Al-Karimir-Rohman fii tafsir Kalamil-Mannan (Tafsir As-Sa’diy), karya Abdurrohman bin Nashir As-Sa’diy -rohimahulloh- (wafat 1376H), cet. Mu’assasah Ar-Risalah-Beirut, tahun 1420H.
Sholatul ‘Idain fil Musholla Hiya As-Sunnah, karya Syaikh Nashir Al-Albaniy –rohimahulloh-, cet. Maktabul Islamiy, tahun 1406H.
Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain Minal Kitab was-Sunnah wa Aqwalil Aimmah, oleh Syaikh Zayid bin Hasan Al-Wushobiy -hafidzohulloh-, cet. Maktabah ‘Ibadurrohman-Mesir, tahun 1428H.
Fathul ‘Allam fii Dirosah Ahadits Bulughil Marom -haditsiyan wa fiqhiyyan ma’a Ba’dhil Masa’il Al-Mulhaqoh-, oleh Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Al-Fadhiy -hafidzohulloh-, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah-Yaman, tahun 1432H.
Sholatul ‘Idain, terbitan Wizaroh Al-Auqof Saudi Arabia; naskah Maktabah Asy-Syamilah edisi 3,47.

BEBERAPA AMALAN DI HARI BAHAGIA IDUL FITHRI

Ditulis: Mushlih bin Syahid Abu Sholeh Al-Madiuniy -waffaqohulloh-

Sumber: www.ahlussunnah.web.id

Posting-posting Terkait

>>> Risalah: Idul Fithr
>>> Risalah: Zakat Fithri
>>> Berita 1 Syawwal 1433H
>>> Berita 1 Ramadhan 1433H
>>> Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani
>>> Kitabush-Shiyam (Fasting) Bulughul-Maram al-Asqalani oleh Ahmad Banajah
>>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani dan Syaikh 'Abdul-Ghani al-'Umari
>>> (Soal-Jawab) Permasalahan: Dakwah, Fitnah, & Hizbiyyah
>>> Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Zaid bin Hasan al-Wushabi dan Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani
>>> Kitabun Nikah Umdahtul Ahkam al-Imam Abdul Ghani al-Maqdisi

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2012/08/risalah-idul-fithr.html

> > > > > > > READ MORE

Risalah: Zakat Fithri

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد ألا إلهٰ إلاّ الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمّدًا عبده ورسوله
Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَات
“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri sebagai penyucian bagi yang berpuasa dari kesia-siaan dan kekejian, serta makanan bagi orang-orang miskin Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat (‘ied) maka ity adalah zakat yang diterima, barang siapa yang menunaikannya setelah sholat maka itu adalah termasuk shodaqoh.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, dihasankan Syaikh Al-Albany Rahimahulloh)
Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan:
فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى العَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالكَبِيرِ مِنَ المُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَة
“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sho’ kurma (kering) atau satu sho’ sya’ir (salah satu jenis gandum) bagi budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar dari kalangan muslimin. Beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar melakukan sholat” (HR Bukhory-Muslim)

BAGI SIAPA ZAKAT FITHRI DIWAJIBKAN?
Hadits Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu di atas menjelaskan bahwa kewajiban tersebut berlaku umum bagi setiap muslimin. Tentunya ini berlaku pada orang-orang yang hidup, adapun orang yang telah meninggal atau belum dipastikan hidupnya di dunia (yaitu janin dalam kandungan)[1] tidak terkena kewajiban ini.

SIAPAKAH YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITHRI?
Berdasarkan sebabnya, maka sedekah dan zakat di dalam syari’at Islam, ada yang terkait dengan amalan badan dan ada yang terkait dengan harta yang dimiliki seorang hamba. Adapun zakat fithri maka ia termasuk kepada golongan pertama berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu di atas, dimana Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tidak merinci hukum berdasarkan harta. Perbedaan ini perlu diketahui karena bolehnya pemberian kepada ashnaf (kelompok-kelompok) yang delapan -sebagaimana Alloh sebutkan dalam surat At-Taubah ayat 60[2]- adalah hukum yang berlaku bagi zakat harta. Ijma’ (sepakat) para ulama muslimin bahwa yang dimaksud dengan shodaqoh di ayat tersebut adalah zakat harta.
Syaikhul Islam Rahimahulloh mengatakan: “Hal ini apabila (terkait dengan) shodaqoh-shodaqoh harta bukan badan, dengan kesepakatan kaum muslimin” [Majmu’ul Fatawa 25/76]
Adapun zakat fithri, maka zakat ini dikhususkan bagi fakir miskin berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu di atas. Dengan demikian maka ‘amil (pengurus zakat) tidak boleh mengambilnya kecuali jika dia tergolong fakir miskin maka dia boleh mengambil, bukan karena dia ‘amil akan tetapi karena dia miskin. Hal ini sebagaimana kewajiban-kewajiban lain dalam syari’at yang mesti dikeluarkan seorang hamba, terkait amalan badan.
Syaikhul Islam Rahimahulloh mengatakan: “Sesungguhkan shodaqoh fithri sejalan (hukumnya) dengan kaffarroh sumpah, zhihar, pembunuhan serta berhubungan intim di bulan romadhon. Demikian juga  sejalan (hukumnya) dengan kaffarroh haji, karena penyebab semua itu adalah badan bukan harta” [Majmu’ul Fatawa 25/73]
Di atas kondisi inilah amalan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, para shohabat Rodhiyallohu ‘anhum, serta orang-orang setelah mereka.
Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan: “Dahulu diantara petunjuk beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah pengkhususan orang-orang miskin dengan shodaqoh (fithri) ini. Beliau tidak pernah membaginya kepada ashnaf yang delapan segenggam pun, dan beliau juga tidak pernah memerintahkan untuk itu. Tak seorang pun dari para shohabatnya yang melakukan hal demikian, tidak juga orang-orang yang setelah mereka” [Zaadul Ma’aad 2/12]

APAKAH ORANG MISKIN JUGA WAJIB MEMBAYAR ZAKAT FITHRI?
Berdasarkan hadits-hadits di atas dan penjelasan yang telah disebutkan, maka zakat ini tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskinnya seseorang. Keumuman hadits menuntut setiap jiwa terkena kewajiban untuk mengeluarkannya.
Akan tetapi dalam agama yang hanif tidak ada pembebanan syari’at di luar kemampuan hamba. Karena itu para ulama sepakat bahwa seseorang yang tidak memiliki apa-apa, tidak ada kewajiban baginya untuk mengeluarkan zakat fithri, sebagaimana dinukilkan Imam Ibnul Mundzir Rahimahulloh [Lihat Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 6/113]
Para ulama juga memasukkan ke hukum tersebut, orang-orang yang tidak memiliki kelebihan dari makanan pokok pada malam dan siang ‘ied untuk diri dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya. [Lihat Fathul ‘Allam 495 dan Ahkamu Zakatil Fithri 80]. Karena orang yang kelaparan di hari ‘ied akibat membayar zakat kondisinya seperti orang yang tidak memiliki apa-apa.

JENIS APA YANG DIKELUARKAN DENGAN ZAKAT FITHRI?
Terdapat hadits kunci dalam masalah ini:
كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ، عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ، وَكَبِيرٍ، حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ، صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ
“Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri –ketika itu Rosululloh Shollallou ‘Alaihi wa Sallam diantara kami- dari setiap anak kecil dan orang besar, merdeka ataupun budak, satu sho’ makanan, atau satu sho’ susu yang dikeringkan, atau satu sho’ sya’ir atau satu sho’ korma kering, atau satu sho’ kismis” (HR Bukhory-Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudry Rodhiyallohu ‘Anhu)
Pada hadits tersebut Abu Sa’id menyebutkan kata makanan secara umum, kemudian beliau menyebut perincian sebagai contoh yang mereka keluarkan, sehingga tidak ada pembatasan pada jenis tertentu. Hukum asal yang pengeluaran shodaqoh wajib adalah pada apa-apa yang biasa dikonsumsi oleh pemberi shodaqoh. Hal ini sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam masalah kaffaroh:
مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُم
“Dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu” (QS Al-Ma’idah 89)
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa zakat fithri termasuk ke dalam jenis ini karena keterkaitan pengeluarannya dengan amalan badan. Karena itulah Rosululloh tidak memberatkan shohabat untuk mengeluarkan zakat fithri dengan sesuatu yang tidak biasa mereka konsumsi di negeri tersebut. [Lihat Majmu’ul Fatawa 25/69] Dan ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Karena itulah zakat fithri boleh dikeluarkan dari jenis makanan pokok suatu negeri, wallohu a’lam.

BOLEHKAH DIGANTI DENGAN UANG?
Di zaman Rosululloh dan para shohabat mereka juga memiliki mata uang yaitu dinar (dari emas) dan dirham (dari perak), akan tetapi mereka tidak mengeluarkannya dengan kedua mata uang tersebut dalam berbagai keadaan. Hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut tidaklah disyari’atkan.
Oleh sebab itulah para ulama menegaskan tidak sahnya penunaian zakat fithri dengan uang. Mulai dari Imam Ahmad (Al-Mughny 4/43), Asy-Syafi’i (Al-Umm 2/72), Al-Khoththoby (Ma’alimus Sunan 2/44), Ibnu Hazm (Al-Muhalla 6/91), Al-Baihaqy (Sunan Kubro 4/189), An-Nawawy (Syarh Shohih Muslim 7/63), Malik dan Ibnul Mundzir (Al-Majmu’ 7/245) serta para ulama terdahulu yang lain, juga yang belakangan seperti Ibnu Baz (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz 14/208-211), Al-‘Utsaimin  (Majalis Syahri Romadhon 327), Al-Wadi’iy (Ijabatus Sa’il 125) Rahimahumullohu Ajma’in [Lihat  Al-Ghonimah 46-54]
Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan Hafizhohulloh mengatakan: “Tidak boleh berpaling dari apa yang diwajibkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, serta mengatakan bolehnya zakat fithri dengan nilainya karena ini adalah penyelisihan terhadap dalil-dalil. Lagi pula shodaqoh fitri termasuk shodaqoh yang ditampakkan, ditimbang dan dikeluarkan di depan orang, dan juga merupakan syi’ar dari syi’ar Islam. Seandainya yang dikeluarkan adalah uang maka sedekahnya tidak tampak, bahkan shodaqoh yang tersembunyi (karena tidak ada kesibukan-kesibukan yang muncul dari model ini, juga shodaqoh uang tak ada bedanya dengan shodaqoh biasa –pen), dengannya tidak tampak danya syi’ar –sampai perkataan beliau-
Maka berpaling kepada uang meluputkan hukum-hukum ini, bersamaan dengan itu semua, ini adalah ijtihad yang menyelisihi dalil. Sebagaimana dimaklumi apabila ijtihad menyelisihi dalil maka jangan menyimpang kepadanya” [Tashilul Ilmam 3/145-14]
Syaikhuna Yahya bin Al-Hajury Hafizhohulloh mengatakan: “Dirham-dirham pada zakat fithri tidak sah. Orang-orang tersbut telah membuat-buat perkara yang tidak merupakan bagian dari agama ini dan bukan perkara yang disyari’atkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Dirham dulu ada di zaman mereka dan mereka sangat butuh dengannya untuk memberi pakaian dan perkara-perkara yang mereka butuhkan. Bersamaan dengan itu mereka tidak pernah menunaikan zakat fithri dengan mata uang baik dari emas ataupun perak”. [Ittihaful Kirom 63]

BAHKAN KALAU PEMERINTAH MEWAJIBKANNYA DENGAN UANG? (Atau dengan sistem potong gaji)
Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh ditanya dengan pertanyaan seperti ini maka beliau menjawab: “Yang jelas bagiku, apabila seseorang dipaksa untuk mengeluarkan zakat fithri dengan dirham, maka dia mentaati mereka dan jangan memperlihatkan pembangkangan terhadap pemerintah. Adapun urusan antara dia dengan Alloh, maka dia keluarkan apa yang diperintahkan oleh Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berupa satu sho’ makanan. Karena pengharusan mereka (pemerintah) kepada masyarakat untuk mengeluarkan dirham (uang) adalah pengharusan dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Alloh dan rosul-Nya” [Majmu’ Fatawa Syaikh Al-‘Utsaimin 18/281]

SATU SHO’ SETARA DENGAN BERAPA?
Sebagaimana disebutkan bahwa banyak zakat yang diwajibkan adalah satu sho’[3], sementara Sho’ sendiri terdiri dari empat mudd. Keduanya merupakan takaran penduduk Madinah -yang turun temurun dari zaman nabi-[4]. Mudd sendiri pada asalnya adalah takaran dengan ukuran genggaman dua tangan orang dewasa yang berukuran sedang. Keduanya (Sho’ dan Mudd Nabawy) telah disebutkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, ketika beliau mendo’akan keberkahan pada makanan[5] penduduk Madinah:
أَنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لَهَا، وَحَرَّمْتُ المَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ، وَدَعَوْتُ لَهَا فِي مُدِّهَا وَصَاعِهَا مِثْلَ مَا دَعَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لِمَكَّة
“Sesungguhnya Ibrohim mengharamkan[6] Makkah dan berdo’a baginya. Sementara aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrohim mengharamkan Makkah. Serta aku mendo’akannya (Madinah) pada mudd dan sho’nya, sebagaimana Ibrohim mendo’akan Makkah” (Muttafaqun ‘Alaih dari ‘Abdulloh bin Zaid Rodhiyallohu ‘Anhu)
Sering terjadi perbedaan dalam menentukan kadarnya, diantara penyebabnya adalah penghitungannya dengan satuan berat. Perlu diketahui bahwa sho’ dan mudd adalah satuan ukuran volume (seperti gantang dsb), bukan satuan berat. Jadi penyetaraannya ke dalam bentuk liter lebih tepat dari pada penyetaraannya ke satuan kilogram. Satu sho’ air dengan satu sho’ madu tidak sama beratnya, karena perbedaan massa jenisnya.
Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh mengatakan: “Ukuran zakat fithri adalah dengan takaran. Sementara takaran berpatokan kepada volume bukan berat. Terkadang sesuatu seberat benda yang volumenya besar sementara ukurannya kecil, apabila benda tersebut bobotnya berat misalnya besi, sementara yang satunya bobotnya ringan. Karena itulah berat kurma kering tidak sama dengan berat gandum (dengan volume yang sama misalnya sama-sama satu liter –pent). Berat gandum tidak akan sama dengan berat beras. Demikian juga berat beras, satu sama lainnya (dengan jenis yang berbeda –pent) tidak mungkin akan sama” [Majmu’ Fatawa Syaikh Al-’Utsaimin 18/289]
Karena itulah ketika Syaikh ‘Utsaimin Rahimahulloh menetapkan beras 2,1 kg yang dikirimkan kepada beliau untuk ditakar, beliau mengatakan: Kami telah menakar beras yang dimasukkan ke dalam karung plastik yang beratnya mencapai 2100 gr, kami mendapatkannya dengan kadar satu sho’ nabawi … dipakai beratnya (yaitu 2,1 kg) sebagai ukuran apabila yang ada di dalam karung (untuk zakat fithri –pent) sama dengan beras tersebut dari sisi berat dan ringannya bobot (massa jenis –pent). Hal tersebut, karena sebagaimana dimaklumi bahwa beratnya bobot mengurangi volume suatu benda, demikian sebaliknya. Jika engkau mengambil satu kilo besi maka volumenya tidak seperti volume kayu, sementara takaran berpatokan kepada volume. Atas dasar ini maka apabila beras (yang mau dikeluarkan) bobot (massa jenisnya)nya lebih berat dari beras yang di karung ini maka wajib untuk menambah kadar beratnya sesuai pertambahan bobot” [Majmu’ Fatawa Syaikh Al-’Utsaimin 18/275]
Makanya berat beras (misalnya) yang ditetapkan ulama untuk pembayaran zakat fithri adalah sekedar pendekatan. “Kadar yang wajib pada zakat fithri bagi setiap pribadi adalah satu sho’ dengan sho’ nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Ukurannya dengan kilo lebih kurang tiga kilo (gram)”. [Fatwa Lajnah Da’imah 1 (9/371)]
Karena itulah, bagi siapa yang mendapatkan sho’ nabawiy atau mengetahui volumenya untuk menggunakannya sebagai acuan. Bagi yang tidak diberi kemudahan maka tidak mengapa memakai acuan yang ditetapkan Lajnah Ad-Da’imah, dan kelebihannya diniatkan sebagai shodaqoh wallohu a’lam.
Faidah: Alhamdulillah saya (penulis) telah menghitung takaran salah satu mudd (dengan memakai mudd milik Akh ‘Imaad Ar-Roimy Hafizhohulloh yang sanadnya sampai ke Zaid bin Tsabit Rodhiyallohu ‘Anhu) didapatkan ukurannya + 830 ml. Jadi satu sho’nya + 3320 ml. Wallohu a’lam

KAPAN WAKTU DIKELUARKANNYA ZAKAT FITHRI?
Hadits Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhum di awal pembahasan menunjukkan bahwa waktu berakhirnya sebelum ditunaikannya sholat ‘ied.
Ibnul Qoyyim Rahimahulloh mengatakan: “Tuntutan dari kedua hadits tersebut, bahwasanya keterlambatannya dari sholat ‘ied tidak dibolehkan, dan            kesempatan pembayaran hilang dengan selesainya sholat. Inilah pendapat yang benar karena tidak terdapat (dalil lain) yang menyelisihi kedua hadits ini, tidak juga ada dalil yang menghapus hukumnya, tidak ada juga terdapat ijma’ yang menolak pendapat dengannya” [Zaadul Ma’ad 2/21-22]
Adapun waktu pengeluarannya boleh 1-2 hari sebelum ‘ied berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu bahwasanya bahwasanya Rosululloh mewajibkan untuk membayar zakat untuk fithr (berbuka/selesai) dari romadhon. Sementara Ibnu ‘Umar menyerahkannya ke para pengumpul zakat. Di akhir hadits disebutkan:
وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْن
“Dahulu mereka (para pengumpul zakat tersebut) memberikannya (kepada penerima) sehari atau dua hari sebelum ‘iedul fithri” (HR Al-Bukhory)
Ibnu Qudamah Rahimahulloh mengatakan: “(Hadits) ini mengisyaratkan kepada perbuatan mereka semua, maka hal itu menjadi ijma’. Karena mendahulukannya (zakat fithri –pen) dengan kadar tersebut tidak membuat luputnya maksud. Sebab zakat tersebut atau sebagiannya bakal tersisa sampai hari ‘ied. Maka hal ini cukup untuk tidak berkeliling dan mencari-cari orang miskin pada hari tersebut. Juga karena shodaqoh fithri tersebut adalah zakat, maka boleh didahulukan (pembayarannya) sebelum adanya (syarat) wajib sebagaimana zakat harta, wallohu a’lam” [Al-Mughny 3/90]
Perlu sedikit catatan untuk perkataan Ibnu Qudamah Rahimahulloh yang terakhir dimana beliau mengatakan: “Juga karena shodaqoh fithri tersebut adalah zakat, maka boleh didahulukan (pembayarannya) sebelum adanya (syarat) wajib sebagaimana zakat harta, wallohu a’lam”
Boleh disini maksudnya: apabila telah terlebih dahulu ditemukan adanya sebab zakat, maka zakat boleh ditunaikan sebelum datang syarat yang mewajibkannya. Sebab adanya zakat harta adalah tercapainya nishob. Dikatakan sebab, karena jika seseorang hartanya sudah sampai senishob, tidak bisa langsung dihukumi terkena zakat. Bisa jadi kena bisa jadi tidak, tergantung kepada ada tidaknya syarat wajibnya. Adapun syarat wajib dikeluarkannya zakat harta adalah: jika harta yang mencapai nishob tersebut telah mencapai setahun ditangan pemiliknya.
Nah, apabila seseorang telah memiliki harta yang sampai senishob namun dia ingin membayar zakat sebelum sampai setahun, maka dibolehkan baginya untuk mengeluarkan zakat. Sebagaimana seseorang yang bersumpah untuk tidak masuk ke sebuah rumah namun dia akhirnya menyesal, maka boleh baginya membayar kaffaroh sumpah sebelum dia masuk ke rumah tersebut. Sebab kaffaroh adalah sumpahnya orang tersebut, sementara syarat wajibnya adalah apabila dia melanggar sumpah (yaitu masuk ke rumah). Dalam kondisi ini dia belum masuk ke rumah sementara boleh baginya untuk membayar kaffaroh.
Adapun jika sebabnya belum ada maka orang tersebut tidak bisa untuk membayar zakat atau kaffaroh, seperti orang yang hartanya belum sampai senishob tapi mau mengeluarkan zakat, atau seperti orang yang belum bersumpah tapi mau membayar kaffaroh?!!
Inilah penerapan kaidah yang masyhur di kalangan ulama:
إن تقديم الشيء على سببه ملغى، وتقديم الشيء على شرطه جائز
“Sesungguhnya pendahuluan sesuatu terhadap sebabnya maka perkara tersebut gugur, sementara pendahuluan sesuatu terhadap syarat wajibnya, maka perkara tersebut hukumnya boleh” [Lihat Asy-Syarhul Mumti’ 6/169, Al-Qowa’id wa Ushulul Jami’ah 82]
Karena itu pendahuluan pembayaran zakat fithri bulan romadhon tidak diperbolehkan karena sebab pengeluarannya belum ada yaitu tenggelamnya matahari akhir romadhon –sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang baru lewat-, sementara syarat wajibnya adalah memiliki kelebihan makanan pokok dari kebutuhan malam dan siang ‘ied –sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Adapun dibolehkannya penunaian sehari atau dua hari sebelum ‘ied, maka hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh: “Pembolehan ini merupakan rukhsoh (keringanan syari’at) karena para shohabat Rodhiyallohu ‘Anhum melakukan hal tersebut”. [Asy-Syarhul Mumti’ 6/169] Amalan shohabat yang masyhur dan tidak diketahui ada diantara mereka yang menyelisihi maka hal tersebut adalah hujjah.
Dari kisah pengumpul zakat di hadits Ibnu ‘Umar tersebut diambil juga faidah bahwa boleh bagi seseorang untuk menyerahkan atau mewakilkan zakat fithri sebelum waktunya kepada orang yang akan membagikan kepada fakir miskin dengan syarat diketahui bahwa mereka akan membagikannya pada waktunya. [Ahkamu Zakatil Fithri 79]
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلاّ أنت أستغفرك وأتوب إليك

Kitab-kitab terkait dengan pembahasan:
Al-Mughny karya Ibnu Qudamah Rahimahulloh, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab karya Imam An-Nawawy Rahimahulloh, 
Majmu’ul Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh, Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rahimahulloh,  
Majmu’ul Fatawa Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh,
Asy-Syarhul Mumti’ karya Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahulloh,  
Al-Qowa’id wa Ushulul Jami’ah karya Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Sa’dy Rahimahulloh, 
Fathul ‘Allam karya Syaikhuna Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Hafizhohulloh
Ahkamu Zakatil Fithri karya Syaikhuna Zayid Al-Wushoby Hafizhohulloh
Al-Ghonimah karya Mu’adz Za’im Hafizhohulloh
Maa Ikhtalafa fihi Al-Hukmu bil Qillah wal Katsroh wal ‘Ibaaroh karya DR Bu Bakr Bah Waffaqohulloh

[1] Ibnu Hazm Rahimahulloh berpendapat akan wajibnya demikian juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad, apabila usia kandungan lebih dari 120 hari. Namun hukum-hukum dunia baru terkait dengan janin ketika dia keluar dalam kondisi hidup kecuali wasiat dan warisan. Secara bahasa dan adat, janin juga tidak dinamakan anak-anak.
[2] Yaitu firman Alloh Ta’ala:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيم [التوبة: 60]
[3] Kecuali burr (salah satu jenis gandum) Terdapat hadits-hadits dalam masalah ini yang tak lepas dari cacat namun secara keseluruhan terangkat ke derajat shohih. Pendapat ini sah dari Kholifah yang empat (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali) juga Ibnu Mas’ud, Jabir, Abu Hurairoh, Ibnu Az-Zubair, Mu’awiyah, Asma’ Rodhiyallohu ‘Anhum. Ini juga yang dirojihkan Saikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Syaikh Al-Albany, dan Syaikhuna Muhammad Hizam (lihat Fathul ‘Allam 2/499-501)
[4] Dijaga dengan sistem pemberian ijazah terhadap takaran tiruan yang sudah distandarkan dengan takaran yang ada.
[5] Lihat: Subulus Salam, Syarh Shohih Al-Bukhory – Ibnu Baththol, ‘Umdatul Qori’ dll
[6] Tidak boleh memburu buruannya, tidak boleh memotong pohonnya dll

ZAKAT FITHRI

Ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Harits Al-Minangkabawy Saddadahulloh
Darul Hadits Dammaj, Kamis 14 Romadhon 1433

Sumber: www.ahlussunnah.web.id

Posting-posting Terkait

>>> Risalah: Zakat Fithri
>>> Risalah: Idul Fithri
>>> Berita 1 Syawwal 1433H
>>> Berita 1 Ramadhan 1433H
>>> Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani
>>> Kitabush-Shiyam (Fasting) Bulughul-Maram al-Asqalani oleh Ahmad Banajah
>>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani dan Syaikh 'Abdul-Ghani al-'Umari
>>> (Soal-Jawab) Permasalahan: Dakwah, Fitnah, & Hizbiyyah
>>> Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Zaid bin Hasan al-Wushabi dan Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2012/08/risalah-zakat-fithri.html

> > > > > > > READ MORE