Larangan untuk Merayakan Hari Raya Orang Kafir dan Perayaan yang Tidak Dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Perayaan Tahun Baru Hijriah dan Masehi, Hari atau Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, Hari Ulang Tahun dll.

بسم الله الرحمن الرحيم

Larangan untuk Merayakan Hari Raya Orang Kafir dan Perayaan yang Tidak Dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Perayaan Tahun Baru Hijriah dan Masehi, Hari atau Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, Hari Ulang Tahun dll.
*****
Mengadakan Perayaan-perayaan

Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor (1002 )

Pertanyaan 1: Apa hukum perayaan-perayaan yang dilakukan oleh kaum Muslimin dalam rangka pernikahan, pindah rumah, hari ulang tahun, dan perayaan kebahagiaan lainnya? Dalam acara itu dibacakan ayat-ayat Alquran dan nasyid-nasyid pujian untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ditutup dengan ritual berdiri untuk menghormati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?
Jawaban 1: Pertama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang pernikahan secara rahasia (diam-diam) dan memerintahkan untuk mengumumkan acara pernikahan. Resepsi dan tasyakur pindah ke rumah suami termasuk bentuk mengumumkan pernikahan. Dengan demikian, ini dianjurkan oleh agama. Kecuali, jika dalam acara tersebut terdapat nyanyian yang tidak baik, bercampurnya laki-laki dan perempuan, atau perbuatan haram lainnya.


Kedua, hari raya dalam Islam ada tiga: Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Jumat. Adapun hari ulang tahun dan perayaan kebahagiaan lainnya seperti tahun baru hijriah dan masehi, hari atau malam Nisfu Sya’ban, maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan pelantikan raja atau presiden, belum pernah dilakukan di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Khulafaur Rasyidin, atau pun pada tiga abad yang dinyatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai masa terbaik. Sehingga, ini termasuk perbuatan bidah yang diada-adakan. Perbuatan ini dicontoh umat Islam dari umat lain. Mereka terkecoh dengannya dan merayakannya sama seperti hari raya Islam, bahkan lebih. Terkadang dalam sebagian perayaan ini terdapat pengkultusan terhadap seorang tokoh, pemborosan, bercampur antara laki-laki dan perempuan, dan menyerupai kebiasaan orang kafir dalam perayaan yang mereka anggap sebagai hari raya. Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam telah bersabda, " Waspadalah terhadap perbuatan yang diada-adakan (dalam agama) , karena setiap perbuatan yang diada-adakan adalah bid`ah, dan setiap bid'ah adalah sesat." Beliau juga bersabda, "Orang yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan berasal darinya, maka hal itu tertolak." Hukum keharaman ini lebih jelas berlaku pada perayaan yang diadakan untuk mengagungkan seseorang, untuk mendapatkan keberkahan darinya, dan mengharap pahala dengan melakukan ritual berdiri yang dilakukan di dalamnya, seperti perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maulid Husain, maulid al-Badawi, dan lainnya. Begitu pula, penghormatan terhadap hari atau malam tertentu dengan mengharapkan pahala atau keberkahan dari perayaannya, seperti perayaan malam atau hari Nisfu Sya’ban, malam Isra` dan Mi’raj, dan semisalnya. Sebab, melakukan perayaan-perayaan tersebut dan lainnya yang sejenis, merupakan bentuk dari pendekatan, peribadatan, dan pengharapan pahala. Adapun perayaan yang tidak dimaksudkan untuk meminta keberkahan dan pahala seperti perayaan hari ulang tahun anak, awal tahun hijriah dan masehi, dan pelantikan pemimpin, maka meskipun ini hanya termasuk bidah dalam tradisi (bukan ibadah), namun mengandung sikap penyerupaan dengan orang-orang kafir dalam perayaaan mereka. Ini juga menjadi sarana untuk perayaan-perayaan haram lainnya, yang mengandung makna penghormatan dan peribadatan kepada selain Allah. Oleh karena itu, semua perayaan itu dilarang untuk menutup pintu keharaman, dan menjauhkan dari sikap menyerupai orang-orang kafir dalam berbagai kebiasaan dan perayaan mereka. Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam telah bersabda, "Orang yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." 

Ketiga, membaca Alquran termasuk ibadah dan amal saleh yang paling baik. Meskipun demikian, menjadikannya sebagai penutup perayaan-perayaan bidah adalah tidak boleh, karena merupakan penghinaan atas Alquran yang tidak diposisikan pada kondisi yang sesuai. Adapun mendendangkan nasyid-nasyid (syair-syair tanpa musik, adm.) yang berisi pujian kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perbuatan baik, kecuali jika berisi pujian yang berlebihan terhadap beliau, maka tidak boleh. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam, "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang Nasrani memuji putra Maryam. Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: "Hamba Allah dan Rasul Allah". ، Beliau juga bersabda, "Waspadalah kalian terhadap sikap berlebih-lebihan dalam beragama, karena itu telah membinasakan umat sebelum kalian."Begitu pula, tidak boleh mengkhususkan hari tertentu untuk dijadikan sebagai hari perayaan.

Keempat, mengakhiri perayaan dengan cara berdiri guna menghormati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan tindakan buruk yang tidak diridai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta tidak diakui oleh syariat. Bahkan, perbuatan itu termasuk perbuatan bidah yang diharamkan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
AnggotaAnggotaWakil Ketua KomiteKetua
Abdullah bin Mani` Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq `Afifi Ibrahim bin Muhammad Ali asy Syaikh

*****

> > > > > > > READ MORE

Syaikh al-Utsaimin - Hukum Haramnya Memberi Ucapan Selamat Natal (dan Ucapan Selamat Serupa Lainnya pada Hari Raya Keagamaan Non-Muslim)

بسم الله الرحمن الرحيم
التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق

"Memberi Ucapan Selamat atas Hari Raya Keagamaan Orang-orang Kafir maka (Hukumnya) Haram Menurut Kesepakatan (Para Ulama)"
(Seperti “Selamat Hari Natal”, “Selamat Hari Raya Nyepi”, “Selamat Hari Raya Waisak”, “Selamat Hari Raya Imlek” dll.)

Allamah al-Faqih az-Zaman
Asy-Syaikh Abu Abdillah
Muhammad bin Shalih al-Utsamin
-rahimahullahu-
w. 1421H/2001M

Berkata Syaikh –rahimahullahu-:
… Berkata Ibnul Qayyim –rahimahullahu- (691H-751H) di kitab أحكام أهل الذمة :
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق
Dan adapun mengucapkan selamat atas hari raya keagamaan orang-orang kafir maka (hukumnya) haram menurut kesepakatan (para ulama).

Seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka dan puasa mereka dengan memberi ucapan: ‘Hari raya yang diberkahi untukmu’ atau memberi ucapan selamat atas hari raya ini atau semisalnya, maka dalam hal ini Ibnul Qayyim berkata bahwa ucapan ini bisa saja selamat dari kekufuran akan tetapi ini adalah termasuk perkara yang diharamkan. Karena kedudukannya serupa dengan memberikan ucapan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan perkara itu (memberi ucapan selamat atas kekufuran mereka) lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberi ucapan selamat atas mereka yang meminum khamr, membunuh jiwa, melakukan tindakan asusila yang diharamkan dan semisalnya.
Dan Ibnul Qayyim berkata bahwa banyak di antara manusia yang tidak menghormati agamanya yang terjerumus dalam perkara itu, mereka tidak menyadari kejelekan dari apa yang dilakukannya.
Maka barangsiapa yang memberi ucapan selamat atas seorang hamba yang melakukan kemaksiatan, kebid’ah dan kekufuran, maka sungguh dia akan menghadapi kebencian dan kemurkaan Allah.
Akhir ucapan beliau –rahimahullahu-.


قال بن القيم رحمه الله في كتابه أحكام أهل الذمة قال وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن نهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا يقول ابن القيم فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من الحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك اعظم إثما عند الله واشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب يعني انتهاك الفرج المحرم ونحوه قال وكثير يقوله ابن القيم وكثير ممن لا قدر للدين عندهم يقع في ذلك ولا يدرى قبح ما فعل فمن هنأ عبداً بمعصية أو بدعه أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه انتهي كلامه رحمه الله."

Sumber

Simak penjelasan lengkap beserta dalil-dalinya di sini www.ibnothaimeen.com

Video Lainnya



http://youtu.be/jDdbwJea1Z0
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru (Juga Perayaan-perayaan Orang Kafir Lainnya)



http://youtu.be/44i4LpCzD2U
>>> Syaikh Muqbil - Maulidan termasuk Bid'ah



http://youtu.be/4noBEL771ao
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan untuk Mengadakan Maulidan

Posting-posting Terkait

>>> Syaikh al-Utsaimin - Hukum Haramnya Memberi Ucapan Selamat Natal (dan Ucapan Selamat Serupa Lainnya pada Hari Raya Keagamaan Non-Muslim)
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru (Juga Perayaan-perayaan Orang Kafir Lainnya)
>>> Larangan untuk Merayakan Hari Raya Orang Kafir dan Perayaan yang Tidak Dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Perayaan Tahun Baru Hijriah dan Masehi, Hari atau Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, Hari Ulang Tahun dll.

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/12/syaikh-al-utsaimin-hukum-haramnya.html

> > > > > > > READ MORE

Syaikh Bin Baaz - Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru

بسم الله الرحمن الرحيم

"Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru"
(Juga Perayaan-perayaan Orang Kafir Lainnya)

Al-Imam al-Allamah asy-Syaikh
'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baaz
-rahimahullahu-
w. 1420H/1999M



http://youtu.be/jDdbwJea1Z0


Soal:
Saudara kita berkata:
Dia memperhatikan bahwa sebagian kaum Muslimin ikut berpartisipasi bersama المسيحيين (kaum Nashara/Kristen/Katolik) pada perayaan kelahiran atau 'Natalan/Christmas' -seperti yang mereka sebut-, dan dia mengharapkan petunjuk (التوجيه).

Jawab:
Tidak boleh (dilarang) bagi Muslimin dan Muslimah untuk ikut berpartisipasi bersama kaum Nashara, Yahudi, atau kaum kafir lainnya dalam acara perayaan-perayaan mereka (أعيادهم). Bahkan wajib meninggalkannya.

Ini karena (Rasulullah bersabda):

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka."
(HR. Abu Dawud, al-Libas. Al-Albani berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih)

Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah memperingatkan kita terhadap meniru/menyerupai mereka dan menghiasi diri kita dengan akhlaq/tingkah laku mereka.
Maka wajib bagi setiap mukmin dan mukminah untuk waspada dari hal itu, dan tidak boleh membantu untuk merayakan perayaan-perayaan orang-orang kafir tersebut dengan sesuatu apapun, karena itu merupakan perayaan yang menyelisihi syari’at Allah dan dirayakan oleh para musuh Allah.
Jadi tidak boleh (dilarang) untuk berpartisipasi di dalamnya atau bekerja sama dengan orang-orangnya atau untuk membantu mereka dengan apa pun, tidak dengan (memberi mereka) teh, kopi, atau apa pun sama sekali, seperti peralatan, dan sejenisnya.

Dan juga Allah سبحانه berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”
[Al-Ma`idah: 2]

Jadi ikut berpartisipasi bersama orang-orang kafir dalam perayaan-perayaan mereka adalah termasuk jenis membantu mereka dalam dosa dan permusuhan. Maka yang wajib bagi setiap muslimin dan muslimah untuk meninggalkan hal itu.
Dan tidak pantas bagi orang yang memiliki aqal (kecerdasan) tertipu oleh orang-orang lain dalam tindakan mereka.
Yang wajib atasnya untuk mempertimbangkan dengan syariat Islam dan apa yang telah dibawanya. Dan mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan tidak menimbangnya dengan aturan manusia. Karena mayoritas manusia (makhluq) tidak memiliki kepedulian terhadap syariat Allah.

Sebagaimana firman Allah عز وجل di dalam kitab-Nya yang agung:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ

“Kalau engkau mentaati mayoritas manusia yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
[Al-An’am: 116]

Dia سبحانه berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Mayoritas manusia tidaklah beriman walaupun engkau sangat bersemangat (untuk menyampaikan penjelasan).”
[Yusuf: 103]

Maka segala perayaan (العوائد) yang bertentangan dengan syari’at Allah tidak boleh (dilarang) dirayakan meskipun banyak manusia yang merayakannya.
Dan seorang mukmin menimbang segala ucapan dan perbuatannya, juga menimbang segala perbuatan dan ucapan manusia, dengan timbangan al-Kitab (al-Qur`an) dan as-Sunnah, Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah عليه الصلاة والسلام.
Maka apa yang sesuai dengan keduanya (al-Qur`an dan as-Sunnah) atau salah satu dari keduanya, maka diterima (المقبول) meskipun manusia meninggalkannya.
Dan apa yang bertentangan dengan keduanya (al-Qur'an dan as-Sunnah) atau salah satu dari keduanya, maka ditolak (المردود) meskipun manusia melakukannya.

رزق الله الجميع للتوفيق والهداية
"Semoga Allah merezekikan taufiq dan hidayah untuk semuanya."
جزاكم الله خيراً
"Semoga Allah menambah kebaikan untuk kalian."

Sumber

http://www.binbaz.org.sa/mat/20019

Video Lainnya



http://youtu.be/44i4LpCzD2U
>>> Syaikh Muqbil - Maulidan termasuk Bid'ah



http://youtu.be/4noBEL771ao
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan untuk Mengadakan Maulidan


Syaikh Yahya al-Hajuri - Bantahan Istimewa kepada Para Pemuja Acara Maulidan [Audio]
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Bantahan Istimewa kepada Para Pemuja Acara Maulidan

Posting-posting Terkait

>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru (Juga Perayaan-perayaan Orang Kafir Lainnya)
>>> Syaikh al-Utsaimin - Hukum Haramnya Memberi Ucapan Selamat Natal (dan Ucapan Selamat Serupa Lainnya pada Hari Raya Keagamaan Non-Muslim)
>>> Larangan untuk Merayakan Hari Raya Orang Kafir dan Perayaan yang Tidak Dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Perayaan Tahun Baru Hijriah dan Masehi, Hari atau Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, Hari Ulang Tahun dll.
>>> Syaikh bin Baaz: Larangan Mengobati Sihir dengan Sihir
>>> Syaikh Shalih al-Fauzan - Hadiah bagi para pencela Syaikh Yahya al-Hajuri
>>> Syaikh Rabi': Syaikh Yahya adalah Salafi dan Termasuk Salafiyin yang Kokoh
>>> Syaikh Rabi': "...Kirimkan mereka ke Dammaj untuk belajar ilmu dan sunnah..."
>>> Penelponan Syaikh Rabi' dan Syaikh Yahya -New Release-
>>> Nasihat dalam Menghadapi Fitnah Luqman Ba’abduh si Hizbi Hina
>>> Selesainya Pertikaian antara Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya Selama-lamanya
>>> Mengenal Darul Hadits Dammaj Yamanدار الحديث بدماج - حرسها الله -Markiz Masyaikh & Penuntut Ilmu-
>>> Mengenal Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri الشيخ العلامة يحيى بن علي الحجوري - حفظه الله
>>> Mauqif Syaikh Rabi' kepada Syaikh Yahya
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Yusuf al-Qardhawi adalah Seorang Munafiq

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2012/12/syaikh-bin-baaz-larangan-ikut.html

> > > > > > > READ MORE

Syaikh Bin Baaz - Larangan untuk Mengadakan Maulidan

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Imam al-Allamah asy-Syaikh
'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baaz
-rahimahullahu-
w. 1420H/1999M
الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز

الموالد بدعة
Maulidan itu bid'ah.





http://youtu.be/rLOHpAk9wEw
Syaikh Bin Baaz - Larangan untuk Mengadakan Maulidan [Video]



http://youtu.be/4noBEL771ao
Syaikh Bin Baaz - Seandainya Rasulullah Maulidan maka Kita Maulidan [Video]


"Larangan
untuk
Mengadakan
Acara Maulidan"

Soal:

Di tempat kami ada kuburan seorang Syaikh,
dan orang-orang mengadakan acara maulidan
(مولداً) untuknya setiap tahun, dan mengumpulkan
sebagian harta dari warga setempat dan saya
termasuk dari orang yang (ditugaskan) mengambil
harta dari mereka, dan saya tidak merasa yakin, ...
dan ketika menawari (tugas) mereka berkata
kepada saya: Bahwa ini tidak haram, kita membeli
hewan qurban (ذبائح) dengan harta ini untuk
orang-orang yang akan menghadiri acara
maulidan dari negeri setempat dan selainnya.
Maka apa hukumnya?
بارك الله فيكم.

Jawab:

هذا بدعة ومنكر
Ini bid'ah dan mungkar.

لا يجوز اتخاذ الموالد
Tidak diperbolehkan mengadakan
acara maulidan.

Tidak untuk ahli ilmu,
dan tidak untuk Syaikh qabilah (suku),
dan tidak untuk pemuka negeri,
dan tidak untuk selain mereka.

الموالد بدعة
Maulidan itu bid'ah.

Dan demikian (mengadakan) perayaan maulid
untuk nabi, untuk para shahabat utama -الصلاة
والسلام-,

ليس له أصل
(Maulidan ini) tidak ada dasarnya.

Dan demikian (mengadakan) perayaan maulid
para nabi atau orang-orang shalih atau para
ulama,

كله لا أصل له
Semua (maulidan ini) tidak ada dasarnya.

Dulu Nabi -صلى الله عليه وسلم- di antara para
shahabatnya di Madinah selama sepuluh tahun
tidak merayakan maulidnya -صلى الله عليه وسلم-,
tidak memerintahkan yang seperti itu, dan para
shahabatnya -رضي الله عنهم وأرضاهم- tidak

melakukannya.

Dan demikian para khulafaur rasyidun: (Abu
Bakar) ash-Shidiq, Umar (bin Khattab), Utsman
(bin Affan), dan Ali (bin Abi Thalib), mereka
tidak merayakannya.
Dan demikian para shahabat lainnya, mereka
tidak merayakannya.

Dan demikian pada qurun setelah mereka,
pada qurun terbaik, qurun pertama, kedua
dan ketiga, mereka tidak merayakan
yang seperti itu.

Maka yang seharusnya bagi kaum Muslimin
untuk menyambutnya (untuk tidak maulidan),
Dan sesungguhnya yang penting adalah
mereka menjaga ketaatan kepadanya -صلى الله
عليه وسلم- dan mengikuti syariatnya,
(mematuhi) perintah dan (menjauhi) larangannya,
bersegera kepada apa yang diperintahkannya,
dan meninggalkan apa yang dilarang atasnya
-عليه الصلاة والسلام-.

Dan adapun para Syaikh dan para ulama,
menjadi pintu pertama yang tidak
memperbolehkan maulidan bagi mereka.

Maka (tentang) kuburan ini yang berada di
tempat kalian, jangan merayakan untuk
pemiliknya, tidak berupa maulidan atau
yang selainnya.

Akan tetapi jika dia (yang dikubur) seorang
yang baik, berdoalah untuknya agar diampuni,
jika dia seorang Muslim, berdoalah untuknya
dengan ampunan dan rahmat.

Dan jika berziarah ke kuburannya dengan
ziarah yang sesuai syariat, dan berdoa
untuknya. Ucapkanlah: "السلام عليك يا فلان
غفر الله لك ورحمنا وإياك ويكفي" (Salam atasmu
ya fulan, semoga Allah memberi ampunan
untukmu, dan memberi rahmat bagi kami
dan kamu, dan kecukupan).

Adapun untuk berdoa kepada selain Allah,
meminta pertolongan kepadanya, atau
meminta berkah dengan kuburannya, atau
berthawaf kepadanya, ini adalah
kemungkaran yang besar (هذا منكر عظيم).
Jangan berthawaf kepada kuburannya,
dan jangan berdoa kepada selain Allah.

Jangan berkata, "Ya Sayidi Fulan bantulah
saya", atau "Saya dalam hisabmu atau
perlindunganmu", atau "Sembuhkan saya
atau sembuhkan sakitku". Semua ini
kemungkaran, tidak diperbolehkan,
bahkan ini termasuk kesyirikan yang
diharamkan.

Dan demikian, jangan berthawaf kepada
kuburan, dan jangan meminta berkah
dengan tanah, dan jangan dengan batu
berhala. Semua ini termasuk kemungkaran
yang besar, dan termasuk bertabaruk
yang mungkar. Meminta barakah dari
kuburan adalah syirik akbar.
نسأل الله العافية.

Maka yang wajib bagi warga setempat
agar mereka tidak menghadiri apa yang
diharamkan Allah kepadanya dan
menyambut perayaan ini.

Dan bahwa mereka jangan mengambil
harta-harta manusia dengan kebatilan.
Dan bahwa mereka jangan berdoa
kepada si mayit ini, karena jika si mayit
seorang Muslim, maka berdoalah
untuknya dengan ampunan, rahmat
dan kecukupan.
والحمد لله.

Keterangan:

Maulidan, Maulid Nabi
=
Rangkain Acara Peringatan Hari Lahir
Nabi Muhammad -صلى الله عليه وسلم-.
(Hari ulang tahun kelahiran, birthday)



"Seandainya Rasulullah Maulidan maka Kita Maulidan"

Merayakan maulid
bukanlah cara yang tepat
untuk menunjukkan kecintaaan kita
kepada Rasulullah
-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.

Dan pada kenyataannya
Ahlus Sunnah lebih mencintai Rasulullah
daripada ayah-ayah dan ibu-ibu mereka
dan daripada diri mereka sendiri.

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ
مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
Tidaklah (sempurna) iman
salah seorang di antara kalian
sehingga aku lebih dicintainya
daripada orangtuanya, anaknya
dan segenap umat manusia.
(HR. Bukhari)

Dan ketika Umar bin Khattab
berkata kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih
aku cintai dari segala sesuatu
kecuali diriku sendiri.”
Maka Nabi bersabda,
“Tidak, demi Allah yang jiwaku
berada di tanganNya,
(tidak benar) sampai aku lebih engkau
cintai daripada dirimu sendiri.”
Kemudian Umar bin Khattab berkata,
“Wahai Rasulullah,
sekarang engkau lebih aku cintai
daripada diriku sendiri.”
Nabi bersabda,
“Sekarang (engkau benar) wahai Umar.”
(HR. Bukhari)

Ahlus Sunnah beriman
bahwasanya Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-
lebih mereka cintai
daripada segala sesuatu
setelah (kecintaan kepada) Allah.

Yang paling dicintai
oleh Ahlus Sunnah adalah Allah
kemudian Rasulullah
-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-
manusia termulia dari kalangan mereka.

Kemudian nabi-nabi lain
yang kedudukannya
setelah Nabi kita
-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.
Dan kita mengikuti
jalan mereka (Ahlus Sunnah).

(Kemudian beliau -rahimahullahu-
dengan tersedu sedan menangis
sambil menerangkan...)

Allah yang menjadi saksi.

Allah yang menjadi saksi.
Bahwasanya Rasulullah adalah
orang yang paling kami cintai
setelah (kecintaan kepada) Allah,
daripada diri kami sendiri,
daripada harta-harta kami,
anak-anak kami dan segalanya.

Demi Allah!
Seandainya Rasulullah mengajarkan
untuk merayakan maulid ini,
tentu kami akan merayakannya.

Akan tetapi
beliau tidak mengajarkannya,
tidak juga dari kalangan sahabat
yang pernah merayakan maulid.



Sumber
http://www.binbaz.org.sa

Posting-posting Terkait

>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan untuk Mengadakan Maulidan
>>> Syaikh Muqbil - Maulidan termasuk Bid'ah
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Bantahan Istimewa kepada Para Pemuja Acara Maulidan
>>> Larangan untuk Merayakan Hari Raya Orang Kafir dan Perayaan yang Tidak Dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Perayaan Tahun Baru Hijriah dan Masehi, Hari atau Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, Hari Ulang Tahun dll.
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Allah Tidak Menanyaimu Si Fulan Hizbi?
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Yusuf al-Qardhawi adalah Seorang Munafiq
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru (Juga Perayaan-perayaan Orang Kafir Lainnya)
>>> Syaikh bin Baaz: Larangan Mengobati Sihir dengan Sihir
>>> Syaikh Shalih al-Fauzan - Hadiah bagi para pencela Syaikh Yahya al-Hajuri
>>> Syaikh Rabi': Syaikh Yahya adalah Salafi dan Termasuk Salafiyin yang Kokoh
>>> Syaikh Rabi': "...Kirimkan mereka ke Dammaj untuk belajar ilmu dan sunnah..."
>>> Penelponan Syaikh Rabi' dan Syaikh Yahya -New Release-
>>> Nasihat dalam Menghadapi Fitnah Luqman Ba’abduh si Hizbi Hina
>>> Selesainya Pertikaian antara Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya Selama-lamanya
>>> Mengenal Darul Hadits Dammaj Yamanدار الحديث بدماج - حرسها الله -Markiz Masyaikh & Penuntut Ilmu-
>>> Mengenal Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri الشيخ العلامة يحيى بن علي الحجوري - حفظه الله

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2013/02/syaikh-bin-baaz-larangan-untuk.html

> > > > > > > READ MORE

Syaikh Muqbil - Maulidan termasuk Bid'ah

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Imam al-Allamah al-Muhaddits
Asy-Syaikh Abu Abdirrahman
Muqbil bin Hadi al-Wadi'i
-rahimahullahu-
w. 1422H/2001M

فالإحتفال بالمولد يعتبر بدعة

Perayaan maulid termasuk bid'ah





http://youtu.be/44i4LpCzD2U
Syaikh Muqbil - Maulidan termasuk Bid'ah [Video]


Darul Hadits Dammaj Yaman

Perayaan Maulid (Maulidan)
termasuk Bid'ah

Soal:

Apa hukum perayaan-perayaan ini yang
dilakukan oleh mayoritas manusia dan
kemungkarannya, salah satunya seperti
maulidan?

Jawab:

الحمد لله
وصلى الله على نبينا محمد
وعلى آله وصحبه ومن والاه
وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له
وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
أما بعد

فالإحتفال بالمولد يعتبر بدعة

Perayaan maulid termasuk bid'ah,

tidak datang hadits dan tidak pula ayat
di dalam kitabullah mengijinkan kita
atau menganjurkan kita untuk
merayakan maulid Rasulullah
-صلى الله عليه وعلى آله وسلم-,

Nabi -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- tidak
melakukannya, para sahabat juga tidak, dan
tidak pula at-Tabi'un (التابعون, murid-murid
sahabat, generasi shalih setelah sahabat).

Sesungguhnya yang melakukannya (kali pertama)
adalah sekolompok dari al-'Ubaidiyyun (العبيديين),
berkata sebagian dari mereka: Sesungguhnya
yang melakukannya beberapa raja (negeri) Syam,
karena (meniru) kaum Nashara merayakan
maulid (Nabi) 'Isa.

...

Selengkapnya lihat di
http://www.muqbel.net


Posting-posting Terkait

>>> Syaikh Muqbil - Maulidan termasuk Bid'ah
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan untuk Mengadakan Maulidan
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Bantahan Istimewa kepada Para Pemuja Acara Maulidan
>>> Larangan untuk Merayakan Hari Raya Orang Kafir dan Perayaan yang Tidak Dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Perayaan Tahun Baru Hijriah dan Masehi, Hari atau Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, Hari Ulang Tahun dll.
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Allah Tidak Menanyaimu Si Fulan Hizbi?
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Yusuf al-Qardhawi adalah Seorang Munafiq
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru (Juga Perayaan-perayaan Orang Kafir Lainnya)
>>> Syaikh bin Baaz: Larangan Mengobati Sihir dengan Sihir
>>> Syaikh Shalih al-Fauzan - Hadiah bagi para pencela Syaikh Yahya al-Hajuri
>>> Syaikh Rabi': Syaikh Yahya adalah Salafi dan Termasuk Salafiyin yang Kokoh
>>> Syaikh Rabi': "...Kirimkan mereka ke Dammaj untuk belajar ilmu dan sunnah..."
>>> Penelponan Syaikh Rabi' dan Syaikh Yahya -New Release-
>>> Nasihat dalam Menghadapi Fitnah Luqman Ba’abduh si Hizbi Hina
>>> Selesainya Pertikaian antara Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya Selama-lamanya
>>> Mengenal Darul Hadits Dammaj Yamanدار الحديث بدماج - حرسها الله -Markiz Masyaikh & Penuntut Ilmu-

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2013/02/syaikh-muqbil-maulidan-termasuk-bidah.html

> > > > > > > READ MORE

Syaikh Yahya al-Hajuri - Bantahan Istimewa kepada Para Pemuja Acara Maulidan

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh al-'Allamah Yahya bin 'Ali al-Hajuri
الشيخ العلامة يحيى بن علي الحجوري
-حفظه الله ورعاه-

الردُّ المسدَّد على أصحاب المولد

Bantahan Istimewa
kepada Para Pemuja Acara Maulidan


سجلت هذه المادة ليلة الثلاثاء 10 ربيع أول 1434 هـ


Syaikh Yahya al-Hajuri - Bantahan Istimewa kepada Para Pemuja Acara Maulidan [Audio]




بسم الله الرحمن الرحيم

Fatwa Imam al-Wadi'iy tentang MAULID NABI

Al Imam Al Wadi'iy رحمه الله ditanya:

"Apakah perayaan Maulid dan Mi'roj serta Rojabiyyah itu bid'ah ataukah sunnah hasanah?"

Maka beliau رحمه الله menjawab:

"Itu adalah bid'ah. Itu tadi semua tidak ada pada masa Nabi صلى الله
عليه وسلم . Dan Robbul 'izzah berfirman dalam kitab-Nya:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً﴾ [المائدة: 3].

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan untuk kalian kenikmatan-Ku dan Aku telah ridhoi Islam sebagai agama kalian."

Dan Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda sebagaimana dalam "Shohihain":

«مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ ».

“Barangsiapa membikin dalam urusan agama kami perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka dia itu tertolak.” (HR. Al Bukhoriy (2697) dan Muslim (1718)).

Maka seluruh perkara ini tadi adalah termasuk dari perkara baru, barangkali diada-adakan pada abad keenam. Dan di antaranya ada yang lebih dulu waktunya daripada itu. Dan secara keseluruhan, tidak ada di dalam Islam kebid'ahan yang baik. Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda:

«كل بدعة ضلالة»،

"Setiap kebid'ahan adalah kesesatan."

«إن الله حجب التوبة عن كل صاحب بدعة حتى يدع بدعته».

"Sesungguhnya Alloh menghalangi tobat dari setiap pelaku kebid'ahan sampai dia meninggalkan kebid'ahannya."

Dan demikianlah wahai saudara-saudaraku. Umat Islam wajib untuk menjauh dari maulid-maulid yang menyebabkan mereka jauh dari Kitabulloh dan sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu. Dan engkau tidak boleh berkata: "Aku akan memanfaatkan kesempatan itu, aku akan hadir dan memberikan petuah pada orang-orang." Tidak.

Jika engkau hadir dan akan berkata pada mereka bahwasanya mereka itu ada di atas kebid'ahan yang sesat: "Waka bertaqwalah kalian kepada Alloh dan tinggalkanlah bid'ah ini," maka silakan.

Adapun jika engkau berangkat dan memberkahi untuk mereka kebid'ahan mereka, maka jangan. Engkau akan memperbanyak jumlah mereka dan jadilah engkau bersekutu dengan mereka dalam dosa.

Dan Alloh sajalah Yang dimintai pertolongan."

(selesai penukilan dari "Ijabatus Sail"/hal. 337/cet. Darul Haromain).

Al Imam Al Wadi'iy رحمه الله juga ditanya:

"Apa hukum membaca "Maulidud Di'abiy" dan "Nazhmu Sirotir Rosul صلى الله عليه وسلم?"

Maka beliau رحمه الله menjawab:

"Maulid itu sendiri adalah bid'ah, tidak tetap. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memerintahkannya. Bacalah Kitabulloh dari awal sampai akhirnya. Apakah kalian mendapati di dalamnya ada perayaan maulid?

Bacalah sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم , bacalah Shohihul Bukhoriy, Shohih Muslim, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Jami'ut Tirmidziy, dan demikian pula Sunanun Nasaiy, Sunan Ibni Majah, Sunanud Darimiy, dan yang lainnya. Apakah kalian mendapati di dalamnya perayaan maulid?

Ataukah yang mendatangkannya adalah Ubaidiyyun di Maghrib dan asal mereka adalah orang-orang Yahudi, kemudian mereka menyatakan bahwasanya mereka itu dari keturunan keluarga Nabi, dan mereka menisbatkan diri pada Ismail bin Ja'far, kemudian mereka diikuti oleh orang-orang yang terlalaikan, sampai bahkan ada seorang raja pada abad
keenam yang melihat orang-orang Kristen merayakan maulid Isa. Abu Syamah berkata: "Maka raja tadi mengadakan perayaan maulid Nabi صلى الله عليه وسلم lebih besar daripada perayaan orang-orang Kristen untuk maulid Isa."

Para raja dan para pemimpin itu tidak boleh digunakan sebagai hujjah (argumentasi). Yang digunakan sebagai hujjah adalah ucapan Rosul صلى الله عليه وسلم.

Aku menasihati setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan ingin maju di dalam ilmu untuk kembali kepada kitab-kitab ulama terdahulu yang kosong dari bid'ah-bid'ah ini.

Engkau mendapati kebanyakan para pelaku maulid-maulid itu tidak memerintahkan yang ma'ruf dan tidak melarang dari yang mungkar. Bahkan terkadang kekejian dikerjakan di acara maulid. Maka maulid Badawiy itu terkadang kekejian dikerjakan di situ. Dan demikianlah masjid di Jund. Orang-orang hadir di situ pada malam sekian dan sekian pada bulan Rojab, dan mereka mendirikan kemah-kemah di sampingnya, terkadang kekejian dikerjakan di situ.

Adapun mubtadi'ah maka yang penting bagi mereka adalah memerangi Ahlussunnah: "Wahhabiyyah datang untuk meruntuhkan agama kita!"

Engkau wahai orang yang patut dikasihani, engkau itu tidak mementingkan agama, engkau cuma mementingkan ashidah (sejenis masakan dari tepung), dan saltah (campuran beberapa sayuran yang dipotong kecil-kecil), dan kot (sejenis ganja). Engkau tidak mementingkan agama. Engkau menyia-nyiakan dirimu sendiri.

Wahai orang yang malang, jika engkau mementingkan agama, maka kemarilah, kami siap untuk berdiskusi denganmu dan menjelaskan padamu bahwasanya engkau itu ada di atas kebid'ahan yang tidaklah Alloh menurunkan dalil yang mendukung tentang itu.

Dan Alloh sajalah Yang dimintai pertolongan."

(selesai penukilan dari "Ijabatus Sail"/hal. 336-337/cet. Darul
Haromain).

Diterjemahkan oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy
عفا الله عنه

http://groups.google.com/group/audiosalafi

Sumber
Beyan ::جديد:: ((الردُّ المسدَّد على أصحاب المولد)) لشيخنا العلامة المحدث يحيى بن علي الحجوري حفظه الله

Posting-posting Terkait

>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Bantahan Istimewa kepada Para Pemuja Acara Maulidan
>>> Syaikh Muqbil - Maulidan termasuk Bid'ah
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan untuk Mengadakan Maulidan
>>> Larangan untuk Merayakan Hari Raya Orang Kafir dan Perayaan yang Tidak Dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Perayaan Tahun Baru Hijriah dan Masehi, Hari atau Malam Nisfu Sya’ban, Maulid Nabi, Hari Ulang Tahun dll.
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Allah Tidak Menanyaimu Si Fulan Hizbi?
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Yusuf al-Qardhawi adalah Seorang Munafiq
>>> Syaikh Bin Baaz - Larangan Ikut Berpartisipasi dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru (Juga Perayaan-perayaan Orang Kafir Lainnya)
>>> Syaikh bin Baaz: Larangan Mengobati Sihir dengan Sihir
>>> Syaikh Shalih al-Fauzan - Hadiah bagi para pencela Syaikh Yahya al-Hajuri
>>> Syaikh Rabi': Syaikh Yahya adalah Salafi dan Termasuk Salafiyin yang Kokoh
>>> Syaikh Rabi': "...Kirimkan mereka ke Dammaj untuk belajar ilmu dan sunnah..."
>>> Penelponan Syaikh Rabi' dan Syaikh Yahya -New Release-
>>> Nasihat dalam Menghadapi Fitnah Luqman Ba’abduh si Hizbi Hina
>>> Selesainya Pertikaian antara Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya Selama-lamanya
>>> Mengenal Darul Hadits Dammaj Yamanدار الحديث بدماج - حرسها الله -Markiz Masyaikh & Penuntut Ilmu-
>>> Mengenal Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri الشيخ العلامة يحيى بن علي الحجوري - حفظه الله

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2013/01/syaikh-yahya-al-hajuri-bantahan_158.html

> > > > > > > READ MORE

Syaikh Muqbil al-Wadi'i Membantah Para Pembela Pemilu (dan Demokrasi)

بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
الحَمْدُ للهِ وَأَشْهَدُ أَن لا إِلهَ إِلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ محمَّدًا عَبدهُ وَرَسُوله صَلى الله عَلَيهِ وَآلهِ وَسَّلم
أَمَّا بَعْدُ

::: احتج أصحاب الانتخابات بقول الألباني وابن باز وابن عثيمين فما قولكم في ذلك؟ :::



[AUDIO] Syaikh al-'Allamah al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi'i رَحمهُ اللهُ membantah para pembela pemilu (dan demokrasi).

Download di link ini!

Soal:
Para pendukung PEMILU berdalih dengan fatwa Syaikh Al Albany, Syaikh Ibnu Bazz dan Syaikh Al 'Utsaimin, maka bagaimana menurut anda?

Jawab:
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله. وعلى. آله وأصحابه ومن والاه وأشهر أن لا إله. إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله..أما بعد
Para pendukung PEMILU itu adalah musuh-musuh para masyaikh tadi, sungguh kami pernah dengar di komite ma'had ilmiyyah di Shan'a bahwa Al Albani adalah masuni, manakala beliau memberi fatwa untuk kaum muslimin di Palestin untuk keluar ...karena negara itu sudah jadi medan perang, merekapun menghantamnya memvonisnya sebagai orang sesat dan mubtadi'
Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Syaikh bin Baaz manakala beliau berfatwa pada kejadian Al Khalij dan ketika beliau berfatwa untuk damai dengan orang Yahudi, dan kami mengatakan ini tanpa membahas benar tidaknya fatwa-fatwa tersebut, merekapun menyerangnya dan menjelek-jelekkan beliau di antara mereka adalah Yusuf Al Qordhowy semoga Allah tidak memberkahinya, sebenarnya mereka mau membakar (menjatuhkan kredibilitas) ulama, karena mereka tidak layak untuk hizbiyyah kecuali apabila mereka butuh untuk minta fatwa mereka, para hizbiyyun pergi ke para masyaikh mereka semacam Qordhowi, fulan dan fulan, adapun Ulama mereka tidak akan pergi kepada mereka bahkan mereka pengen membakar mereka.
Adapun fatwa ini, sungguh aku telah menelpon Syaikh Al Albani hafidzahullah berkaitan dengan masalah ini, kukatakan kepada beliau: "Kenapa engkau bolehkan PEMILU?" Beliau jawab: "Aku tidak bolehkan PEMILU hanya saja dalam rangka mencegah bahaya yang lebih besar.
Maka kitapun melihat apakah yang terjadi di Jazair bahaya yang paling ringan ataukah yang terjadi justru bahaya yang paling besar??
Bacalah sejarah Abu Hanifah, engkau akan dapati ulama kita melarang dari ro'y dan istihsan (mengembalikan perkara agama kepada akal dan anggapan baik tanpa dalil) dan ulama menganggap bahwa hal itu adalah jalan menuju kepada bid'ah mu'tazilah dan jalan menuju ke pemikiran Tajahhum, fatwa Syaikh Al Albani dari dulu mereka pegang.
Adapun Syaikh Ibnu Utsaimin yang mengherankan dari perkaranya bahwasanya dia mengharamkan dari partai-partai dan kelompok tapi dia bolehkan yang lebih besar dan lebih bahaya dari pada itu yaitu PEMILU yang merupakan batu loncatan kepada demokrasi.
Kukatakan kepada para mulabbis itu: Kalau para Masyaikh tadi taroju' dari fatwa mereka apakah kalian akan taroju' (juga) dari perkara ini atau tidak?
Dan kami katakan: bahwasanya kami melihat keharaman taqlid (membebek), tidak boleh bagi kita untuk bertaqlid kepada Syaikh Al Albani tidak pula terhadap Syaikh bin Baz dan tidak pula taqlid kepada Syaikh Al 'Utsaimin, sebab Allah Ta'ala berfirman dalam kitabNya yang mulia:
اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah engkau mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya, sedikit yang mengambil pelajaran"
(QS al-A'raf: 3)
Dan Allah subhanau wa Ta'ala berfirman:
ولا تقف ما ليس لك به علم
"Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu padanya"
(QS al-Isra': 36)
Jadi Ahlussunnah tidak taqlid,
Kemudian kami katakan kepada para masyaikh: Bahwasanya fatwa kalian ini sangat berbahaya, tidakkah kalian mengetahui bahwasanya bush (mantan presiden Amerika -pent) semoga Allah menghinakannya ketika jadi presiden Amerika pernah berkata: bahwa Su'udiyyah dan Kuwait tidak menerapkan Demokrasi?
Hendaknya para masyaikh taroju' dari fatwa-fatwa ini, dan saya persaksikan kalian bahwasanya saya taroju' dari setiap kesalahan pada kitab-kitabku atau kaset-kasetku atau dakwahku karena Allah 'azza wa jalla...Aku taroju' dengan senang hati, dan para masyaikh tiada beban atas mereka apabila mereka taroju', bahkan wajib atas mereka untuk taroju', karena mereka tidak tahu apa yang terjadi di Yaman, dan apa yang terjadi di Majlis Perwakilan Rakyat, dan kerusakan apa yang timbul disebabkan PEMILU, pembunuhan dan peperangan demi PEMILU, keluarnya wanita dengan berhias, foto wanita gara-gara PEMILU, menyamakan kitab, sunnah dan agama dengan kekufuran gara-gara PEMILU, dan maslahat apakah yang telah diwujudkan oleh PEMILU ini??
Maka wajib atas masyaikh untuk taroju', dan kami akan mengirimkan kepada mereka insya Allah, kalau mereka tidak taroju' maka kami mempersaksikan Allah bahwasanya kami berlepas diri dari fatwa mereka, karena fatwa tersebut menyelisihi kitab dan sunnah, mereka ridha atau marah, harga diri dan darah kami sebagai tebusan agama islam, kami tidak peduli bihamdillah.
Dan mereka (para pendukung. PEMILU) telah terbakar, dan tahu bahwasanya ucapan mereka tiada harganya, kalau mau (coba) kirim seseorang tanpa mereka ketahui, bukan supaya jadi hizbi, tapi supaya dia tahu kalau ikhwanul muslimin telah terbakar di Yaman, dan keutamaan hanya milik Allah azza wa jalla semata.
Amar ma'ruf nahi mungkar, taroju', menolong orang yang dizalimi, menolong saudara mereka ahlus sunnah adalah kewajiban atas mereka, dan tinggalkan/jauhkan dari kami ro'yu dan istihsan.
Kami katakan kepada masyaikh: Apakah pernah ada PEMILU di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa sallam, manakala mereka berselisih pada perkara Usamah bin Zaid apakah dia yang jadi pemimpin atau selainnya?!
Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa sallam berkata: adakan pemilihan siapa yang dapat suara terbanyak maka dialah yang jadi amir?!
Dan apakah pernah ada Pemilu di zaman Abi Bakr?! Pernahkah ada Pemilu di zaman 'Umar?
Dan apa yang datang riwayat bahwasanya 'Abdurrahman bin 'Auf menyuruh orang-orang memilih sampai wanita dalam rumah pingitan mereka, ini perlu diteliti karena riwayatnya diluar kitab "shahih", maka butuh dikumpulkan sanad-sanadnya, dan saya yakin kalau dikumpulkan sanadnya hasil hukum riwayatnya syadz, dan syadz termasuk dari pembagian riwayat dhaif, kemudian sebagian ikhwah membahasnya diapin mendapati bahwa tambahan ini sangat dhaif.
Apakah pernah PEMILU di masa umawi atau 'Abbasi atau 'Utsmani? Ataukah PEMILU itu datangnya dari arah musuh-musuh islam?!
Telah benar Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa sallam manakala beliau bersabda:
لتتبعن سنن من قبلكم حذو القذة بالقذة حتى لو دخلوا حجر ضب لدخلتموه
"Sungguh kalian akan meniru kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah sampai kalau mereka masuk liang dhobb kalian akan masuki pula."
PEMILU merupakan perpecahan dan memecah belah persatuan, permusuhan dan kebencian, sampai antar satu keluarga, gara-gara Pemilu ini, ikhwanul muslimin jangan kira bisa menipu kami karena sesungguhnya terkadang mereka memilih orang yang tidak shalat sambil mengatakan: "niatnya baik" ataukah memilih: orang tua yang jahil.
Sungguh dulu mereka menjanjikan manusia di PEMILU pertama bahwa tiada yang menghalangi antara mereka dan antara berhukum dengan hukum islam sampai selesai PEMILU, sekarang mana hukum dengan hukum islam?! Mana pemenuhan janji menteri-menteri mereka yang dulu ada di dalamnya, dan ikhwanul muslimin mereka sendiri yang bilang: "Bahwasanya kami memutuskan suatu keputusan di Dewan Perwakilan, tapi hasilnya keputusan-keputusan selain itu, lalu akhir keputusan dengan apa yang datang dari luar (selain keputusan yang diinginkan)
Bertaqwalah wahai para masyaikh jangan kalian giring kami kepada para peniru Amerika, dan kepada demokrasi yang menghalalkan apa yang Allah haramkan, sungguh telah dibolehkan liwath pada sebagian negara kafir, dan dibolehkan semua yang haram.
Kita adalah kaum muslimin kita punya Kitabullah;
وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله
"Dan bahwasanya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (selainnya) sehingga kalian tercerai berai dari jalanNya."
(QS al-An'am: 153)
Apakah kita punya agama di zaman dahulu dan punya juga agama di masa sekarang ataukah dia adalah agama yang satu hingga hari kiamat?
Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa sallam bersabda:
ﻻ تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لايضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله وهم كذلك
"Senantiasa ada golongan dari umatku yang menang di atas kebenaran tidak memudharatkan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka hingga datang urusan Allah sedang mereka tetap di atas kebenaran."
Semoga para masyaikh taroju' dari fatwa ini, kita akan lihat apa yang akan diperbuat ishlahiyyun, wallahul mustaan.

Sumber:
aloloom.net: Bantahan Syaikh Muqbil rahimahullah terhadap para pendukung PEMILU
aloloom.net: عبيد الجابري يبيح التصويت في الانتخابات في مصر بحجة الأخف ضررا !!! (والرد عليه بكلام أهل العلم)

Terbaru!!!



http://youtu.be/tmHbMHyVPd4
Syaikh Muqbil dan Syaikh Yahya tentang Adzan Pertama Shalat Jum'at



http://youtu.be/PAQyUwciwmo
Syaikh Muqbil - Hukum Adzan Pertama Shalat Jumat



http://youtu.be/vARVDnM3vIo
Syaikh Yahya al-Hajuri - Tahdzir (Waspada/Peringatan) dari 'Kejahatan' Luqman Baaduh si Hizbi Hina
Sejak 20 Dzulhijjah 1429H (18 Desember 2008M)

Posting-posting Terkait

>>> Syaikh Muqbil al-Wadi'i Membantah Para Pembela Pemilu (dan Demokrasi)
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri Berlepas Diri dari Tuduhan-tuduhan Hizbiyin
>>> Perbedaan Nyata Ahlus Sunnah dan Tanzhim al-Qaeda
>>> Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafiyun Berlepas Diri dari Firqah Khawarij al-Qaeda
>>> Bermajelis bersama Ahlul Bid'ah untuk Menasihati?
>>> Hakikat Muhammad bin Hadi azh-Zhalim al-Muqallid
>>> [Dammaj Crisis] Update Berita Blokade Dammaj 1434H
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri: تنبيهات على ما ذكرته بعض الصحف من دخولي المملكة حرسها الله من تقوّلات وتحليلات
>>> [Dammaj Crisis] Hijrah dari Sha'dah ke Hudaidah
>>> Fitnah Keji Situs FItnah
>>> Penjelasan atas Pertemuan Syaikh Yahya dengan al-Halabi & al-Ma'ribi
>>> Bara`ah al-Imam Muqbil al-Wadi'i dari Fitnah Juhaiman
>>> Syaikh Yahya al-Hajuri - Allah Tidak Menanyaimu Si Fulan Hizbi?
>>> Syaikh Rabi' ‘’Ini (al-Jam'iyat) adalah perkara bid'ah…
>>> Syaikh Abu 'Amr 'Abdul Karim al-Hajuri - Tahdzir bagi Dai-dai Pencela Dammaj
>>> Al-Jam'iyat, Fatwa Terbaru Syaikh Rabi'
>>> [Fatwa] Syaikh Rabi' al-Madkhali: Bahaya al-Jam'iyat

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/05/syaikh-muqbil-al-wadii-membantah-para.html

> > > > > > > READ MORE

Penetapan 1 Muharram 1437H / 2015M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 Muharram 1437 H = Kamis 15 Oktober 2015 M
9 Muharram 1437 H = Jum'at 23 Oktober 2015 M (Hari Tasu'a)
10 Muharram 1437 H = Sabtu 24 Oktober 2015 M (Hari 'Asyura)

بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
الحَمْدُ للهِ وَأَشْهَدُ أَن لا إِلهَ إِلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ محمَّدًا عَبدهُ وَرَسُوله صَلى الله عَلَيهِ وَآلهِ وَسَّلم
أَمَّا بَعْدُ

1 Muharram 1437 H = Kamis 15 Oktober 2015 M
9 Muharram 1437 H = Jum'at 23 Oktober 2015 M (Hari Tasu'a)
10 Muharram 1437 H = Sabtu 24 Oktober 2015 M (Hari ‘Asyura)

Sumber: http://www.spa.gov.sa/details.php?id=1408884 http://www.spa.gov.sa/english/details.php?id=1408926
Riyadh, 2 Muharram 1437 - 15 Oktober 2015, SPA.
Mahkamah Agung (المحكمة العليا) Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan keputusan hari ini sebagai berikut:
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi kami Muhammad, keluarga dan shahabatnya.
Mahkamah Agung mengadakan rapat pada Selasa petang 29 Dzulhijjah 1436H (13 Oktober 2015) untuk mempertimbangkan penampakan hilal (bulan sabit) Muharram 1437 H, karena tidak ada laporan yang masuk untuk hal itu dari pengadilan dan komite di seluruh Kerajaan Arab Saudi dalam hal ini, maka Mahkamah Agung memutuskan bahwa kemarin, hari Rabu 14 Oktober 2015 menjadi penyempurna (hari ke-30) bulan Dzulhijjah dan hari ini, hari Kamis 15 Oktober 2015 adalah awal bulan (tanggal 1) Muharram 1437 H.

https://twitter.com/Kemenag_RI ??? Tanpa ada khabar tentang aktivitas rukyatul hilal dan terlihatnya hilal 1 Muharram 1437H,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..”
(QS. At-Taubah: 36)
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ، السَّنَّةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ؛ ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Dari Abu Bakrah رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau berkata,“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut; Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Sya’ban.”
• Hadits dikeluarkan oleh al-Imam Al-Bukhari dan al-Imam Muslim.
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ
Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ, dia berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata,“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah (shalat) fardhu adalah shalat malam.”
• Hadits dikeluarkan oleh al-Imam Muslim.
عن ابن عباس رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ
Dari Ibnu Abbas رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا : Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya. Muttafaqun 'alaihi.
• Hadits dikeluarkan oleh al-Imam Al-Bukhari dalam ash-Shaum no hadits 2003, al-Imam Muslim di dalam ash-Shiyam no hadits 128, serta Abu Dawud dalam ash-Shaum no hadits 2444.
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ
Dari Abu Qatadah رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ : Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)
• Hadits dikeluarkan oleh al-Imam Muslim di dalam ash-Shiyam no hadits 197, serta Abu Dawud dalam ash-Shaum no hadits 2425, At-Tirmidzi dalam ash-Shaum no hadits 767, serta Imam Ahmad dalam musnadnya (4/25)
وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Ibnu Abbas رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا beliau berkata : ” Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)
• Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim di dalam Ash-Shiyam hadits no 34, Ahmad dalam musnadnya (1/225) dan Ibnu Majah di dalam Ash-Shiyam (1736)

Hadits-hadits di atas menjelaskan kepada kita tentang disyariatkannya berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) dan pada hari Tasu’a (9 Muharram).
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin –rahimahullah Ta’ala– berkata (Syarh Riyadhush Shalihin),
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, “Menghapuskan dosa setahun yang lalu”, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yang menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya).
Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa hari ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan hari Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan”, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu'a.

11.) Apakah seluruh umat Islam berpuasa jika ada sebagian umat melihat Hilal dan orang yang melihatnya bisa dipercaya?

Jawaban: Ini adalah salah satu kebingungan yang besar di antara umat Islam pada masa ini. Permasalahan ini disebut dengan Masalah Ikhtilaf al-Mathla' (Masalah Perbedaan Mathla'). Banyak orang yang berpendapat bahwa mereka harus mengikuti apapun ketetapan pemerintah mereka atau apapun organisasi Islam setempat tetapkan untuk mereka, apalagi jika mereka melihat Hilal mereka sendiri.
Umat Islam adalah satu, ibadahnya adalah satu, rasulnya adalah satu dan Rabbnya adalah satu, maka bagaimana bisa awal puasa tidak satu (sama)?
Karena kebingungan ini kami melihat perbedaan besar di antara orang-orang dan ini tentunya sebuah cobaan bagi umat ini. Perbedaan-perbedaan ini terutama disebabkan hal-hal berikut ini:
a) Politik: Ada persaingan di antara orang-orang yang berbeda atau di antara dua atau lebih pemimpin wilayah atau negara yang berbeda. Perbedaan ini menyebabkan isu politik yang terjadi setelah umat Islam terpecah dari Khilafah, tidak seperti saat umat Islam disatukan di bawah satu Khalifah.
b) Kesalahan ijtihad beberapa ulama: Para ulama tidaklah ma'sum (bebas dari kesalahan) dan mereka melakukan kesalahan.
c) Tamazhub (fanatik dalam bermazhab), taqlid (fanatik buta) dan ta'ashub (fanatisme).
Solusi untuk menghilangkan kebingungan dan isu yang besar ini adalah dengan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Hadits berikut ini adalah salah satu bukti/dalil untuk menghilangkan konflik yang besar ini:
عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْهُ قال قَالَ النهبِيُّ صلى الله عليه و سلم :أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صلى الله عليه و سلم
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِ ه دةَ شَعْبَانَ ثَلََثِينَ .
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه عَنْهُ berkata Nabi صلى الله عليه و سلم atau berkata Abu al-Qasim صلى الله عليه و سلم: "Berpuasalah kalian karena melihat Hilal dan berbukalah (berharirayalah) kalian juga karena melihatnya, dan jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Shahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 31, Nomor 133]
Jika kita memperhatikan dengan seksama ucapan Nabi صلى الله عليه و سلم, dapat dipahami bahwa beliau صلى الله عليه و سلم memerintahkan seluruh umat (tidak satu negara atau satu wilayah atau satu kelompok orang) untuk berpuasa jika siapapun dari mereka melihat hilal. Maka jika sebagian dari para Shahabat رضي الله عنه عَنْهُم berada di wilayah yang berbeda pada saat itu, mereka رضي الله عنه عَنْهُم akan berpuasa jika Hilal telah dilihat di salah satu wilayah Islam. Dua hadits Ibnu Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا (Pada point 6 dan 8) yang telah kami sebutkan di atas adalah juga dalil dalam point ini. Ini adalah pendapat Syaikh al-Albani رحمه الله dan selainnya.
Hadits point 6.
Dari 'Abdullah bin Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا berkata Nabi صلى الله عليه و سلم "Sebulan itu 29 malam, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya (Hilal Ramadhan), jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Shahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 31, Nomor 130]
Hadits point 8.
Dari 'Abdullah bin Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا berkata: "Orang-orang melihat/mencari Hilal, lalu aku beritahukan kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahwa aku benar-benar telah melihatnya, lalu beliau صلى الله عليه و سلم berpuasa dan menyuruh orang-orang agar berpuasa. Riwayat Abu Dawud.
[Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله di Shahih Abi Dawud dan oleh selainnya]

Sumber: Diambil dari risalah Masail fi Shiyam -1 (Issues in fasting -1) oleh Ahmad bin Umar Banajah al-Hadhrami. Download selengkapnya di sini.[http://thedawah.com/articles]

Syaikh Abdullah al-Iryani (Syarah hadits): وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Orang-orang melihat bulan sabit, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.
Syaikh Abdullah Ahmad Hasan al-Iryani - Seluruh Umat Islam Berpuasa Bila Ada Negara yang Lihat Hilal - Magetan Syaban 1431H - Bulughul Maram al-Asqalani Kitab Shiyam Syarah Hadits Kelima
Diambil dari: Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani di Markiz Magetan Indonesia bulan Syaban 1431H.
Ahmad Banajah : (Q&A) Is it a strong opinion that the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is it a strong opinion that the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Diambil dari: http://www.wiziq.com/online-class/914550-usool-ad-dawat-is-salafiyyah-ahmed-banajah Ahad, 3 Ramadhan 1433H (22 July 2012M).
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Diambil dari: http://thedawah.com/en/audio/bulughul-maram/kitaab-siyaam Selasa, 3 Jumadhil Akhir 1433H (24 April 2012M).

Posting-posting Terkait

>>> Penetapan 1 Muharram 1437H / 2015M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 Muharram 1437 H = Kamis 15 Oktober 2015 M
9 Muharram 1437 H = Jum'at 23 Oktober 2015 M (Hari Tasu'a)
10 Muharram 1437 H = Sabtu 24 Oktober 2015 M (Hari 'Asyura)

>>> Penetapan 1 Dzulhijjah 1436H / 2015M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 Dzulhijjah 1436 H = Selasa 15 September 2015 M
9 Dzulhijjah 1436 H = Rabu 23 September 2015 M (Hari Arafah)
10 Dzulhijjah 1436 H = Kamis 24 September 2015 M (Iedul Adha)

>>> Penetapan 1 Syawwal 1436H / 2015M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 SYAWAL 1436 H = JUM'AT 17 JULI 2015 M

>>> http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/10/kapan-awal-dzulhijjah-puasa-arafah-dan.html
>>> Syaikh al-Utsaimin: Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
>>> Syaikh Shalih al-Fauzan - Amalan yang Disyariatkan pada 10 Dzulhijjah
>>> Idul Adha 10 Dzulhijjah 1435H = Sabtu 4 Oktober 2014M
>>> Berita Rukyatul Hilal 1435H / 2014M
>>> Berita 1 Ramadhan 1434H
>>> Berita 1 Syawwal 1433H
>>> Berita 1 Ramadhan 1433H
>>> Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani
>>> Kitabush-Shiyam (Fasting) Bulughul-Maram al-Asqalani oleh Ahmad Banajah
>>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani dan Syaikh 'Abdul-Ghani al-'Umari
>>> (Soal-Jawab) Permasalahan: Dakwah, Fitnah, & Hizbiyyah
>>> Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Zaid bin Hasan al-Wushabi dan Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2015/10/penetapan-1-muharram-1437h-2015m.html

> > > > > > > READ MORE

Penetapan 1 Dzulhijjah 1436H / 2015M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 Dzulhijjah 1436 H = Selasa 15 September 2015 M
9 Dzulhijjah 1436 H = Rabu 23 September 2015 M (Hari Arafah)
10 Dzulhijjah 1436 H = Kamis 24 September 2015 M (Iedul Adha)

بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
الحَمْدُ للهِ وَأَشْهَدُ أَن لا إِلهَ إِلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ محمَّدًا عَبدهُ وَرَسُوله صَلى الله عَلَيهِ وَآلهِ وَسَّلم
أَمَّا بَعْدُ


اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ



1 Dzulhijjah 1436 H = Selasa 15 September 2015 M
9 Dzulhijjah 1436 H = Rabu 23 September 2015 M (Hari Arafah)
10 Dzulhijjah 1436 H = Kamis 24 September 2015 M (Iedul Adha)

تقبل الله منا و منكم


Sumber: https://twitter.com/efatwa https://twitter.com/AlArabiya_Eng https://twitter.com/Kemenag_RI



وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dan dari Ibnu Umar رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا dia berkata: Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Apabila kalian melihatnya (hilal 1 Ramadhan) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya (hilal 1 Syawwal) maka berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah." Muttafaq 'alaihi.
وَلِمُسْلِمٍ: ( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ )
Menurut riwayat Muslim رحمه الله: "Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari."
وَلِلْبُخَارِيِّ: ( فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ )
Menurut riwayat Bukhari رحمه الله: "Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari."
وَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ )
Menurut riwayatnya (Bukhari رحمه الله) dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه: "Maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Bulughul Maram al-Asqalani: 674-675]

لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلَالَ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَه
“Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (‘iedul fithr) sampai kalian melihat hilal. Apabila (bulannya) tersembunyi (tidak terlihat) maka tetapkanlah (tiga puluh hari)” (HR Bukhory-Muslim)

...yang kesimpulannya kembali kepada pekataan Imam Asy-Syaukany Rahimahulloh:
“Masalah ini tidak khusus bagi penduduk salah satu penjuru dengan hukum tersendiri, melainkan yang diajak bicara (dalam hadits ini –pent) adalah seluruh kaum muslimin yang berhak (puasa). Pendalilan dengan hadits ini atas pengharusan penggunaan ru’yah suatu negeri atas negeri yang lain, lebih jelas ketimbang pendalilan atas tidak adanya keharusan. Sebab, apabila penduduk suatu negeri telah melihat, artinya kaum muslimin telah melihat, maka mengharuskan yang lain apa-apa yang diharuskan bagi yang melihat” [Nailul Author 4/194]
Jadi yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah kaum muslimin secara umum. Dimana saja ada sebagian kaum muslimin yang melihat hilal, maka berarti kaum muslimin lainnya dihukumi telah melihatnya dan wajib beramal dengan konsekuensi ru'yah tersebut.

Dinukil dari: http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/10/kapan-awal-dzulhijjah-puasa-arafah-dan.html

Diskusi: Apakah seluruh umat Islam berpuasa jika ada sebagian umat melihat Hilal dan orang yang melihatnya bisa dipercaya?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?

11.) Apakah seluruh umat Islam berpuasa jika ada sebagian umat melihat Hilal dan orang yang melihatnya bisa dipercaya?

Jawaban: Ini adalah salah satu kebingungan yang besar di antara umat Islam pada masa ini. Permasalahan ini disebut dengan Masalah Ikhtilaf al-Mathla' (Masalah Perbedaan Mathla'). Banyak orang yang berpendapat bahwa mereka harus mengikuti apapun ketetapan pemerintah mereka atau apapun organisasi Islam setempat tetapkan untuk mereka, apalagi jika mereka melihat Hilal mereka sendiri.
Umat Islam adalah satu, ibadahnya adalah satu, rasulnya adalah satu dan Rabbnya adalah satu, maka bagaimana bisa awal puasa tidak satu (sama)?
Karena kebingungan ini kami melihat perbedaan besar di antara orang-orang dan ini tentunya sebuah cobaan bagi umat ini. Perbedaan-perbedaan ini terutama disebabkan hal-hal berikut ini:
a) Politik: Ada persaingan di antara orang-orang yang berbeda atau di antara dua atau lebih pemimpin wilayah atau negara yang berbeda. Perbedaan ini menyebabkan isu politik yang terjadi setelah umat Islam terpecah dari Khilafah, tidak seperti saat umat Islam disatukan di bawah satu Khalifah.
b) Kesalahan ijtihad beberapa ulama: Para ulama tidaklah ma'sum (bebas dari kesalahan) dan mereka melakukan kesalahan.
c) Tamazhub (fanatik dalam bermazhab), taqlid (fanatik buta) dan ta'ashub (fanatisme).
Solusi untuk menghilangkan kebingungan dan isu yang besar ini adalah dengan kembali kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Hadits berikut ini adalah salah satu bukti/dalil untuk menghilangkan konflik yang besar ini:
عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْهُ قال قَالَ النهبِيُّ صلى الله عليه و سلم :أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صلى الله عليه و سلم
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِ ه دةَ شَعْبَانَ ثَلََثِينَ .
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه عَنْهُ berkata Nabi صلى الله عليه و سلم atau berkata Abu al-Qasim صلى الله عليه و سلم: "Berpuasalah kalian karena melihat Hilal dan berbukalah (berharirayalah) kalian juga karena melihatnya, dan jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Shahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 31, Nomor 133]
Jika kita memperhatikan dengan seksama ucapan Nabi صلى الله عليه و سلم, dapat dipahami bahwa beliau صلى الله عليه و سلم memerintahkan seluruh umat (tidak satu negara atau satu wilayah atau satu kelompok orang) untuk berpuasa jika siapapun dari mereka melihat hilal. Maka jika sebagian dari para Shahabat رضي الله عنه عَنْهُم berada di wilayah yang berbeda pada saat itu, mereka رضي الله عنه عَنْهُم akan berpuasa jika Hilal telah dilihat di salah satu wilayah Islam. Dua hadits Ibnu Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا (Pada point 6 dan 8) yang telah kami sebutkan di atas adalah juga dalil dalam point ini. Ini adalah pendapat Syaikh al-Albani رحمه الله dan selainnya.
Hadits point 6.
Dari 'Abdullah bin Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا berkata Nabi صلى الله عليه و سلم "Sebulan itu 29 malam, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya (Hilal Ramadhan), jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya'ban 30 hari."
[Shahih al-Bukhari, Jilid 3, Kitab 31, Nomor 130]
Hadits point 8.
Dari 'Abdullah bin Umar رضي الله عنه عَنْهُمَا berkata: "Orang-orang melihat/mencari Hilal, lalu aku beritahukan kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahwa aku benar-benar telah melihatnya, lalu beliau صلى الله عليه و سلم berpuasa dan menyuruh orang-orang agar berpuasa. Riwayat Abu Dawud.
[Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله di Shahih Abi Dawud dan oleh selainnya]

Sumber: Diambil dari risalah Masail fi Shiyam -1 (Issues in fasting -1) oleh Ahmad bin Umar Banajah al-Hadhrami. Download selengkapnya di sini.[http://thedawah.com/articles]

Syaikh Abdullah al-Iryani (Syarah hadits): وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِمُ
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Orang-orang melihat bulan sabit, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban.
Syaikh Abdullah Ahmad Hasan al-Iryani - Seluruh Umat Islam Berpuasa Bila Ada Negara yang Lihat Hilal - Magetan Syaban 1431H - Bulughul Maram al-Asqalani Kitab Shiyam Syarah Hadits Kelima
Diambil dari: Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani di Markiz Magetan Indonesia bulan Syaban 1431H.
Ahmad Banajah : (Q&A) Is it a strong opinion that the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is it a strong opinion that the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Diambil dari: http://www.wiziq.com/online-class/914550-usool-ad-dawat-is-salafiyyah-ahmed-banajah Ahad, 3 Ramadhan 1433H (22 July 2012M).
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Ahmad Banajah : (Q&A) Is the whole muslim nation should fast ramadan (break the fast for ied) if only a part of the nation sees the hilaal?
Diambil dari: http://thedawah.com/en/audio/bulughul-maram/kitaab-siyaam Selasa, 3 Jumadhil Akhir 1433H (24 April 2012M).

Posting-posting Terkait

>>> Penetapan 1 Dzulhijjah 1436H / 2015M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 Dzulhijjah 1436 H = Selasa 15 September 2015 M
9 Dzulhijjah 1436 H = Rabu 23 September 2015 M (Hari Arafah)
10 Dzulhijjah 1436 H = Kamis 24 September 2015 M (Iedul Adha)

>>> Penetapan 1 Syawwal 1436H / 2015M Berdasarkan Rukyatul Hilal
1 SYAWAL 1436 H = JUM'AT 17 JULI 2015 M

>>> http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2014/10/kapan-awal-dzulhijjah-puasa-arafah-dan.html
>>> Syaikh al-Utsaimin: Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
>>> Syaikh Shalih al-Fauzan - Amalan yang Disyariatkan pada 10 Dzulhijjah
>>> Idul Adha 10 Dzulhijjah 1435H = Sabtu 4 Oktober 2014M
>>> Berita Rukyatul Hilal 1435H / 2014M
>>> Berita 1 Ramadhan 1434H
>>> Berita 1 Syawwal 1433H
>>> Berita 1 Ramadhan 1433H
>>> Kitabush-Shiyam Bulughul-Maram al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani
>>> Kitabush-Shiyam (Fasting) Bulughul-Maram al-Asqalani oleh Ahmad Banajah
>>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani dan Syaikh 'Abdul-Ghani al-'Umari
>>> (Soal-Jawab) Permasalahan: Dakwah, Fitnah, & Hizbiyyah
>>> Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Zaid bin Hasan al-Wushabi dan Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani

http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2015/09/penetapan-1-dzulhijjah-1436h-2015m.html

> > > > > > > READ MORE