Majelis Ilmu Syaikh Abdullah al-Iryani di Indonesia Tahun 1434H

بسم الله الرحمن الرحيم

Majelis Ilmu Tahun 1434H/2013M
Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani
Abu Abdur-Rahman
-hafizhahullahu-
(الشيخ عبد الله بن أحمد الإرياني أبو عبد الرحمن -حفظه الله)
Seorang Ulama dari
Markiz Salafiyyah Darul Hadits,
Dammaj, Yaman

Alhamdulillah...
Kabar gembira bagi kaum muslimin dan salafiyyin Indonesia.
DAURAH ULAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH SETIAP HARI SEPANJANG TAHUN.
Ma'had Ittiba'us Sunnah, Jl. Syuhada' 02 Sampung. Sidorejo, Plaosan, Kota Magetan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

Insya Allah jadwal kajian rutin sebagai berikut:
(Semua diterjemahkan, Alhamdulillah.)

Live Streaming! Siaran Langsung!
PALTALK Chat Rooms » Religion & Spirituality » Islam » Dauroh Syaikh al Iryani di Sampung 1434H
Atau dengarkan via Radio Internet (Winamp, dll.): http://103.28.148.18:8044/listen.pls

||Jam 7.00 pagi WIB: Lum'atul I'tiqad ||Jam 10.15 pagi WIB: Ilmu Hadits ||Ba'da Zhuhur WIB: Hadits-hadits 'Muttafaq Alaih' Riyadush Shalihin ||Jam 4.30 sore WIB: Shahih al-Bukhari (Kitab Adab) ||Ba'da Maghrib WIB: Bulughul Maram atau Kitab-kitab Aqidah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ||Ba'da Isya WIB: Tanya Jawab & Ilmu Waris

Muhadharah Khusus Ahad Pekan ini dengan tema {{{ KEWAJIBAN BERHIJAB }}} | 9 Rajab 1434H | 19 Mei 2013M | Mulai Jam 9 pagi WIB | Ba'da Zhuhur WIB Tanya Jawab | Nantikan tema khusus dan menarik lainnya pada muhadharah khusus setiap Ahad!



Update (24 Rabi'ul Akhir 1434H): -Alhamdulillaah- Syaikh Abdulloh al-Iryani dan keluarga -semoga Alloh menjaga mereka- tiba di Magetan pukul 02:00 wib. Update (23 Rabi'ul Akhir 1434H): Kedatangan beliau bersama keluarga (seorang istri, dan 5 orang anaknya) tiba di Bandara Soetta-Jakarta pada hari selasa malam pukul 22:00 wib. Beliau dijemput oleh beberapa ikhwah di antaranya Abu Turob (Bengkulu), Abu Nafi (Cianjur), Abu Ubaid (Sorowako) dll. asy-Syaikh Abdulloh al-Iryani sempat memberikan nasehat kepada beberapa ikhwah saat tiba di penginapan sekitar jam 1:30 wib dini hari, dan setelah beristirahat sejenak, melaksanakan sholat shubuh berjama'ah bersama kaum muslimin di masjid terdekat. Selanjutnya, pukul 08:00 wib beliau bersama rombongan melalui jalur darat melanjutkan perjalanan ke magetan (± 14 jam) -insyaAlloh tiba di magetan ba'da maghrib/isya' hari yang sama.
Nasihat Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani - 23 Rabi'ul Akhir 1434H
Sumber: isnad.netInsya Allah Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani Abu Abdur-Rahman -hafizhahullahu- akan membuka majelis ilmu (daurah) di Indonesia selama antara setengah sampai dengan satu tahun. Majelis ilmu ini akan diselenggarakan di: Markiz Salafiyah Ma'had Ittiba'us Sunnah, Jl. Syuhada' 02 Sampung. Sidorejo, Plaosan, Kota Magetan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Majelis ilmu di atas terbuka untuk umum. Barakallahu fikum. Info lebih lanjut bisa menghubungi nomor 085856101611, 081259406525 dan 085232597660. Info lain lihat di sini.
Anjuran Menimba Ilmu Syar’iy
dari asy-Syaikh Abdullah al-Iryaniy

******************
بسم الله الرحمن الرحيم
Pembukaan
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم أما بعد
Berikut ini adalah kalimat yang saya berharap dari Alloh ta’ala manfaatnya, saya sebutkan di dalamnya dorongan untuk mencari ilmu di hadapan ahlinya dan penyerunya. Dan yang demikian itu karena kegembiraan saya dengan datangnya syaikh kami yang mulia Abu Abdirrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله untuk berdakwah ke jalan Alloh, dan mengajar di negri kita, negri Islamiyyah yang tercinta Indonesia, dan dikarenakan kebutuhan muslimin untuk memperdalam ilmu agama Alloh, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Mu’awiyah رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين». (أخرجه البخاري (71) ومسلم (1037)).
“Barangsiapa diinginkan Alloh kebaikan untuknya, Alloh akan menjadikannya memahami agama ini.” (HR. Al Bukhoriy (71) dan Muslim (1037)).
Dan saya menganjurkan saudara-saudara saya –semoga Alloh menjaga mereka- untuk mengambil faidah dari Syaikh sunniy yang mulia ini, penyeru ke jalan Alloh. Dan cocok sekali dalam kesempatan ini untuk saya mengajak saudara-saudara saya –semoga Alloh menjaga mereka- lebih mengenal Asy Syaikh Abu Abdirrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله dan kebaikan yang beliau miliki, yang berupa ilmu yang bagus, petunjuk dan manfaat untuk saudara-saudara beliau kaum muslimin, dalam bab menunjukkan kepada kebaikan. Dalam “Shohih” dari Abu Mas’ud رضي الله عنه : bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«من دل على خير فله مثل أجر فاعله». (أخرجه مسلم (1893)).
“Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala semisal dengan orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim (1893)).
Dan dari Anas رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«الدال على الخير كفاعله».
“Orang yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia itu seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. At Tirmidziy (2670), dan punya pendukung dari hadits Buroidah رضي الله عنه diriwayatkan oleh Ahmad (23077). Maka hadits ini shohih).
Selamat menyimak gambaran yang Alloh mudahkan tentang syaikh kita dan pengajar kita yang mulia Abu Abdirrohman Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله. Alloh sematalah yang memberikan taufiq.
Jejak-jejak Ilmiyyah Dan Amaliyyah Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy. Dan Pujian Ulama Terhadap Beliau –semoga Alloh menjaga beliau dan mereka semua-
Sesungguhnya Asy Syaikh Abu Abdirrohman Abdulloh bin Ahmad bin Hasan Al Iryaniy حفظه الله berasal dari keluarga Alu Iryaniy.
Al Iryaniy nisbat ke benteng Iryan di puncak gunung Bani Saif yang tinggi di kabupaten Qofr (Qofr Yarim), bagian dari propinsi Ibb. Kembalinya nasab mereka adalah Bani Saif, salah satu kabilah Yahshub bin Dahman bin Malik, dari anak Humaisa’ bin Himyar. Alul Iryaniy adalah keluarga yang terkenal dengan keutamaan dan ilmu. Sejumlah banyak sekali anggota keluarga itu tampil menjadi tokoh kehakiman, adab dan kepemimpinan. Selesai penukilan yang dimaksudkan.
(“Mausu’atul Alqobil Yamaniyyah”/dari huruf Alif sampai Ha/hal. 56/cet. Muassasah Jami’iyyah Lid Dirosah Wan Nasyr Wat Tauzi’).
Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله termasuk murid senior Al Imam Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله تعالى . Kemudian beliau mengambil faidah dari dars-dars Asy Syaikh Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله تعالى .
Beliau mengajari anak-anak muslimin berbagai pelajaran di Darul Hadits di Dammaj dan di berbagai markiz-markiz ilmiyyah di Yaman. Dan beliau termasuk dai terkenal di negri Yaman. Dan beliau juga termasuk dari kalangan tokoh yang kokoh di atas sunnah dan penasihat yang punya kecemburuan terhadap agama, di atas manhaj salaf. Alloh sajalah yang bisa menilai beliau.
Syaikh kami Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله tinggal di Darul Hadits dalam tempo yang lama, memberikan faidah dan mengambil faidah, menulis risalah-risalah yang bermanfaat, keluar untuk dakwah di berbagai tempat di Yaman, Alloh mengokohkan beliau di fitnah-fitnah ahli ahwa, bangkit untuk menolong kebenaran dan para pembela kebenaran, dan menghantam kebatilan dan para ahli batil sesuai dengan kemampuan beliau.
Kemudian beliau حفظه الله berpindah dan tinggal di masjid Baidho sambil melanjutkan amalan-amalan beliau yang diberkahi, kemudian di Baitul Faqih, dan sebelum itu di wilayah Yafi’ dan yang lainnya dengan karunia Alloh, di mana saja beliau singgah, beliau bermanfaat.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya orang yang bermanfaat itulah orang yang diberkahi. Dan yang paling bermanfaat dan paling besar berkahnya adalah orang yang diberkahi di kalangan manusia di manapun dia berada. Dia itulah yang diambil manfaatnya di manapun dia turun.” (“Zadul Ma’ad”/4/hal. 141).
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Dan para makhluk itu semuanya adalah tanggungan Alloh. Maka orang yang paling dicintai oleh Alloh adalah orang yang paling bermanfaat bagi para makhluk-Nya.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/4/hal. 12).
Dan syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله telah mengutus beliau (di selang waktu bulan Sya’ban dan Romadhon 1432 H) ke negri kami Indonesia untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu dan amal syar’iy, dan memahamkan manusia tentang dakwah Ahlussunnah, bahwasanya dakwah ini adalah dakwah perdamaian dan perbaikan, bukan dakwah pemberontakan ataupun penggulingan kekuasaan. Maka dihasilkanlah keberkahan dakwah yang agung dengan karunia dan kedermawanan dari Alloh.
Kemudian syaikh kami Yahya Al Hajuriy حفظه الله menghimbau beliau agar tinggal di Indonesia untuk berdakwah, mengajar dan mendidik. Maka kami mohon pada Alloh agar menjadikan beliau bermanfaat bagi Islam dan Muslimin.
Kemudian sesungguhnya karya tulis seseorang itu menunjukkan kadar ilmu dan akal dia. Yahya bin Kholid -rohimahullohu- berkata: “Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya: Kitab menunjukkan akal penulisnya. Utusan menunjukkan akal sang pengutus. Hadiah  menunjukkan akal sang pemberi.” (“Al ‘Aqdul Farid”/1/hal. 170).
Dan Alloh telah memberikan taufiq pada syaikh kami Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله untuk menyebarluaskan berbagai ilmu sunnah dan membelanya dengan tulisan dan khothbah, yang menunjukkan kuatnya ilmu beliau dan bagusnya pemahaman beliau. Di antara karya tulis beliau adalah:
1- “Irsyadul bashir Li Mafasid Wa Adhror Bid’atil Ihtifal Bi Yaumil Ghodir” (cet. Darul Atsar)
Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam pengantar beliau untuk kitab tadi berkata: “… akan tetapi Alloh itu mengawasi para pengkhianat tadi. Dia Yang Mahasuci itulah Yang menggandengkan di setiap zaman para tokoh yang jujur dan menasihati, dan menghibahkan jiwa-jiwa mereka untuk menolong kebenaran dan melenyapkan kebatilan, berdasarkan ilmu yang kuat dan cahaya dari Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya صلى الله عليه وسم . Dan termasuk nasihat yang paling agung yang saya lihat pada hari-hari ini adalah: apa yang dilaksanakan oleh saudara kita yang mulia dai ke jalan Alloh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله, yang berupa penjelasan tentang kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya Ghodir, dan penjelasan tentang bahaya-bahayanya terhadap muslimin dalam agama dan dunia mereka. Di dalam risalah ini beliau mengumpulkan mayoritasnya dan menjelaskan keburukannya. Ketika beliau membacakannya kepadaku dengan perintah dari syaikh kami Al Wadi’iy([1]) –semoga Alloh menyembuhkan beliau- aku melihat saudara kita Abdulloh Al Iryaniy komitmen pada kebenaran dan ketepatan, dan mendatangkan faidah-faidah yang menyenangkan orang-orang yang punya mata hati. Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan.” Selesai.
Asy Syaikh Muhammad Al Imam وفقه الله berkata: “… saya telah melihat risalah saudara yang diberkahi Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy yang berjudul: “Irsyadul bashir Li Mafasid Wa Adhror Bid’atil Ihtifal Bi Yaumil Ghodir” maka saya dapati dia itu adalah risalah yang bermanfaat, dan kebutuhan kepada risalah tadi adalah mendesak. Sang penulis telah menjelaskan pada baris-baris risalahnya tersebut perkara yang dikandung oleh bid’ah Ghodir, yang berupa aqidah yang rusak, keadaan yang mungkar, keburukan yang menjijikkan, perbuatan-perbuatan yang menjijikkan. Dan memang demikianlah nasihat untuk muslimin, pembelaan terhadap kebenaran, saling menolong di atas kebajikan, melarikan orang dari kebatilan dan pembawa kebatilan.” Selesai yang dimaksudkan.
Saya katakan عفا الله عني: “Dan kitab ini merupakan bantahan terhadap bid’ah Rofidhoh dalam perayaan mereka di suatu hari, mereka pada hari itu membikin kemungkaran-kemungkaran yang besar, di antaranya adalah caci-makian yang keras terhadap para Shohabat. Dan terkadang mereka mendatangkan seekor anjing betina, lalu mereka menguburnya setengah badan dan merajamnya sampai mati dengan keyakinan bahwasanya dia tadi adalah Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها dan bahwasanya beliau itu berzina –kita berlindung pada Alloh dari keburukan ucapan ini- dan belum ditegakkan pada beliau hadd. Maka bangkitlah Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله dengan menulis kitab yang bagus untuk membantah bid’ah yang busuk itu.
2- “Shifatu ‘Umrotin Nabi صلى الله عليه وسلم (cet. Darul Atsar)
Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam pengantar beliau untuk kitab ini berkata: “… saya telah membaca risalah “Shifatu ‘Umrotin Nabi صلى الله عليه وسلم karya saudara kita yang mulia Asy Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله maka saya lihat beliau telah mendatangkan di dalamnya pembahasan-pembahasan yang berfaidah yang mencakup insya Alloh hukum-hukum umroh dan adab-adab terpentingnya. Kita mohon pada Alloh untuk memberikan manfaat bagi muslimin dengan kitab tadi dan dengan pemiliknya. Dan dengan pertolongan Alloh sajalah kita mendapatkan taufiq.”
Asy Syaikh Muhammad Al Imam وفقه الله berkata: “… saya telah diminta untuk memberikan kata pengantar bagi risalah “Shifatu ‘Umrotin Nabi صلى الله عليه وسلم Wa Ahammi Mabadiiha” karya saudara kita Asy Syaikh Abdulloh bin Ahmad Al Iryaniy حفظه الله . Dan Asy Syaikh Abdulloh telah diketahui dalam tulisan-tulisan beliau bahwasanya beliau itu berusaha mencari kebenaran, dan menghiasinya dengan ucapan para ulama. Dan penulisan berdasarkan metode Ahlil Hadits Wal Ittiba’ itu bermanfaat dan berfaidah, segala puji bagi Alloh. Dan kita mohon pada Alloh untuk memberikan taufiq pada kita semua untuk menyebarkan kebaikan, dan mengajak kepadanya dan menegakkannya.” Selesai.
3- “Al Qoulul Jali Fi Nasfi Abathilil Wataril Muftari”
Dalam kandungan risalah tadi beliau membongkar kedustaan-kedustaan sebagian pengikut Abul Hasan (Nu’man Al Watar) terhadap syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله , yang mana kejahatan para ahli ahwa itu terus berdatangan terhadap beliau, setiap kali satu jenis dari mereka gagal dengan rencana mereka, digantikanlah oleh yang lain. Maka beliau meruntuhkan kedustaan tadi dan membinasakannya. Telah berdatangan syukur, pujian dan ucapan selamat untuk beliau setelah keluarnya risalah yang bagus ini, dari kalangan para salafiyyin yang cemburu.
4- “Ta’zizil Qoulil Jali”
Di dalamnya ada bantahan yang sangat bagus terhadap risalah “Al Muhannadul Yamaniy” karya Nu’man Al Watar al hizbiy, dan lembaran-lembaran Fahd Al Ba’daniy.
5- “Wafatun Nabi صلى الله عليه وسلم , Waqfatun Wa ‘Ibar” (cet. Darul Atsar)
Di dalamnya ada pelajaran-pelajaran yang penting dan bagus dari kisah wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم.
6- “Al Faidh Fi Hukmi Massil Mushhaf Wa Qiroatil Qur’an Wa Dukhulil Masjid Lil Junub Wal Haidh” (cet. Darul Atsar)
Syaikh kami Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam pengantar beliau untuk kitab ini berkata: “… saudara kita yang mulia, dai ke jalan Alloh di atas bashiroh dan dalil, Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy وفقه الله telah mengirimkan kepadaku tiga risalah-risalah:
Yang pertama: yang terbagus bidangnya dan paling luas curahan kerja kerasnya, adalah apa yang beliau sandarkan kepadanya, yaitu pembahasan hukum memegang mushhaf dan membaca Al Qur’an serta masuk masjid bagi orang yang junub dan wanita haidh. Ini adalah masalah-masalah yang di dalamnya banyak perselisihan. Semoga Alloh mensyukuri saudara kita Abdulloh Al Iryaniy, sungguh beliau telah mendiskusikan masalah-masalah ini dengan diskusi ilmiyyah yang mendetail, berpatokan pada dalil-dalil Al Qur’an dan sunnah dan atsar yang shohih, jauh dari taqlid dan serampangan yang memalingkan banyak tokoh dari ucapan dan perbuatan yang benar.
Risalah kedua: pembahasan beliau tentang sifat wudhu Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau mendatangkannya dalam keadaan yang paling baik.
Maka jadilah kedua pembahasan tadi rujukan yang penting yang belum pernah saya lihat semisal itu dalam kedua bab itu, dalam masalah perhatian dan penyimpulan pendapat di atas pemahaman yang tembus dan pengetahuan.
Risalah ketiga: pembahasan beliau tentang sifat Rosul yang mulia عليه الصلاة والسلام , saudara kita yang mulia itu mengurusinya dengan menyebutkan sifat Rosul صلى الله عليه وسلم dalam hadits-hadits yang shohih, dan beliau menghiasinya dengan faidah-faidah yang menguntungkan dari syarh-syarh hadits-hadits tadi, dan komentar-komentar yang lurus. Hanya saja judul yang ada di lembaran-lembaran itu lebih luas daripada apa yang dikandungnya dalam lipatan-lipatan risalah tadi. Seandainya saudara kita Abdulloh menambahkan kata Mukhtashor (ringkasan) Shifati Rosulillah صلى الله عليه وسلم niscaya yang demikian itu lebih layak.
Dan kita mohon pada Alloh untuk kita dan untuk saudara kita Abdulloh Al Iryaniy tambahan dari karunia-Nya. Dan dengan Alloh sajalah taufiq.”
7- “Shifatu Wudhuin Nabi صلى الله عليه وسلم (cet. Darul Atsar)
Di dalamnya ada pelajaran-pelajaran yang penting tentang tata cara wudhu Nabi صلى الله عليه وسلم dari sunnah-sunnah beliau yang shohih dan ucapan-ucapan para imam رحمهم الله.
8- “Mukhtashor Shifatin Nabi صلى الله عليه وسلم (cet. Darul Atsar)
Di dalamnya ada gambaran karakteristik Nabi صلى الله عليه وسلم , bagaikan cahaya yang agung yang dengannya orang yang bersemangat untuk meneladani beliau صلى الله عليه وسلم mengambil penerangan.
9- “Mulakhoshu Ahkamil Janaiz” (cet. Darul Atsar)
Di dalamnya ada pelajaran-pelajaran yang penting tentang hukum penyelenggaraan jenazah dari sunnah-sunnah beliau yang shohih dan ucapan-ucapan para imam رحمهم الله.
10- “Hishnul Mukmin: Adzkar Wa Ad’iyatin Nabi صلى الله عليه وسلم (cet. Maktabatul Imam Al Wadi’iy, kemudian cet. Maktabah Daril Hadits)
Di dalamnya ada dzikir-dzikir dan doa-doa yang penting bersumber dari dalil-dalil yang shohih, yang setiap mukmin butuh kepadanya sepanjang hidupnya.
11- “Qom’ul Bajajah Alladzina Ja’alun Nushha Bi Manzilati Harohaj Rowajah”
Di dalamnya ada dalil-dalil yang sangat banyak dan penjelasan yang sangat bagus tentang pentingnya membantah ahli batil.
12- “Manaqibul Khulafair Rosyidin” (cet. Maktabatul Imam Al Wadi’iy).
13- “Zadul Mujahidin Li Daf’i Baghyil Mu’tadin” (cet. Maktabah Ibni Taimiyyah)
14- “300 Hadits Muttafaqun ‘Alaih, Muntaqoh Min Riyadhish Sholihin” (cet. Darul Atsar)
15- “Ad Durroh Fit Ta’liq ‘Ala Shifatil Hajj Wal ‘Umroh Lisy Syaikh Al ‘Utsaimin”
16- “Riyadhudz Dzakirin Fi Syarh Hishnil Mukmin Min Adzkar Wa Ad’iyatin Nabiyyil Amin”
17- “Durrus Sahabah Fi Adabil Istithobah”
18- “Al Kusuf: Ahkam Wa Fawaid”
19- “Mansakul Hajj Wal ‘Umroh”
20- “Nailul Wathor Fi Ahkamil Mathor”
21- “Ayatullohil Kubro Allati Roahan Nabiy Fi Lailatil Isro”
22- “Fathush Shomad Fi Syarhish Shohihil Musnad Min Dalail Nubuwwah Muhammad Lil Imamil Wadi’iy”
Dan risalah-risalah berfaidah yang bermanfaat yang lain.
Dan Syaikh kami Al ‘Allamah Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله dalam kitab beliau “Ath Thobaqot” berkata: “Abdulloh bin Ahmad bin Hasan Al Iryaniy, Abu Abdirrohman, penyeru ke jalan Alloh, punya pandangan yang tajam terhadap sunnah, … (rujuk “Ath Thobaqot”/strata pertama/no. 63).
Hakikat Ilmu Dan Fiqh Yang Bermanfaat
Sesungguhnya ilmu itu adalah: mengetahui sesuatu sesuai dengan sifatnya, dengan pengetahuan yang pasti. Al Munawiy رحمه الله berkata: “Ilmu adalah keyakinan yang pasti dan kokoh, yang mencocoki kenyataan.” (“At Ta’arif”/hal. 523-524).
Dan ilmu itu dibangun di atas dalil. Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Sesungguhnya ilmu itu adalah sesuatu yang dalil itu tegak di atasnya. Dan ilmu yang bermanfaat adalah yang dibawa oleh Rosul. Maka yang penting adalah kita berkata dengan ilmu, yaitu penukilan yang dibenarkan dan penelusuran yang dipastikan.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 388).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Ahli fiqh dan atsar dari seluruh kota telah bersepakat bahwasanya ahli kalam adalah ahli bida’ dan para penyeleweng, dan mereka menurut semuanya tidak teranggap di dalam lapisan-lapisan fuqoha. Ulama itu hanyalah ahli atsar dan orang-orang yang memperdalam pemahaman atsar. Dan mereka itu bertingkat-tingkat di dalamnya dengan kemantapan, pembedaan dan pemahaman.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilm Wa Fadhlih”/3/hal. 176).
Dan barangsiapa merenungkan tulisan-tulisan Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy حفظه الله dia akan yakin bahwasanya beliau itu seorang yang alim dan faqih.
Kemudian ketahuilah bahwasanya hakikat ilmu itu itu bukanlah sekedar hapalan ilmu, mengetahui dalil-dalil, dan memahami nash-nash semata. Bahkan seorang yang alim dan faqih itu harus menggabungkan perkara-perkara itu tadi dengan pengamalan tuntutannya. Inilah dia orang alim dan faqih yang sejati. Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّمَا يَخْشَى الله مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء﴾ [فاطر/28]
“Yang takut kepada Alloh dari kalangan hamba-Nya hanyalah para ulama.”
Al Imam Ath Thobariy رحمه الله berkata: “Alloh Yang Mahatinggi penyebutannya berfirman: Hanyalah yang takut kepada Alloh sehingga berusaha melindungi diri dari hukuman-Nya dengan taat kepada-Nya adalah orang-orang yang tahu akan kemampuan Alloh terhadap apapun yang dikehendakinya, dan bahwasanya Alloh itu mengerjakan apapun yang diinginkannya, karena orang yang tahu perkara yang demikian itu dia akan merasa yakin akan hukuman-Nya atas kedurhakaannya, maka dirinya merasa takut dan gentar kepada-Nya bahwasanya Dia akan menghukumnya.” (“Jami’ul Bayan”/20/hal. 462).
Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله berkata: “Hanyalah orang faqih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, yang berharap besar terhadap akhirat, yang berpandangan tajam dalam urusan agamanya, yang terus-menerus untuk beribadah pada Alloh عز وجل.” (“Akhlaqul ‘Ulama”/karya Al Imam Al Ajurriy/no. (47)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله/cet. Darul Atsar).
Al Imam Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله berkata: “Orang yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan apa yang telah diketahuinya. Dan orang yang paling berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang telah diketahuinya. Dan orang yang paling utama adalah orang yang paling khusyu’ pada Alloh.” (Diriwayatkan oleh Ad Darimiy/no. (343)/dishohihkan oleh Syaikhuna Yahya Al Hajuriy حفظه الله dalam “Al ‘Urful Wardiy”/hal. 159/cet. Darul Atsar).
Dan telah nampak dari Asy Syaikh Al Iryaniy حفظه الله semangat beliau untuk mengetahui kebenaran dan mengikutinya setelah jelas kebenaran itu baginya, berbeda dengan dengan ahli hawa yang tidak bersemangat mengetahui kebenaran, dan jika nampak kebenaran yang menyelisihi hawa nafsu mereka, mereka membangkang terhadapnya dan memusuhi para pembawanya dalam keadaan dengki dan zholim.
Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab. Akan tetapi orang alim itu adalah orang yang mengikuti ilmu dan sunnah sekalipun ilmunya dan kitabnya sedikit. Dan orang yang menyelisihi Kitab dan Sunnah itu adalah ahli bid’ah sekalipun dia itu banyak riwayatnya dan kitabnya.” (“Thobaqotul Hanabilah”/2/hal. 30).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka seorang mujtahid yang berijtihad secara ilmiyyah murni dia tidak punya tujuan selain kebenaran, dan dia telah menempuh jalannya. Adapun orang yang mengikuti hawa nafsu murni maka dia itu adalah orang yang mengetahui kebenaran dan menentangnya.” (“Majmu’ul Fatawa”/29/hal. 44).
Beliau رحمه الله berkata: “Bahwasanya ilmu yang hakiki yang merasuk ke dalam hati itu menghalangi untuk muncul darinya perkara yang menyelisihinya, baik berupa ucapan ataupun perbuatan. Maka kapan saja muncul darinya perkara yang menyelisihi ilmu itu tadi, pastilah dia itu dikarenakan kelalaian hati tadi darinya, atau karena kelemahan ilmu itu di dalam hati untuk menghadapi perkara yang menentangnya. Dan itu merupakan kondisi-kondisi yang bertentangan dengan hakkikat ilmu, maka jadilah itu sebagai kebodohan dengan sudut pandang ini.” (“Iqtdhoush Shirotil Mustaqim”/1/hal. 257).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Tidaklah salaf dulunya memberikan nama fiqh kecuali terhadap ilmu yang disertai oleh amalan.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 115/Al Maktabatul Mishriyyah).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari alamat ilmu yang bermanfaat adalah bahwasanya pemiliknya itu tidak mendakwakan dirinya berilmu, dan tidak membanggakan ilmunya terhadap satu orangpun, dan tidak menisbatkan orang lain kepada kebodohan, kecuali orang yang menyelisihi sunnah dan Ahlissunnah, karena orang tadi (yang menisbatkan penyelisih sunnah kepada kebodohan) itu mengkritik orang tadi dalam rangka marah demi Alloh, bukan marah demi dirinya sendiri dan tidak bermaksud meninggikan dirinya sendiri di atas satu orangpun. Adapun orang yang ilmunya itu tidak bermanfaat, maka dia tak punya kesibukan selain menyombongkan diri dengan ilmunya terhadap orang-orang, dan menampilkan keutamaan ilmunya terhadap mereka, dan menisbatkan mereka kepada kebodohan, dan merendahkan mereka agar dengan itu dirinya meninggi di atas mereka. Dan ini termasuk karakter yang paling buruk dan paling hina.” (“Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘Alal Kholaf”/hal. 8).
Ilmu dan kebenaran itu tidak digantungkan pada tua atau mudanya usia. Berapa banyak orang muda usia manakala mereka bersemangat untuk mencari kebenaran dan tawadhu’ pada Robb mereka عز وجل maka Alloh memberikan taufiq pada mereka kepada perkara yang diridhoi-Nya. Alloh ta’ala berfirman:
﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى * وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا﴾ [الكهف/13، 14].
“Kami akan menceritakan padamu berita mereka dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman pada Robb mereka dan Kami tambahkan pada mereka hidayah dan Kami kokohkan tekad dan kesabaran hati mereka ketika mereka bangkit lalu mereka berkata: Robb Kami adalah Robb langit dan bumi, kami tak akan berdoa pada sesembahan selain-Nya. Sungguh jika demikian tadi kami telah mengatakan suatu kecurangan dan kemustahilan.”
Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Maka Alloh ta’ala menyebutkan bahwasanya mereka adalah para pemuda –yaitu syabab (anak-anak muda)- dan mereka itu lebih menghadapkan diri kepada kebenaran, dan lebih mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus daripada orang-orang tua yang telah berlarut-larut hidup dalam agama yang batil. Oleh karena itulah maka kebanyakan orang-orang yang menyambut seruan Alloh dan Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quroisy maka kebanyakan dari mereka telah lama tinggal di atas agama mereka, dan tidak masuk Islam dari mereka kecuali sedikit. Dan demikianlah Alloh ta’ala mengabarkan tentang ashhabul Kahf bahwasanya mereka itu adalah anak-anak muda.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/5/hal. 140).
Diriwayatkan dari Ibrohim Al Harbiy رحمه الله bahwasanya beliau berkata: “Sesungguhnya orang muda jika mengambil ucapan Rosululloh صلى الله عليه وسلم , para shohabat dan para tabi’in, maka dia itu adalah orang besar. Sementara syaikh tua jika mengambil ucapan Abu Hanifah dan meninggalkan sunnah-sunnah, maka dia itu kecil.” (“Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah”/Al Lalikaiy/no. 91)([2]).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Pada masa lalu telah ada orang tua dan muda yang memimpin dengan ilmunya. Dan Alloh itu mengangkat derajat-derajat orang yang disukai-Nya.” (“Jami’ Bayanil ‘Ilmi Wa Fadhlih”/1/hal. 501/Dar Ibnil Jauziy).
Ahli Ahwa Menghinakan Ahli Hadits, Membenci Mereka dan Mencerca Mereka Tanpa Kebenaran Siapakah Ahli Hadits itu?
Abu Muhammad Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Adapun ashabul hadits maka sesungguhnya mereka itu mencari kebenaran dari sisi hadits, dan menelusurinya dari tempat yang di situ ada dugaan besar ada kebenaran di situ, dan mereka mendekatkan diri pada Alloh ta’ala dengan mengikuti sunnah-sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan mencari jejak-jejak beliau dan kabar-kabar beliau di daratan dan lautan, di timur dan barat, …” (“Ta’wil Mukhtalafil Hadits”/hal. 73).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan kami tidak memaksudkan bahwasanya Ahli Hadits itu adalah orang-orang yang membatasi diri dengan mendengar hadits atau menulisnya atau meriwayatkannya, bahkan kami memaksudkan bahwasanya mereka itu adalah: setiap orang yang paling berhak untuk menghapalnya, mengetahuinya, dan memahaminya lahir dan batin, dan mengikutinya lahir dan batin. Dan begitu pula Ahlul Qur’an.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/95).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Jelaslah bahwasanya orang yang paling berhak untuk menjadi Firqoh Najiyah adalah Ahlul hadits Was Sunnah, yang mana mereka itu tak punya pengikut yang mereka fanatik untuknya kecuali Rosululloh صلى الله عليه وسلم . Dan mereka itu adalah orang yang paling tahu tentang ucapan dan keadaan beliau, dan mereka itu paling memisahkan riwayat yang shohih dengan yang sakit. Para imam mereka adalah para fuqoha dalam riwayat dan orang-orang yang mengetahui makna-maknanya dan mengikutinya, dalam rangka membenarkan, mengamalkan, mencintai, loyal dengan orang yang loyal terhadap riwayat, memusuhi orang yang memusuhi riwayat, mereka menimbang ucapan-ucapan yang global dengan apa yang beliau bawa yang berupa Al Kitab dan As Sunnah, maka mereka tidak memancangkan suatu perkataan dan menjadikannya termasuk dari dasar-dasar agama mereka ataupun pendapat mereka, jika memang tidak tetap dalilnya dari apa yang dibawa oleh Rosul. Bahkan mereka menjadikan Al Kitab dan Al Hikmah yang Rosul diutus dengannya itulah dasar yang mereka yakini dan menjadi patokan mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 347).
Beliau رحمه الله berkata: “Ahlul Hadits, dan mereka itu adalah Salaf (pendahulu) dari tiga generasi dan Kholaf (pengganti) yang menempuh jalan mereka, …” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 355).
Mereka itulah Ahlul Hadits.
Dan kami telah melihat kerasnya perhatian syaikh kami Abdulloh Al Iryaniy terhadap sanad hadits dan isinya, keshohihannya dan kelemahannya, menghapalnya dan menaatinya. Maka beliau seperti para masyayikh sunnah yang lainnya adalah termasuk dari sejumlah Ahlul Hadits, dengan karunia dan kedermawanan Alloh.
﴿وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا﴾ [الإسراء: 20].
“Dan tidaklah pemberian Robbmu itu terlarang.”
Beliau dan seluruh masyayikh sunnah yang kokoh memiliki saham dari orang yang dipuji oleh Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Dan segala pujian bagi Alloh yang menegakkan di zaman-zaman kosong orang-orang yang menjadi penjamin untuk menjelaskan sunnah-sunnah para rosul, dan mengkhususkan umat ini dengan senantiasa adanya kelompok yang tegak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka ataupun menyelisihi mereka sampai datangnya urusan-Nya, sekalipun seluruh jin dan manusia bersatu untuk memerangi mereka secara berkelompok-kelompok. Mereka mengajak orang yang sesat kepada petunjuk, bersabar dari gangguan mereka, membikin orang yang buta bisa melihat dengan cahaya Alloh dan menghidupkan dengan kitab-Nya orang-orang yang mati. Maka mereka itu adalah orang yang paling bagus jalannya dan paling lurus ucapannya. Maka berapa banyaknyakah orang yang terbunuh oleh Iblis mereka hidupkan lagi, orang yang tersesat dan bodoh tidak mengetahui jalan kelurusannya mereka bimbing, dan para mubtadi’ di dalam agama Alloh mereka tembaki dengan meteor-meteor kebenaran dalam rangka jihad di jalan Alloh dan mencari keridhoan-Nya, dan menjelaskan hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya terhadap alam semesta dalam rangka mencari kedekatan dengan-Nya dan mendapatkan keridhoan-Nya dan jannah-jannah-Nya. Maka mereka memerangi di jalan Alloh orang yang keluar dari agama-Nya yang tegak dan jalan-Nya yang lurus orang-orang yang mengibarkan bendera-bendera kebid’ahan, … dst.” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 7/cet. Al Maktabatul ‘Ashriyyah).
Ahlul ahwa menghina Ahlul Hadits, membenci dan mencerca mereka
Al Hakim An Naisabury -rohimahulloh- berkata, ”Setiap orang yang ternisbatkan kepada suatu jenis penyelewengan dan kebid’ahan, dia itu tidak memandang kepada Ath Tho’ifatul Manshuroh kecuali dengan pandangan mata kehinaan dst.” (“Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits” 1/hal. 6)
Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata: “Pasal: tentang bahwasanya Ahlul Hadits mereka itulah anshor (penolong) Rosululloh r dan golongan khusus beliau, dan tak akan membenci Anshor orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir: “Wahai orang yang membenci dan mencaci Ahlul hadits, bergembiralah dengan akad kewalian dengan setan.”
(“Al Kafiyah was Syafiyah”/Ibnul Qoyyim/1/hal. 57)
Dan itu adalah termasuk alamat ahli bida’ sejak zaman dulu. Al Imam Abu Hatim Ar Roziy rohimahulloh berkata: “Alamat dari Ahlul bida’ adalah celaan terhadap Ahlul Atsar.” (“Aqidatus Salaf”/ hal. 110/Al Imam Ash Shobuniy/Darul Minhaj/hasan lighoirih).
Ahmad bin Sinan Al Qoththon رحمه الله berkata: “Tidak ada di dunia seorang mubtadi’pun kecuali dia itu membenci Ahli Hadits. Dan jika seseorang membikin bid’ah maka dicabutlah manisnya hadits dari hatinya.” (“Aqidatus Salaf”/ hal. 109/Al Imam Ash Shobuniy/Darul Minhaj/hasan lighoirih).
Dan demikian pula hizbiyyun. Imam Al Wadi’y -rohimahulloh- berkata,”Dan di antara alamat para hizbiyyin adalah bahwasanya mereka mengejek ulama, dan mentazhid (menjadikan orang merasa tidak butuh) dari duduk-duduk dengan ulama, dan ini merupakan perbuatan yang membikin senang musuh-musuh Islam, dan bahkan merupakan perbuatan yang menyenangkan setan-setan, Wallohul musta’an.” (“Ghorotul Asyrithoh” 1/hal. 579/Maktabah Shon’a Al Atsariyyah). Dorongan Untuk Menangguk Faidah
Sesungguhnya Alloh menciptakan manusia dan jin agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu apapun, dan menuntut mereka ibadah dengan mengikuti syariat Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم , dan memperingatkan mereka dari tipu daya setan yang menyeru golongannya agar menjadi penghuni neraka Sa’ir.
Dan ini semua butuh kepada kedalaman ilmu. Maka mengetahui perincian syariat agar manusia bisa menegakkannya dan mengetahui perincian perangkap-perangkap setan agar mereka menghindar darinya, itu semua butuh kepada bashiroh (ilmu dan keyakinan, atau puncak ilmu). Maka kita harus bersemangat untuk menuntut ilmu syar’iy.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Tiada keraguan bahwasanya orang yang diberi ilmu dan iman itu lebih tinggi daripada orang yang diberi iman saja, sebagaimana ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah. Dan ilmu yang terpuji yang ditunjjukkan oleh Kitab dan Sunnah adalah ilmu yang diwariskan oleh para Nabi. Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
إن العلماء ورثة الأنبياء؛ إن الأنبياء لم يورثوا درهما ولا دينارا، وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر .
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dirham ataupun dinar, akan tetapi mereka itu hanyalah mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.” ([3])
Dan ilmu ini ada tiga macam:
[jenis pertama]: Ilmu tentang Alloh, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya dan yang mengikuti itu. Dan untuk yang semisal itu Alloh menurunkan surat Al Ikhlas, Ayat Kursi dan semisalnya.
Jenis kedua: ilmu tentang apa yang Alloh kabarkan, berupa perkara yang telah lewat, perkara yang akan terjadi di masa mendatang, dan perkara yang terjadi saat ini. Dan untuk yang semisal itu Alloh menurunkan ayat-ayat kisah, janji, ancaman, sifat Jannah dan Neraka dan semisalnya.
Jenis ketiga: ilmu tentang apa yang Alloh perintahkan, tentang perkara-perkara yang terkait dengan hati dan anggota badan, tentang iman kepada Alloh, pengetahuan tentang hati dan keadaannya, ucapan dan amalan anggota badan. Dan ilmu ini ada di dalamnya ilmu tentang dasar-dasar iman dan kaidah-kaidah Islam. Dan masuk di dalamnya ilmu tentang ucapan-ucapan dan perbuatan lahiriyyah. Dan ilmu ini termasuk di dalamnya apa yang ditemukan dalam kitab-kitab ahli fiqh, ilmu tentang hukum-hukum perbuatan lahiriyyah, … dst.
(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 396-397).
Al Imam Al Lalikaiy رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya perkara yang paling wajib atas seseorang adalah: mengenal aqidah agama, dan perkara yang Alloh bebankan pada para hamba-Nya, yang berupa memahami tauhid-Nya, sifat-sifat-Nya, pembenaran Rosul-rosul-Nya dengan dalil-dalil dan keyakinan, dan mencari sarana kepada jalan-jalannya dan berdalil terhadapnya dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti. Dan termasuk ucapan yang paling agung dan paling jelas hujjahnya dan dipahami akal adalah: Kitabulloh yang benar dan terang, lalu ucapan Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan perkataan para Shohabat beliau orang-orang yang terbaik dan bertaqwa, kemudian apa yang disepakati oleh para Salafush Sholihun, lalu berpegang teguh dengan semua itu dan tegak di atasnya sampai hari Pembalasan. Lalu menjauh dari bid’ah-bid’ah ataupun mendengarnya dari perkara-perkara yang dibuat-buat oleh orang-orang yang menyesatkan.” (“Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah Wal jama’ah”/1/hal. 2).
Dan Al Khothib Al Baghdadiy رحمه الله berkata: “Maka wajib bagi setiap orang untuk mempelajari perkara yang wajib diketahuinya, dari perkara-perkara yang Alloh wajibkan padanya, sesuai dengan kemampuannya untuk mencurahkan kerja kerasnya demi kebaikan dirinya sendiri. Dan setiap muslim yang baligh, berakal, pria dan wanita, orang merdeka, budak, wajib bagi dirinya untuk bersuci, sholat, dan puasa wajib. Maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui ilmunya. Dan demikian pula wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui apa yang halal baginya dan apa yang diharomkan untuknya, yang berupa makanan, minuman, pakaian, kemaluan, darah, dan harta. Maka ini semua tidak boleh seseorang itu untuk tidak mengetahuinya. Dan mereka wajib untuk memulai mempelajarinya sampai mereka itu mencapai baligh dalam keadaan mereka itu muslimin, atau ketika mereka masuk Islam setelah mencapai baligh. Pemerintah memaksa para suami dan para tuan untuk mengajari para istri dan para budak perempuan tentang perkara-perkara yang kami sebutkan tadi. Dan pemerintah harus menghukum orang-orang jika membangkang dari perkara tadi. Dan pemerintah harus menertibkan orang-orang untuk mengajari orang-orang yang bodoh, menetapkan gaji untuk mereka dari baitul mal, dan wajib bagi para ulama untuk mengajari orang bodoh, agar terpisahlah baginya kebenaran dari kebatilan.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/1/hal. 185).
Jika kita telah tahu ini, maka tahulah kita bahwasanya kebutuhan kita kepada ilmu syar’iy itu melebihi kebutuhan kita kepada makan dan minum.
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan ilmu itu adalah apa yang dalil itu tegak di atasnya. Dan yang bermanfaat darinya adalah yang dibawa oleh Rosul. Dan ilmu itu lebih baik daripada keadaan (semacam keajaiban). Ilmu itu hakim sementara keadaan itu objek yang dihakimi. Ilmu itu penunjuk jalan, sementara keadaan itu sebagai pengikutnya. Ilmu itu sang pemberi perintah dan larangan, sementara keadaan itu pelaksana yang menerima tugas. Keadaan itu adalah pedang, jika tidak disertai oleh ilmu maka dia itu bagaikan perusak di tangan orang yang main-main. Keadaan itu adalah tunggangan yang tak bisa disaingi. Jika dia tidak disertai oleh ilmu, dia akan melemparkan penunggangnya ke tempat-tempat kebinasaan dan kehancuran. Keadaan itu bagaikan air, diberikan kepada orang baik dan orang jahat. Jika keadaan itu tidak disertai oleh cahaya ilmu, jadilah keadaan tadi bencana bagi pemiliknya. Keadaan tanpa ilmu itu bagaikan penguasa yang keganasannya tidak dikekang oleh suatu pengekang. Keadaan tanpa ilmu itu bagaikan api tanpa pengendali. Manfaat keadaan itu tidak melampaui pemiliknya, sementara manfaat ilmu itu bagaikan hujan deras yang menimpa dataran tinggi, bukit-bukit, perut-perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan. Area ilmu itu meliputi dunia dan akhirat, sementara area keadaan itu sempit tidak meliputi orang lain, dan terkadang dia juga tidak meliputi pemiliknya.
Ilmu itu adalah penunjuk, sementara keadaan yang shohih itu mengikuti petunjuk ilmu tadi. Ilmu itu adalah warisan para Nabi dan peninggalan mereka. pemilik ilmu itu adalah bagaikan keluarga dekat Nabi dan pewaris mereka. ilmu itu adalah kehidupan hati, cahaya mata hati, obat isi dada, kebun akal, keledzatan arwah, teman akrab orang yang kesepian, penunjuk bagi orang-orang yang kebingungan. Dan dia itu adalah timbangan yang dengannya ucapan, perbuatan dan keadaan itu ditimbang. Ilmu itu adalah hakim yang memisahkan antara keraguan dan keyakinan, ghoiy (kesesatan karena tidak beramal dengan ilmu) dengan rosyad (kelurusan karena beramal dengan ilmu), huda (petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat) dan dholal (kesesatan karena tak punya ilmu). Dengannya Alloh dikenal dan diibadahi, diingat, ditunggalkan, dipuji, diagungkan. Dan dengannya orang-orang yang berjalan itu mengikuti petunjuk. Dan dari jalannya orang yang sampai itu sampai ke tujuan. Dan dari pintunyalah para pencari itu masuk. Dengannya syariat dan hukum itu dikenal, dan dipisahkannya yang halal dari yang harom, dan dengannya kekeluargaan itu disambung. Dan dengannya tempat keridhoan Yang dicintai itu dikenal. Dan dengan mengenalnya dan mengikutinyalah akan sampai kepada Dzat Yang dicintai itu dalam waktu dekat.
Ilmu itu adalah imam, dan amalan itu adalah makmum. Ilmu itu pemimpin, dan amalan itu pengikut. Ilmu itu adalah sahabat di keterasingan, teman bicara di kesepian, teman akrab di keterasingan. Ilmu itu adalah penyingkap kesamaran. Ilmu itu adalah orang kaya yang mana orang yang menemukan perbendaharaannya tidak akan jadi faqir. Ilmu itu adalah tempat perlindungan yang mana orang yang bernaung di penjagaannya tidak akan hilang. Mengulang kembali ilmu itu adalah tasbih, penelusurannya adalah jihad, pencariannya adalah pendakatan diri, pencurahan segalanya untuk mendapatkannya adalah shodaqoh. Pengajarannya itu menyamai puasa dan sholat. Kebutuhan kepadanya itu lebih besar daripada kebutuhan kepada minuman dan makanan. Al Imam Ahmad رضي الله عنه berkata: “Manusia itu lebih butuh kepada ilmu daripada kebutuhan mereka pada makan dan minum, karena seseorang itu butuh pada makanan dan minuman dalam sehari sekali atau dua kali, sementara kebutuhannya pada ilmu itu sesuai dengan bilangan nafasnya.”
(selesai dari “Madarijus Salikin”/2/hal. 469-470).
Dan Alloh telah memberikan taufiq pada sebagian saudara kita salafiyyin حفظهم الله وجزاهم خيرا untuk berupaya keras untuk mengundang syaikh kami yang mulia Abdulloh Al Iryaniy untuk menegakkan dakwah dan tarbiyyah di negri kita Indonesia. Maka kami mendorong para ikhwah semua untuk memanfaatkan kesempatan agung ini dengan hadir di majelis-majelis beliau dan meneguk mata air ilmu beliau dalam rangka mendekatkan diri pada Alloh عز وجل dan dalam rangka menjaga peninggalan Nabi Mushthofa صلى الله عليه وسلم.
Maka kami mohon pada Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang untuk menyatukan hati-hati saudara-saudara kita sehingga satu sama lain saling menyayangi, saling merendahkan diri kepada saudaranya, berkumpul dalam satu majelis dalam keadaan saling bersaudara di majelis ulama Robbaniyyun yang turun kepada majelis mereka ketentraman, mereka diliputi rohmah, mereka dikelilingi para malaikat, dan Alloh menyebutkan mereka di kalangan para makhluk yang ada di sisi-Nya.
Dan hendaknya mereka mengetahui bahwasanya tidaklah datang suatu zaman kecuali zaman yang setelahnya itu lebih jelek daripada zaman tadi sampai kita berjumpa dengan Robb kita. Dan kita tidak berputus asa bahwasanya Alloh akan menyayangi kita dan memperbaiki kondisi kita. Akan tetapi para musuh bersemangat untuk mempelajari syubuhat dan memenuhi syahawat. Maka jika para salafiyyun tidak memikul warisan para Nabi عليهم الصلاة والسلام –yaitu ilmu yang dengannya dihasilkan keyakinan dan kesabaran-, maka yang selain mereka lebih pantas untuk tidak memikulnya. Dan jika para salafiyyun tidak menjadi penjaga agama ini dengan senjata-senjata yang kuat, maka yang selain mereka lebih pantas untuk tidak menjaganya.
Kabar Gembira Bagi Ikhwah Yang Baku Tolong Demi Dihasilkannya Kebaikan Ini
Dan para ikhwah telah mencurahkan kerja keras untuk dihasilkannya kebaikan yang besar ini, dan mereka telah merasakan berbagai gangguan, rasa capek, kegundahan dan ujian-ujian lainnya.
Dan kerja keras tadi adalah termasuk bentuk saling menolong di atas kebaikan dan taqwa yang diperintahkan di dalam Al Qur’an, maka Alloh tak akan menyia-nyiakan pahala orang yang memperbagus amalannya, sekalipun terlihat kecil di mata manusia. Dan setiap orang mendapatkan derajat-derajat disebabkan oleh apa yang mereka amalkan. Alloh ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ الله لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا﴾ [النساء: 40].
“Sesungguhnya Alloh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarroh, dan jika ada kebajikan sebesar dzarroh, niscaya Alloh akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”
Dan seluruh casa capek orang-orang yang mengikhlaskan amalan untuk Alloh dan mengikuti Rosul-Nya di jalan Alloh itu ada pahalanya di sisi Alloh. Alloh Yang Mahasuci berfirman:
﴿ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ الله وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ الله لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ * وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ الله أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ [التوبة: 120، 121].
“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Alloh, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Alloh akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Dan tiada keraguan bahwasanya ujian dan cobaan itu akan menghadang orang-orang yang menempuh Shirothol Mustaqim untuk Alloh menguji kesabaran mereka. Alloh جل ذكره berfirman:
﴿الم أَحَسِبَ النّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنّا الّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنّ الله الّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنّ الْكَاذِبِينَ﴾ [ الْعَنْكَبُوتُ 1-3].
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Al Imam Ibnul Qoyyim  berkata: “Maka hendaknya sang hamba merenungkan alur ayat-ayat ini dan pelajaran-pelajaran dan perbendaharaan hikmah yang dikandungnya. Karena sesungguhnya manusia itu jika para Rosul diutus kepada mereka, mereka ada di antara dua perkara: apakah salah seorang dari mereka berkata: “Kami beriman” ataukah tidak mengatakan itu dan bahkan berlanjut di atas kejelekan dan kekufuran. Barangsiapa berkata: “Kami beriman”, Robbnya akan mengujinya, mencobanya dan memberinya fitnah. Fitnah itu adalah: ujian dan cobaan untuk menjadi jelaslah orang yang jujur dari orang yang dusta. Sedangkan orang yang tak mau berkata: “Kami beriman” maka janganlah dia mengira bahwasanya dia bisa menghindarkan diri, meloloskan diri dari Alloh dan mendahului-Nya, karena sesungguhnya seluruh tahapan itu dilipat di kedua tangan Alloh.” (“Zadul Ma’ad”/3/hal. 11).
Maka sebesar apapun ujian yang menimpa sang hamba, jika dia bertaqwa kepada Alloh, maka sesungguhnya Alloh itu bersama dengan orang-orang yang bertaqwa. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَمَنْ يَتَّقِ الله يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾ [الطلاق: 2، 3].
“Dan barangsiapa bertaqwa pada Alloh, Alloh akan menjadikan untuknya jalan keluar, dan memberinya rizqi dari arah yang tak diduganya.”
Al Imam Ibnul Qoyyim  berkata: “Maka sesungguhnya hamba itu jika memurnikan niatnya untuk Alloh ta’ala, dan maksud dia, keinginan dia dan amalan dia itu adalah untuk wajah Alloh Yang Mahasuci, maka Alloh itu bersama dia, karena sesungguhnya Yang Mahasuci itu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan kepala taqwa dan kebaikan adalah murninya niat untuk Alloh dalam penegakan kebenaran. Dan Alloh Yang Mahasuci itu tiada yang bisa mengalahkan-Nya. Maka barangsiapa Allo bersamanya, maka siapakah yang bisa mengalahkannya atau menimpakan kejelekan padanya? Jika Alloh bersama sang hamba, maka kepada siapakah dia takut? Jika Alloh tidak bersamanya, maka siapakah yang diharapkannya? Dan kepada siapa dia percaya? Dan siapakah yang menolongnya setelah Alloh meninggalkannya? Maka jika sang hamba menegakkan kebenaran terhadap orang lain, dan terhadap dirinya sendiri lebih dulu, dan dia menegakkanya itu adalah dengan menyandarkan pertolongan pada Alloh dan karena Alloh, maka tiada sesuatupun yang bisa menghadapinya. Seandainya langit dan bumi serta gunung-gunung itu membikin tipu daya untuknya, pastilah Alloh akan mencukupi kebutuhannya dan menjadikan untuknya jalan keluar dari masalahnya.” (“I’lamul Muwaqqi’in”/ hal. 412/cet. Darul Kitabil ‘Arobiy).
Dan hanya kepada Alloh sajalah orang mukmin itu bertawakkal, karena sesungguhnya Dia itulah Yang akan mencukupinya. Alloh Yang Mahasuci berfirman:
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى الله فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ الله بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ الله لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾ [الطلاق: 3].
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Seandainya sang hamba bertawakkal pada Alloh ta’ala dengan sebenar-benar tawakkal dan langit dan bumi beserta seluruh yang di dalamnya membikin tipu daya untuknya,pastilah Alloh akan menjadikan untuknya jalan keluar dari yang demikian itu, mencukupinya dan menolongnya.” (“Badai’ul Fawaid”/2/hal. 465).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Seandainya sang hamba bertawakkal pada Alloh ta’ala dengan sebenar-benar tawakkal dalam upaya menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya, dan memang dia diperintahkan untuk menghilangkan gunung itu, niscaya dia akan bisa menghilangkannya.” (“Madarijus Salikin”/1/hal. 81).
Kita cukupkan sampai di sini. Dan kita mohon pada Alloh عز وجل dengan karunia-Nya dan kedermawanan-Nya agar mengokohkan kita dan seluruh masyayikh kita di atas kebenaran sampai kita berjumpa dengan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Mahadekat lagi Maha memenuhi doa-doa.
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾ [آل عمران: 8].
“(mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Memberi (karunia)”.
سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.
والحمد لله رب العالمين.

([1]) Di selang waktu sakitnya beliau di luar Yaman
([2]) Sanadnya lemah. Ubaidulloh bin Muhammad bin Ahmad adalah Abu Ahmad, tsiqoh sebagaimana di “Tarikh Baghdad”. Ahmad bin Muhammad ibnush Shobbah Al Harowiy dia itu adalah Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad ibnush Shobbah, tsiqoh. sebagaimana di “Tarikh Baghdad” (4/hal. 364). Abu Hamid rowi dari Ibrohim Al Harbiy, tidak diketahui siapakah dia itu? Pada asalnya Ahmad bin Muhammad ibnush Shobbah Al Harowiy telah mendengar riwayat-riwayat langsung dari Ibrohim Al Harbiy.
([3]) HR. Abu Dawud (3641) dan At Tirmidziy (2682), hasan lighoirih.
Diperiksa dan diidzinkan penyebarannya oleh: Fadhilatusy Syaikh Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله
Ditulis  dan diterjemahkan Oleh: Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy Al Indonesiy –semoga Alloh memaafkannya-
Dammaj, 8 Robi’uts Tsani 1434 H
Judul Asli: “Hatstsu Ahli Biladiy ‘Alal Istifadah Min Asy Syaikh Abdillah Al Iryaniy”
Judul terjemah bebas: “Anjuran Menimba Ilmu Syar’iy Dari Asy Syaikh Abdulloh Al Iryaniy”

Posting-posting Terkait >>> Majelis Ilmu Syaikh Abdullah al-Iryani di Indonesia Tahun 1434H >>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani dan Syaikh 'Abdul-Ghani al-'Umari >>> (Soal-Jawab) Permasalahan: Dakwah, Fitnah, & Hizbiyyah >>> Ushulus-Sittah al-Imam Muhammad bin Abdul-Wahab >>> Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Zaid bin Hasan al-Wushabi dan Syaikh Abdullah bin Ahmad al-Iryani >>> Majelis Ilmu Utusan Imam Dammaj Syaban 1433H >>> Qawaidhul-Arba (Empat Kaidah Memahami Tauhid) al-Imam Muhammad bin Abdul-Wahab >>> Nasihat Bermanfaat dari Masyaikh Yaman: Syaikh Abu 'Amr 'Abdul Karim al-Hajuri dan Syaikh Abu 'Abdillah Zaid bin Hasan al-Wushabi http://islam-itu-mulia.blogspot.com/2013/02/majelis-ilmu-syaikh-abdullah-al-iryani.html

> > > > > > > READ MORE

Nasihat yang Luhur dari Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali ke-2 (2/2)

بسم الله الرحمن الرحيم

*************************

النصح الرفيع للوالد العلامة الشيخ ربيع
(الجزء الثاني)

Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri حفظه الله - Nasihat yang Luhur untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali حفظه الله - ke-2 (Audio) Jadid!


Sumber situs الشيخ يحيى حفظه الله

Direkam pada Malam Senin, 6 Jumadil Awal 1434H

Diterjemahkan dengan judul:


Nasihat Yang Bernilai Tinggi

untuk Fadhilatusy Asy Syaikh Robi' Al Madkholi
(Diterjemahkan berdasarkan naskah tertulis yang telah disempurnakan langsung oleh Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh menjaga beliau-)
(Dan Muqaddimah dalam format tulisan ini telah diterbitkan di situs www.sh-yahia.net pada tanggal 22 Jumadil Awal 1434H)

BACA TEXT TERJEMAHAN BERBAHASA INDONESIA, DI SINI!
UNDUH -PDF- Nasihat Yang Bernilai Tinggi untuk Fadhilatusy Asy Syaikh Robi' Al Madkholi - (Muqaddimah tertulis dari Syaikh Yahya al-Hajuri, ARABIC), DI SINI!
UNDUH -Word- Nasihat Yang Bernilai Tinggi untuk Fadhilatusy Asy Syaikh Robi' Al Madkholi - Bag.2 dari 2 (Tamat), DI SINI!
UNDUH -Word- Nasihat Yang Bernilai Tinggi untuk Fadhilatusy Asy Syaikh Robi' Al Madkholi - Bag.1 dari 2, DI SINI!
DOWNLOAD -PDF- The Second Lofty Advice for the Father, the Illustrious Scholar, Shaikh Rabee' - Full Translation (ENGLISH), HERE!
DOWNLOAD -PDF- The Second Lofty Advice for the Father, the Illustrious Scholar, Shaikh Rabee' - Part One (ENGLISH), HERE!

Sumber terjemahan: Isnad.net dan aloloom.net (Indonesia)

**************************

Nasihat Yang Bernilai Tinggi
Untuk Fadhilatusy Asy Syaikh Robi' Al Madkholi
(bagian kedua/akhir)
oleh:
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy
حفظه الله
(diterjemahkan berdasarkan naskah tertulis yang telah disempurnakan langsung oleh Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh menjaga beliau-)
Diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilalloh:
Abu Fairuz Abdurohman bin Soekojo
Al Jawiy Al Indonesiy
Dan Abu Umar Ahmad Rifa'iy
Al Jawiy Al Indonesiy
-semoga Alloh memaafkan keduanya-


Judul Asli:
"An Nushhur Rofi' 'Ala Fadhilatusy Syaikh Al 'Allamah Robi'"
(Al Juz'uts Tsani)

Terjemah bebas:
"Nasihat Yang Bernilai Tinggi Untuk Fadhilatusy Syaikh Robi' Al Madkholi"
(bagian kedua/akhir)
(diterjemahkan berdasarkan naskah tertulis yang telah disempurnakan langsung oleh Asy Syaikh Yahya –semoga Alloh menjaga beliau-)
oleh:
Fadhilatusy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuriy
حفظه الله

Diterjemahkan Oleh Al Faqir Ilalloh:
Abu Fairuz Abdurohman bin Soekojo
Al Jawiy Al Indonesiy
Dan Abu Umar Ahmad Rifa'iy
Al Jawiy Al Indonesiy
-semoga Alloh memaafkan keduanya-


بسم الله الرحمن الرحيم
Pengantar Penerjemah
الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد:
Sesungguhnya segala puji bagi Alloh ta'ala yang memberkahi usaha kami untuk menyelesaikan terjemah "An Nushhur Rofi' 'Ala Fadhilatusy Syaikh Al 'Allamah Robi'" (Al Juz'uts Tsani), dan ini adalah bagian kedua/akhir dari rangkaian terjemah tersebut.
kami menerjemahkan ini bukan dalam rangka persaingan akan tetapi menjalankan niat sejak awal untuk menyebarkan kebaikan dan memenuhi permintaan yang ditujukan kepada kami untuk membantah para ahli ahwa yang memakai ketergelinciran para ulama untuk menghantam dakwah salafiyyah. Selanjutnya kami persilakan para pembaca apakah memilih untuk membaca terjemahan kami ataukah terjamahan saudara-saudara yang lain.
Jika ada yang bertanya: "An Nushhur Rofi'" juz pertama itu kapan?
Jawabnya: itu adalah ceramah Asy Syaikh Yahya حفظه الله pada malam Jum'at, 10 Syawwal 1432.
Adapun untuk yang juz dua adalah yang kami terjemahkan sekarang ini, ceramah pada malam senin, 6 Jumadal Ula 1434 H
Selamat menyimak, semoga Alloh memberkahi dan memberikan taufiq pada kita semua.
**************************

بسم الله الرحمن الرحيم
Pembaca lembaran: Syaikh Robi' berkata: "Dan sekarang dia harus dipaksa untuk mengganti uslub (metode, langkah)nya."
Syaikh Yahya menjawab: "Semoga Alloh memberi Anda taufiq wahai Syaikh. Perkataan Anda ini tidak benar. Demi Alloh, Anda tidak bisa memaksaku dan sayapun tidak bisa memaksa Anda. Dan demikian itu bukanlah jalan dari para nabi, tidak pula jalan para ulama yang kita menimba ilmu dari mereka. Bahkan Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman kepada nabi-Nya:
﴿فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ﴾[الغاشية21- 22:]
"Maka berilah peringatan, tidaklah engkau melainkan seorang pemberi peringatan. Engkau tidak bisa untuk memaksakan kehendak terhadap mereka." (QS. Al Ghosyiah:21-22)
Nasehat lebih baik daripada pemaksaan, Anda memberi nasehat dan sayapun memberi nasehat, saling menyayangi dan menjalin ukhuwah, lebih baik daripada memaksa dengan kekuatan.
Wahai syaikh, banyak negara tidak bisa memaksa orang sesuai yang mereka kehendaki. Wahai Syaikh, menurut saya Anda sendiri tidak bisa memaksa anak Anda bila dia tidak patuh kepada Anda. Dan saya, –demi Alloh– tidak bisa memaksa anak saya apabila dia tidak patuh. Saya ini adalah pemegang dakwah yang tidak mungkin Anda ingkari itu, tidak pula selain Anda. Bagaimana Anda memaksa saya, sedangkan di belakang saya beribu-ribu orang mengikuti, yang mereka semua –segala puji hanya untuk Alloh– berada di atas sunnah. Bila Anda mengucapkan satu kata saja, niscaya mereka membalas dengan lebih banyak. Demi Alloh, saya sekarang menahan bantahan-bantahan di dada-dada mereka .
Bagaimana bisa Anda memaksaku? Ini tidak benar. Semoga Alloh memberi barokah dan taufiq kepada Anda
﴿فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ﴾[الغاشية21- 22:]
"Maka berilah peringatan, tidaklah engkau melainkan seorang pemberi peringatan. Engkau tidak bisa untuk memaksakan kehendak terhadap mereka." (QS. Al Ghosyiah:21-22).
{ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ} [العصر: 3]
"Dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran."
[Adapun perkataan:] "Harus dipaksa!, harus begini!," ini tidak benar.
Anggaplah Anda –semoga Alloh memberi keselamatan kepada kami dan kepada Anda– telah mendorong beberapa orang dari saudara-saudaraku untuk memberontak terhadap saya, baik dari orang-orang yang dulu belajar di sini, ataupun orang-orang yang terpengaruh mereka, inipun juga sesuatu yang tidak benar, bila Anda menginginkan dengan mereka supaya bisa menekan saya dengan Syaikh Fulan dan Syaikh Fulan, agar saya berkata demikian dan demikian, tidak benar, demi Alloh. Ini hanya akan menambah mereka semakin jauh tersesat.
Kita tidak belajar demikian dari para ulama kita, demi Alloh, memaksa fulan untuk berbuat demikian, dan memaksa yang lain untuk berbuat demikian! Bahkan sebaliknya kita belajar berlemah lembut;
«فإنه لم يكن في شيء إلا زانه ولم ينزع من شيء إلا شانه »
"Sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada sesuatu kecuali membaguskannya, dan tidak tercabut dari sesuatu kecuali menjelekkannya." Al hadits
Dan Alloh Ta'ala berfirman:
﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَن﴾ [الإسراء:53]
"Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu supaya mereka berkata dengan kata-kata yang paling baik."
Adapun kata "paksa" itu tidak lain keluar dari beliau dalam keadaan emosi, semoga Alloh memaafkan Anda wahai Syaikh."
Kata pembaca lembaran: Syaikh Robi' berkata: "Apabila terus-menerus dalam melakukan uslubnya ini, niscaya akan menimbulkan suatu fitnah yang tidak ada bandingannya."
Syaikh Yahya menjawab: "Wahai saudaraku, uslubku dan dakwahku semuanya -demi Alloh- berdasarkan kitab dan sunnah. Inilah yang saya yakini dan saya ketahui, dan saya tidak terlepas dari kesalahan.
Lalu apa yang Anda maksud dengan uslub yang salah yang Anda ingin memaksa saya untuk meninggalkannya, menurut persangkaan Anda. Apakah maksudnya supaya saya tidak membantah 'Ubaid? Saya akan membantah. Apakah yang Anda maksud supaya saya tidak membantah Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobiy, yang muqoddimah kitabnya "Al Qoulul Mufid" masih menampilkan para sufiyyah dan mu'tazilah, dan yang menuduh kami sebagai ahlul bid'ah, dan bahwasanya kami menyelisihi sekian ayat, dan Islam berlepas diri dari kami, dan kami berlepas diri dari Islam, dan perkataan-perkataan yang lain yang menjurus kepada pengkafiran.
Saya tegaskan kepada Anda, jangan memakai kaidah Al Banna (Hasan Al Banna, pent) wahai Syaikh, "Kita saling menolong pada pada apa-apa yang kita bersepakat padanya, dan kita saling memaklumi terhadap apa-apa yang kita berselisih padanya".
Mereka itu adalah orang-orang yang telah melakukan kejahatan terhadap kami, mendholimi dakwah, ta'ashshub (fanatik buta) terhadap orang yang telah saya sebutkan, dan sebagainya. Semua itu telah mengakibatkan bergejolaknya kemarahan Anda. Mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan kejahatan. Dan sungguh –demi Alloh– sebagian dari mereka mengatakan, sebagaimana saya dengar dari seseorang yang mengabarkan kepadaku: "Benar-benar aku akan mengadu domba antara Al Hajuri dengan para ulama". Saya –demi Alloh– tidak suka dengan seperti ini, bahkan saya ingin supaya para ulama menjadi saudara-saudaraku, para pembelaku, para penolongku dan menjadi orang-orang yang saya tuakan, berdakwah kepada Alloh, mereka membantu saya dan saya membantu mereka.
﴿ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ﴾ [المائدة: 2]
"Dan saling membantulah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian bantu membantu dalam dosa dan permusuhan".
Tetapi fitnah datang dari orang-orang tersebut. Merekalah yang menyebabkan timbulnya fitnah dan juga disebabkan oleh orang-orang yang ingin menyalakan fitnah, bukan saya sama sekali. Mereka itu hendaknya diberi nasehat. Dan semua hendaknya menghadap kepada urusannya masing-masing. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman:
{وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ} [التوبة: 105]
"Niscaya Alloh dan rosul-Nya akan melihat amalan kalian." (QS. At Taubah:105)
﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ﴾ [الأنبياء: 94]
"Maka barangsiapa beramal dengan kebaikan-kebaikan sedangkan dia beriman, tidak akan diingkari jerih payahnya. Dan kami akan mencatatnya." (QS. Al-Anbiya:94)
Adapun serangan yang membabi buta ini terhadap kami, dan dikatakan itu akan menyebabkan terjadinya fitnah. Tidak, saya bukan penyebab fitnah, saya berlepas diri kepada Alloh dari fitnah, akan tetapi saya akan membela diri dan membela dakwah ini semampu saya. Dan saya berlindung kepada Alloh dari semua fitnah, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi. Kemudian bila kita diuji dengan fitnah apa saja yang melanda kita, maksudnya seperti tuduhan ini, wajib bagi kita untuk menjelaskan kesalahannya.
Fitnah ini tidak berasal dari saya, yang menanggung dosanya adalah orang yang berusaha untuk menyalakan fitnah tersebut di antara manusia.
Yang kedua: hendaknya dia diberi nasehat atas kesalahan-kesalahan yang dituduhkan kepadanya, karena sekarang kesalahannya telah tertulis dalam satu jilid, dan dijelaskan oleh orang banyak tentang kesalahan-kesalahan dia, dengan berbagai macam bentuknya. Hendaknya dijelaskan kesalahan-kesalahan dia itu.
Bagaimana kalian mencari-cari kesalahan saya? Dikumpulkan oleh murid-murid kalian, dari sejak fitnah Abul Hasan, kemudian diambil oleh yang setelah mereka, demikian seterusnya. Juga sejak jaman situs Al Atsariy, menelusuri kesalahan dari risalah ke risalah yang lain, dari kitab ke kitab dan dari kaset ke kaset, barangkali bisa menemukan suatu kalimat yang bisa dijadikan senjata untuk menyerangku dengan kalimat tersebut.
Dan kalian tidak mengajak mereka diskusi dan tidak menasehati mereka dalam kesalahan-kesalahan yang jelas dan terang yang akan mendatangkan bahaya bagi dakwah salafiyyah. Muqoddimah Al 'Amroni masih terpampang di kitabnya (kitab Muhammad Al Wushobiy), sedangkan dia seorang mu'tazili, tidak berpendapat bahwa Al Quran itu makhluq atau bukan makhluq, dan mengambil pendapat Mu'tazilah dalam masalah ru'yah; yaitu melihatnya orang-orang yang beriman, Robb mereka pada hari kiamat. Juga muqoddimah sebagian sufiyah yaitu Ath Thussiy, siapakah itu Ath Thussiy, sehingga muqoddimahnya masih ada di kitabnya? Kemudian dia (Wushobiy) menuduh dan menyerang kita wahai ahlussunnah, sementara keadaan mereka (yang jelas ahlul bid'ah, pent) tak terusik sama sekali. Memberikan muhadhoroh di depan orang-orang hizbi dan melukai wajah kita. Usahanya dalam mengadu domba antara sesama ahlussunnah sangat jelas, dan fitnahnya amat besar.
Ya, dia juga menuduh beberapa ulama sebagai intel, kemudian setelah melakukan ini semua wahai ikhwan, setelah dia menuduh ulama sebagai mata-mata, tiba-tiba dia mengadakan perjanjian damai untuk bekerjasama menyerang kita.
Kita tidak pernah mengenal yang seperti ini, yang kita kenal adalah kita menasehati setiap muslim. Apakah engkau diam dari kesalahan orang ini supaya dia mau untuk menyerang orang lain?
Berilah kritikan bagi siapa saja yang kamu lihat melakukan kesalahan demi untuk menolong agama Alloh.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Aku sudah menasehatinya berulang kali, Terkadang aku menasehatinya selama dua setengah jam.”
Syaikh Yahya menjawab: “Demi Alloh, memang pernah suatu ketika beliau menelpon,menelpon dan terputus, yaitu apa, menelpon lama sekali, demi membicarakan masalah Al Adaniy. Al Adaniy telah membuat lelah dakwah dan menimbulkan fitnah. Beliau berpendapat bahwa dia bukan hizbi, sedangkan saya berpendapat dia hizbi dan kebenaran ada bersamaku dalam masalah ini, karena saya telah menjelaskan dan menyebarkan penjelasan tersebut. Dan orang yang hadir melihat apa yang tidak dilihat oleh orang yang tidak hadir. Dan perpecahan dakwah kalian karena sebab dia adalah sebesar-besar ghuluw terhadap seseorang.
Beliau berusaha untuk meyakinkanku, namun saya tidak bisa untuk menerimanya. Hubungan lewat telepon ini memang berlangsung sekitar dua jam, tapi hanya membicarakan masalah ini saja. Adapun Syaikh Robi’, tidak ada permasalahan antara saya dengan beliau sama sekali kecuali permasalahan Al Adani saja. Permasalahan ini semua adalah serangan demi Al Adani dan orang-orang yang bersamanya. Mereka melancarkan pukulan dalam dakwah salafiyyah dengan dalih mengapa saya mengatakan dia hizbi!!
Pembaca lembaran berkata: Syaikh Robi’ berkata: “Sedangkan dia tidak mendengarkan. Berjanji dan tidak menepati janji-janjinya.”
Syaikh Yahya menjawab: ”Tak pernah –demi Alloh– sekalipun saya tidak pernah tahu bahwa saya berjanji dan tidak menepati janjiku, karena menepati janji adalah perkara yang diperintahkan dalam syariat. Maka perkataan, "Berjanji dan tidak menepati janji-janjinya" ini saya tidak pernah tahu dan tidak benar.”
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Dan murid-muridnya ghuluw (berlebih-lebihan, ekstrim) tidak ada bandingannya.”
Syaikh Yahya menjawab: “Dan ini demi Alloh adalah suatu kesalahan. Saya mengingatkan beliau untuk bertakwa kepada Alloh azza wa jalla. perkataan seperti ini tidak bisa di terima di kalangan orang-orang sholeh, bahkan perkataan ini adalah suatu kesalahan yang akan mendatangkan bahaya bagi yang mengucapkannya.
﴿وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾ [الإسراء: 53]
"Dan katakanlah kepada hamba-hambaku supaya mereka berkata dengan kata-kata yang paling baik." (QS. Al Isro:53)
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾ [الأحزاب: 70]
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS. Al Ahzab:70)
Murid-muridku kebanyakan adalah murid Syaikh (Muqbil) –rohimahulloh– yang masih tetap belajar di sini, sebagian ada yang tinggal selama sepuluh tahun, sebagian lagi kurang dari itu dan sebagian yang lain lebih dari itu. Dan murid-muridku juga, Anda sekalian mengetahui –dan segala puji hanya untuk Alloh– kebaikan yang ada pada mereka, dan kebencian mereka semua terhadap sikap ghuluw dan terhadap kemungkaran yang lain. Dan apabila terjadi dari salah seorang mereka sikap ghuluw, serampangan atau penyelisihan, maka saya, Anda dan seluruh orang-orang sholeh menasehatinya, baik orang tersebut ada di tempatku atau di tempat lain. Dan tidak bisa sesuatu yang baik dinisbatkan kepadanya kesalahan tersebut.
Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang berbuat kesalahan. Akan tetapi tuduhan seperti ini terhadap thullab, baik laki-laki, perempuan, masyayikh, dakwah beserta ribuan orang di Dammaj dan ribuan di luar Dammaj, baik dari murid-murid saya atau murid-murid Syaikh Muqbil yang terdahulu, mereka semuanya berbuat ghuluw??!!
Bahkan sebenarnya tuduhan inilah yang ghuluw. Perkataan yang benar harus disampaikan. Demi Alloh tuduhan semacam ini terhadap orang-orang yang sedemikian halnya itulah ghuluw yang keterlaluan, yang maknanya adalah membid'ahkan secara keseluruhan. Karena salah satu bid'ah yang teramat sangat adalah ghuluw.
Kita berlepas diri kepada Alloh dari sikap ghuluw –demi Alloh– tapi kemudian kita dituduh dengan itu??!!
Dan Syaikh (Robi') sendiri ketika Abul Hasan Al Mishriy menuduh kita dengan ghuluw dan haddadiyah, beliau berkata: "Mana hujjah (alasan)mu bahwa mereka adalah kaum yang begini dan begitu?" Bahkan beliau memuji kita dengan benar. Namun tatkala para pengadu domba itu menukil dari kita kepada beliau sesuai dengan yang mereka inginkan, berbalik untuk mereka pembelaan yang dulu beliau dengannya membela kita dari tuduhan Abul Hasan. Demi Alloh, perkataan beliau tersebut adalah ghuluw, yaitu membid'ahkan suatu ummat salafiyyah tanpa bukti.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Yaitu, imam ats tsaqolain (imam jin dan manusia)… imam ats tsaqolain… An Nashihul Amin (pemberi nasehat yang terpercaya)… An Nashihul Amin”
Syaikh Yahya menjawab: “Saya katakan kepada Anda, bahwa kata-kata ini –barokalloh fikum– tidak bisa dinisbatkan kepada saya. Imam ats tsaqolain!!, dan saya tidak pernah meyakininya, tidak pernah pula menganggap itu benar, tidak dulu dan tidak pula sekarang. Orang-orang yang hadir semuanya mendengar.
Terjadi ketergelinciran dari seorang penyair kemudian dia bertaubat darinya, dan taubat diterima walaupun dari khowarij, apalagi dari selain mereka. Meskipun demikian mereka masih saja mengulang-ulangnya, imam ats tsaqolain. Saya tidak pernah membenarkannya dan bahkan saya punya penjelasan khusus tentang ini, tersebar di internet menjelaskan bahwa itu adalah salah. Dan saya tidak senang dengan ghuluw baik terhadap saya atau terhadap selain saya.
Saya memohon perlindungan kepada Alloh. Kami meyakini perkataan Rosululloh –shollallohu 'alaihi wa sallam– :
»لا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ الله ورَسُوْلُهُ فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ«
"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menyanjungku sebagaimana nashoro berlebih lebihan dalam menyanjung 'Isa bin Maryam, karena sesungguhnya aku adalah hamba Alloh dan rosulNya, maka katakanlah, "Hamba Alloh dan Rosul-Nya".
Dan ketika sebagian ada yang mengatakan kepada beliau:
«يا سَيِّدَنا، وابْنَ سيِّدِنا، وخَيْرَنا، وابْنَ خَيْرِنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا أيها الناس، قُولَوا بِقَوْلِكُمُ الأَوَّلِ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكم الشَيْطانُ«
"Wahai tuan kami dan anak tuan kami, wahai yang paling baik di antara kami dan anak orang yang paling baik di antara kami. Maka Nabi –shollallohu 'alaihi wa sallam– berkata: "Wahai sekalian manusia, berkatalah dengan perkataan kalian yang pertama, jangan sampai syaithon mencelakakan kalian."
Dan dalil-dalil yang lain.
Ya, maka perkataan seperti ini –demi Alloh– bukan dari perkataanku dan saya tidak membenarkannya, tidak pula dahulu.
Terkadang mungkin pikiran saya sedang sibuk dari mendengarkan qoshoid (syi'ir), sehingga seorang penyair membaca syi'irnya di depanku kemudian pergi begitu saja, maka apabila setelahnya saya diingatkan tentang adanya kesalahan, baru saya ingatkan dia. Dan saya telah mengingatkan penyair itu bahwa perkataan seperti ini salah, kemudian dia menghapusnya dan ruju’ darinya.
Mengapa kalian masih mengungkit-ungkit masalah ini?
Maksud mereka adalah mencari-cari sesuatu yang dengannya bisa membuktikan adanya ghuluw. Demikianlah, carilah untuk mereka sesuatu yang dengannya bisa membuktikan adanya ghuluw. Tidak ada, tidak ada.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “An Nashihul Amin, ghuluw…ghuluw…ghuluw”
Syaikh Yahya menjawab: “Adapun kalimat An Nashihul Amin, demi Alloh ini adalah kalimat yang diucapkan oleh Syaikh (Muqbil) –rohimahulloh– karena husnudzon beliau terhadap saya. Dan segala puji hanya untuk Alloh. Semoga Alloh memberi taufiq kepada saya untuk memberikan nasehat kepada kaum muslimin, dan saya memohon kepada Alloh agar menjadi seorang yang bisa dipercaya dalam memikul amanah.
Dan saya demi Alloh tidak menyukai sikap berlebih-lebihan. Saya sudah mengatakan kepada banyak orang, "Wahai saudaraku, hapuslah tulisan ini, saya tidak mau dengan perkataan seperti ini, singkirkanlah karena saya tidak menyukainya."
Kalimat An Nashihul Amin ada asalnya, karena amanah ada pada orang-orang sholeh, demikian juga nasehat ada pada orang-orang sholeh. Ini poin yang pertama.
Sisi yang kedua, bahwa kalimat tersebut ada asalnya, adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits sebelum hadits yang paling akhir dari "shohih Al Bukhoriy" kitab At Ta'bir, Al Hafidz berkata, "Dan dari hadits tersebut (disimpulkan) bahwa tidak boleh untuk menakwil mimpi kecuali seorang yang 'alim, nashihun amin, dan dicintai”, demikian disebutkan dalam syarah hadits.
Juga At Tustari, disebutkan dalam biografinya di kitab "Hilyah" milik Abu Nu'aim: "Beliau adalah seorang yang nashih (pemberi nashehat) amin (yang terpercaya)."
Dan Nabi –shollallohu 'alaihi wa sallam– berkata tentang Abu Ubaidah: "Dia adalah orang yang paling dipercaya dari ummat ini." Dan sebagainya.
Demikian bila masalah ini dikembalikan ke asal muasalnya. Adapun tentang apakah saya senang dengan seperti ini, demi Alloh saya tidak menyukainya, saya suka untuk menjadi seorang yang tawadhu’, tenang dan tidak membuat ribut.
Anda sendiri, barangkali Anda disanjung dengan sebutan-sebutan yang lebih dari itu, maka mengapa serangan itu diarahkan kepada saya?
Manusia menyenangi siapa saja yang mengajarkan kebaikan kepada mereka. Terkadang sebagian dari mereka berlebihan dan sebagian yang lain mengurangi. Dan kesalahan bisa dirujuk kembali. Semoga Alloh memberi taufiq kepada kita semua.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Dakwah Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al Albani tidak seperti itu."
Syaikh Yahya –semoga Alloh memuliakannya–: “Dan dakwah ini pun tidak seperti yang Anda bayangkan sekarang berbeda dengan apa yang anda kenal dahulu. Tidak dulu dan tidak pula sekarang, dakwah ini tidak seperti itu. Dan kesalahan yang dilakukan oleh seorang dua orang kemudian bertaubat darinya, tidak seharusnya diungkit-ungkit seperti itu, tidak boleh untuk diungkit-ungkit."
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Pergilah kalian, nasehatilah dia, jangan kalian memukul genderang untuknya (maksudnya memberi semangat, pent), jangan bertepuk tangan untuknya, bersikaplah yang jantan kepadanya!"
Syaikh Yahya menjawab: “Bukankah ini artinya beliau mendorong untuk memberontak, wahai ikhwan? Siapakah yang ridho dengan seperti ini? Siapakah yang ridho dengan seperti ini? Demi Alloh Syaikh (Robi’) sendiri tidak mungkin ridho untuk diperlakukan seperti ini, tidak pula seorang alim ridho bila dirinya diperlakukan seperti ini. Sampai bahkan seorang tentara, tidak ridho bila diperlakukan dalam kesatuannya dan pribadinya, apalagi sebuah dakwah.
Sekarang Anda ridho mereka yang banyak itu memberontak kepada saya. Saya mengeluhkan usaha untuk menyalakan pemberontakan ini sejak tujuh tahun yang lalu. Dan –demi Alloh– ini tidak boleh, wahai Syaikh. Dan saya pasti akan menuntut Anda di hadapan Alloh dengan permasalahan ini dan permasalahan yang lain. Saya ini berdakwah kepada sunnah –demi Alloh–. Saya disakiti karenanya, dan saya bersabar untuknya, saya menanggung beban yang banyak. Dan saya kira Anda sekalian mengetahui itu. Tidak –demi Alloh– tidak karena dunia dan tidak karena apa-apa. Dan saya tidak ingin untuk meninggikan diri di dunia, tidak pula untuk membuat kerusakan. Akan tetapi karena Dakwah ini. Tapi kemudian dikatakan: "Bangkitlah kalian memberontak kepadanya!! Jangan memukul genderang untuknya!" Siapa yang memukul genderang?
Mereka itu adalah dai-dai yang menyeru ke jalan Alloh azza wa jalla, apakah mereka disifati dengan sifat seperti ini!!? Mereka berani membantah syaikh Robi’, apalagi membantah Yahya. Mereka membuat bantahan untuk Syaikh Robi'. Sekarang ini di rumahku sudah bertumpuk beberapa risalah, dan mereka mengatakan: "Kami akan membantah (Syaikh Robi') karena ini adalah sesuatu yang salah," apalagi (membantah) Yahya. Ya, membangkitkan pemberontakan atas saya tidak boleh –barokalloh fikum–.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Dia adalah orang yang paling berbahaya bagi dakwah salafiyyah, tidak ada seorangpun yang lebih berbahaya daripada Yahya."
Syaikh Yahya: “La ilaha illalloh, wahai ikhwan sekalian, bukankah di sana ada Yahudi, ada Nashoro, ada Rofidhoh, ada bencana yang lain, semuanya melancarkan peperangannya terhadap dakwah salafiyyah. Saya paling berbahaya dibanding mereka semua??!! Bukankah sudah saya katakan bahwa ini adalah ghuluw, wahai ikhwan, ya, demi Alloh itu adalah ghuluw yang membuat kulit merinding??
Sekarang Syaikh mengingkari ghuluw, dengan dalih bahwa beliau membenci ghuluw dan ingin untuk menyatukan kalimat. Apakah seperti ini wahai syaikh merupakan penyatuan kalimat dan upaya untuk itu? Apakah yang seperti ini wahai Syaikh adalah pengingkaran terhadap ghuluw?
Demikian juga Al Adani mengatakan bahwa dia (Al Hajuri) adalah orang yang paling fajir, tidak ada yang lebih fajir dan lebih dusta (darinya). Ini demi Alloh adalah ghuluw.
Demikian pula ‘Ubaid berteriak dari sana sini sambil mengatakan, “Orang ini (Al Hajuri) kalau tidak bertaubat, penggal saja lehernya.”
Memang tadinya ada fatwa yang saya sampaikan, kemudian setelah itu saya menganggap pendapat yang lain lebih, masih di jilid yang sama selang beberapa halaman. Fatwa tersebut beberapa tahun yang lalu, isinya hampir sama dengan fatwa Syaikh Al Imam –semoga Alloh memberi beliau taufiq–. Meskipun demikian, mereka tidak menyalahkan Syaikh Al Imam, karena tujuan mereka bukan untuk sekedar mengkritik, yang mereka inginkan adalah Yahya, itulah sasaran mereka!!.
(Dia mengatakan:) "Orang ini kalau tidak bertaubat dari perkataan ini: bahwa diperbolehkan sholat di belakang rofidhoh, dan bahwasanya mereka bukan kafir, atau semakna dengan itu, kalau tidak, maka dipenggal lehernya." Maknanya bahwa dia telah murtad seperti Hallaj, murtad dengan kalimat ini.
Baiklah, sekarang Syaikh Al Imam, mengatakan seperti itu juga, kenapa kalian tidak mengkritik dia? Bukankah sudah saya katakan tadi bahwa kalian memakai kaidah: "Saling membantu dalam hal-hal yang kita sepakat padanya dan saling memaafkan terhadap apa-apa yang kita berselisih padanya"??! kita seharusnya mengambil pelajaran dari firman Alloh ta’ala tentang Bani Isroil:
﴿كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾ [المائدة: 79]
"Mereka tidak saling melarang dari kemungkaran, amat buruklah apa yang mereka perbuat." (QS. Al Maidah:79)
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Pokoknya Dammaj harus ditinggalkan, dan markiz-markiz (ma'had) yang lain di bawah kaki-kaki mereka"
Syaikh Yahya: "Naudzu billah, ini Aden, ini Lahj, ini Hadhromaut, ini Maharoh, ini bagian selatan Yaman dan juga bagian utara, ini Tanzania, ini Ethiopia dan di banyak negara ada murid-muridku, mengajak kepada Alloh, untuk mentauhidkan-Nya dan mengajak kepada Kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya. Bagaimana mungkin semuanya itu ditinggalkan, sedangkan di dalamnya ada kebaikan yang banyak seperti ini??!! Selain mereka juga dari orang-orang yang menegakkan kebaikan di negera yang bermacam-macam. Dan bila ada orang yang mengabarkan kepada kami bahwa dia berada dalam kebaikan maka saya puji dan saya sebut dengan sebutan yang baik. Dan saya tidak membicarakan seseorang –demi Alloh– kecuali apabila dia berbuat kejelekan, kedholiman dan berdusta terhadap dakwah ini, maka saya berhak untuk membela kebaikan ini. Dan semua muslim berhak untuk membelanya, karena ini adalah kebaikan bagi semua kaum muslimin, Anda juga wahai Syaikh dan selain Anda –demi Alloh–.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Semua markiz yang lain di bawah kaki, tidak ada artinya sama sekali kecuali Dammaj. Wahai ikhwan, kita mempunyai madrasah semuanya menyebarkan manhaj salaf, mengajak kepadanya dan membelanya, semuanya di bawah kaki (maksud beliau adalah Yahya). Tidak ada yang mengatakan kepadanya, "Kamu salah!" mereka hanya menyanjungnya dengan "An Nashihul Amin… An Nashihul Amin…". Ini bukan akhlaq seorang salafi, tidak pula dari manhaj salafi. Dia tidak meninggalkan seorangpun. Dan sekarang tidak tersisa kecuali sedikit saja dari salafiyyin."
Syaikh Yahya menjawab: "Negeri Yaman di dalamnya terdapat banyak salafiyyin –demi Robbku– ya, –demi Alloh– pergilah ke satu desa dari desa-desa yang ada atau kota dari kota-kota, niscaya Anda akan mendapatkan masjid salafi dakwah salafiyyah baik banyak atau sedikit. Tidak ada satu daerahpun kecuali di situ ada kebaikan (dakwah salafiyyah). Ini adalah suatu hal yang baik –demi Alloh–, jangan direndahkan wahai Syaikh –semoga Alloh memberi Anda taufiq–, ini merupakan suatu kenikmatan. Dan keutamaan hanya untuk Alloh, kemudian untuk ahlussunnah semua, termasuk Anda di antara mereka. Ulama yang sebelum Anda atau setelahnya, Ibnu Baz, Al Albani, Al Utsaimin, Al Afauzan, Al Abbad, syaikh kami –rohimahulloh– dan seluruh ahlul ilmi dan seluruh ahlussunnah yang mengajak kepada paham salafiyyah. Ini adalah buah dari dakwah mereka. Tidak boleh di hinakan kebaikan ini, dikatakan tidak ada kecuali ini dan itu, hanya dengan sebab adu domba.
Semua ini saya katakan bahwa Syaikh –waffaqohulloh– tidak bisa memastikan sesuatupun darinya lebih dari bahwa semua pembicaraan beliau ini porosnya adalah fitnah Al Adani. Oleh karena itu salafiyyun adalah Al Adani beserta para pengikutnya dan yang terpengaruh dengannya, semua orang yang mendholimi kita adalah salafi dan setiap orang yang bersama kita dia adalah yang ghuluw.
La ilaha illalloh… La ilaha illalloh…
kami mengingatkan untuk bertaqwa kepada Alloh azza wa jalla,
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾ [الحشر: 18]
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang dipersiapkan untuk hari esok. Dan bertqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan" (QS. Al Hasyr:18)
Ini salah wahai Syaikh, akan mendatangkan bahaya, demi Alloh. Membahayakan dakwah salafiyyah, membahayakan saya, membahayakan Anda, di dunia dan di akhirat, akan mengantarkan kepada akibat yang kurang baik. Orang-orang saling bertengkar, siapa yang akan menanggung? Ini tidak ada landasannya sama sekali dan tidak ada yang mengharuskan.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Sejumlah salafiyyin di ujung negeri dan sebagian dari thullab Dammaj di ujung yang lain, tidak ada salafiyyun kecuali mereka? Ini adalah ghuluw, tinggalkanlah ghuluw ini, tinggalkan!"Syaikh Yahya: "Saya meninggalkannya jika memang ada pada saya dan Anda juga hendaknya meninggalkannya. Demi Alloh, kalau memang saya melakukan hal-hal yang ghuluw, wajib atas saya untuk meninggalkannya.
Adapun pembid'ahan massal yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab, dan juga dari Anda terhadap dakwah salafiyyah di Yaman dan permusuhan dengannya, maka hendaklah Anda tinggalkan.
Wahai akhi, jika perkataan anda ini untuk melemahkan kekuatan Dammaj, lalu dakwah salafiyyah yang manakah yang anda bela di Yaman, kalau bukan dakwah mar'iyyah. Kalau perkataan Anda untuk melemahkan pusat dakwah salafiyyah yang mereka itu dahulunya belajar di sana dan selain mereka dari negara-negara Islam, maka dakwah salafiyyah apa yang Anda bela dengan dalih kecemburuan terhadapnya? semoga Alloh memberi Anda taufiq."
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Syaikh Robi’ berkata: “Pergilah, katakanlah kepadanya: Bertakwalah kepada Alloh, katakanlah kepadanya: Kamu bukan imam manusia dan jin!"
Syaikh Yahya: "Demi Alloh, saya bukan imam manusia bukan pula imam jin.. Saya hanyalah pengajar bagi saudara-saudaraku. Dan Apa yang Alloh kehendaki pasti terjadi. Saya diberi cobaan dengan seperti ini, dan saya memohon kepada Alloh untuk memberi manfaat kepadaku, dan menjadikan saudaraku sekalian bermanfaat dan menjauhkan dari saya dan Anda semua fitnah dan mara bahaya. Semoga Alloh memberkahi Anda.
Tidak perlu untuk mendatangkan serangan-serangan kepadaku. Sudahlah, saya dari dulu sampai sekarang seperti yang ditunjukkan oleh hadits:
»إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ«
"Sesungguhnya Alloh mewahyukan kepadaku (memerintahkan) supaya kalian tawadhu', sehingga tidak ada seorangpun yang membanggakan diri terhadap yang lain, dan tidak seorangpun berbuat jahat terhadap yang lain."
Saya menyadari kadar diri saya dan segala puji hanya untuk Alloh. Dan bila ada seseorang yang mengatakan seperti ini tentu akan saya ingkari dan saya menganggapnya sebagai seorang yang salah.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Kamu bukan imam manusia dan jin, seperti yang didakwakan oleh pengikut-pengikutmu."
Syaikh Yahya menjawab: "Kata "pengikut-pengikutmu" saya tidak menyukainya. Sebutlah dengan kata: saudara-saudaramu atau thullabmu atau murid-muridmu misalnya dan sebagainya. Adapun kata "pengikut-pengikutmu", kita semua pengikut Rosululloh –shollallohu 'alaihi wa sallam–. Dan yang seperti ini tidak pernah didakwakan oleh saudara-saudaraku. Itu hanyalah kesalahan dari seorang penyair yang kemudian dia ruju' darinya. Maka upaya membesar-besarkan permasalahan tersebut adalah sesuatu yang memang ada padanya maksud tertentu."
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Setiap kali kami mendengar tentangmu selalu dikatakan: "Dia adalah imam Ats Tsaqolain… imam Ats Tsaqolain"
Syaikh Yahya menjawab: "Ini menunjukkan wahai Syaikh Anda hanya mendengarkan apa yang dinukil tentangku berupa kedustaan dan pencampurbauran saja dan tidak mendengarkan sedikitpun tentang kebaikanku. Apabila semua yang Anda dengar hanya dari orang yang datang kepada Anda saja, maka ketahuilah bahwa –demi Alloh– mereka ini tidak menukil tentangku kecuali kejelekan saja. Tidak menukilkan tentang kebaikan, tidak pula tentang ilmu yang ada di sini. Dan apabila yang anda dengarkan hanya seperti ini saja, maka ini membuktikan bahwa orang-orang itu tidak menukilkan kepada Anda kecuali apa yang menyebabkan adu domba dan fitnah. Ini adalah kedholiman dan Alloh azza wa jalla berkata:
﴿ وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ﴾ [هود: 113]
"Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang dholim sehingga kalian akan terkena api neraka, dan tidak ada bagi kalian wali-wali selain Alloh, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan." (QS. Huud:113)
Pembaca lembaran: Kata penulis: Berkata Thullab dari Dammaj: "Wahai Syaikh, ini bukan dari Syaikh Yahya Al Hajuri, beliau tidak senang dengan ini, sesungguhnya yang mengucapkan itu dari thullab, itu dari penyair."
Syaikh Yahya: "Dari penyair dan telah bertaubat. Dan kami katakan bahwa khowarij, khowarij diterima taubat mereka –demi Alloh– dan Alloh berkata:
﴿وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾ [الشورى: 25]
"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan dari kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian lakukan." (QS. Asy Syuro:25).
Maka mengungkit-ungkit hal itu adalah suatu penentangan terhadap kebenaran dan merupakan sikap ghuluw. Dan kisah Musa dan Adam 'alaihimas salam telah kita ketahui bersama, yang di dalamnya disebutkan: "Maka Adam mematahkan hujjah Musa, maka Adam mematahkan hujjah Musa."
Penyair tersebut salah dan telah ruju’ dari kalimat tersebut. Terjadi darinya ghuluw, dan memang sebagian penyair mengatakan bahwa syi’ir itu mengandung keangkuhan, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa syi’ir itu yang paling enak di dengar adalah yang paling dusta. Adapun kita mengatakan bahwa syi’ir yang paling enak didengar adalah yang paling benar. Kita meyakini kebenaran –demi Alloh– dan memperlakukan orang lain dengannya, (maka kita katakan terhadap yang salah) ini salah.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkholiy: “Apakah dia menghardiknya atas perbuatannya itu?”
Syaikh Yahya menjawab: “Saya telah menasehatinya. Tidak diharuskan bagi setiap yang salah untuk dihardik. Manusia itu kalau engkau raupkan harta untuknya dengan gantang, tapi engkau menghinakannya, ingin untuk menekan dan memaksanya –demi Alloh– dia tidak akan senang dengan seperti itu, tidak pula mau untuk menerima dakwahmu. Akan tetapi apabila dinasehati dengan lemah lembut, inilah yang yang sesuai dengan petunjuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Dan tujuan kita adalah menjauhkan kesalahan, bukan untuk memaksa manusia atau menghardiknya, “Diam kamu, lakukan seperti ini!!” Wahai akhi, yang seperti ini tidak benar, tidak benar wahai akhi.
Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam didatangi oleh seorang badui, kemudian mencengkeram baju beliau seperti ini sambil berkata: “Wahai Rosululloh, berilah aku sebagian dari harta Alloh bukan dari harta bapakmu.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alai wasallam memerintahkan untuk memberinya pemberian.
(Datang orang lain kepada beliau sambil berteriak:) “Penghianat…penghianat..” maka para shahabat berkata: “Semoga Alloh memerangimu, Apakah mungkin Rosululloh berhianat?!” Maka beliau berkata: “Biarkanlah dia.” Kemudian mereka pergi dan mengambilkan apa yang menjadi haknya dan disertai tambahan atasnya. Kemudian orang itu berkata: “Anda telah memenuhi hakku, semoga Alloh menjadikan Anda sebagai orang yang memenuhi hak.”
Ada orang lain datang meminta izin kepada beliau untuk berzina: “Wahai Rosululloh, izinkanlah aku untuk berzina!” Maka orang-orang menghadap kepadanya dan menghardiknya, “Tinggalkan, tinggalkan!” Beliau berkata: “Mendekatlah” Maka dia mendekat kepada beliau, kemudian duduk. Beliau berkata: “Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap ibumu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap ibu-ibu mereka. Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap anak perempuanmu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap anak perempuan mereka. Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap saudarimu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, wahai Rosululloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap saudari mereka. Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap saudari ayahmu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap saudari ayah mereka. Apakah kamu rela itu dilakukan terhadap saudari ibumu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Alloh, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusan Anda.” Beliau berkata: “Orang lain juga tidak suka itu dilakukan terhadap saudari ibu mereka.” Kemudian beliau meletakkan tangan beliau padanya lalu berkata: “Ya Alloh, ampunilah dosa-dosanya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya.” Maka setelah itu pemuda itu tidak menoleh ke arah keinginannya itu sama sekali.
Orang tersebut pergi dalam keadaan baik tanpa perlu untuk dihardik. “Hardiklah mereka?” Saya tidak memperlakukan saudara-saudaraku dengan hardik menghardik, saya memperlakukan mereka dengan perlakuan yang baik. Kecuali siapa yang saya lihat dia membuat fitnah dalam dakwah, barangkali saya hardik, saya berbicara tentang dia sesuai haknya dan dengan ucapan yang keras, karena ini adalah dakwah Alloh, membicarakannya dengan perkataan yang jelek akan mendatangkan bahaya bagi Islam dan muslimin. Ini adalah dakwah yang haq, demi Alloh.
Demikian juga kisah tentang orang yang berbicara ketika sholat: “Aduh, betapa sedihnya ibuku, apa urusan kalian sehingga memandangku?" Maka mereka menepuk paha-paha mereka. (orang itu berkata:) seketika itu aku melihat mereka berusaha membuatku diam, tapi akupun diam. Maka setelah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam usai dari sholatnya, –bapak dan ibuku sebagai tebusannya– belum pernah aku melihat seorang pengajarpun sebelum dan sesudah beliau yang lebih bagus dalam memberi pelajaran. Demi Alloh, beliau tidak menghardikku, tidak memukul dan tidak pula mencelaku. Beliau hanya berkata: “Sesungguhnya sholat ini tidak diperbolehkan padanya perkataan manusia, yang diperbolehkan hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an."
Demikian juga orang yang kencing di sebagian tempat dari masjid, sehingga para shahabat ingin menegurnya. Beliau tidak menghardiknya dan tidak pula beliau mengatakan: “Lakukan padanya begini!” tidak pula beliau mengusirnya, tidak mengusirnya. Bahkan berkata: “Biarkanlah dia, jangan kalian ganggu!” setelah selesai, beliau meminta satu timba air dan disiramkan pada air kencingnya. Inilah petunjuk beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, dan di dalamnya ada teladan bagi kita.
Ada seorang perempuan berkata: “Dan di antara kita ada utusan Alloh yang mengetahui apa yang terjadi besok.” Beliau tidak menghardiknya akan tetapi mengingatkan kesalahannya.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Apakah dia berlepas diri (dari kalimat itu) terang-terangan? Tidak, tetapi kalian bertepuk tangan untuknya sehingga dia sampai kepada ghuluw seperti ini. ”
Syaikh Yahya menjawab: “Wahai akhi, tepuk tangan itu tidak boleh, tepuk tangan diperbolehkan untuk wanita, dan tasbih untuk pria. Mana mungkin kami bertepuk tangan?!! Apakah ada di antara kalian yang bertepuk tangan? Tidak ada seorangpun.”
Pembaca lembaran: Syaikh Robi’ berkata: “Kami telah duduk bersamanya, kami ajak bicara tapi dia tidak mendengarkannya. ”
Syaikh Yahya: “Mereka telah duduk bersama saya, dan ini telah diketahui bersama. Yaitu ketika kami pergi haji dan berkunjung kepada beliau, beliaupun menjamu kami, terimakasih bagi beliau. Dan beliau –demi Alloh– wahai saudaraku sekalian mencintai ahlussunnah. Saya mengatakan kalimat yang haq, dengan izin Alloh azza wa jalla, tentang beliau dan selain beliau. Demi Alloh beliau –syaikh Robi’– mencintai ahlussunnah, dan Allohlah yang menjadi mengetahuinya.
Baiklah, setelah beliau menjamu kami, beliau cenderung untuk tidak menghizbikan Al Adaniy, sedangkan saya menyatakan kehizbiannya dan kehizbian beberapa orang yang dahulu di sini dari murid-murid saya, saya lebih mengenal mereka daripada selain saya. Mereka itu hanyalah pergi mengadu kepada beliau, “Wahai Syaikh, Anda –yakni– perlu untuk mengatur Al Hajuri. Al Hajuri tidak akan berhenti kecuali dengan Anda," dan sebagainya dari perkataan seperti ini.
Kemudian beliau berkata kepada para masyayikh: “Anda berpendapat dia hizbi? Anda berpendapat dia hizbi? Anda berpendapat dia hizbi?" Dan saya hanya diam. Kemudian para masyayikh tidak ada yang membantuku dalam majlis itu, padahal mereka telah menyalahkannya (Adaniy). Tetapi mereka waktu itu tidak mau mengatakan: "Wahai Syaikh, walaupun tidak kami tidak berpendapat tentang kehizbiannya, kami berpendapat bahwa dia salah," dan saya melihat beban di pundakku berat sekali karena itu, karena beberapa masyayikh di antaranya Syaikh Robi' ada di atas pundakku. Maka setelah itu saya diam hanya mengucapkan "Hayyakumulloh" mana mungkin saya melawan semua yang hadir, maka saya pun diam. Dan saya tidak pernah mengatakan kepada mereka bahwa dia tidak hizbi.
Bahkan saya katakan, Wahai Syaikh, apakah dia melakukan kesalahan atau tidak?
Syaikh Al Buro'i mengatakan dalam majlis itu: "Kalau seandainya beliau tidak mengakui kesalahannya, tidak mungkin beliau mencium jenggotmu supaya kamu memaafkannya."
Kemudian kita berpisah dalam keadaan seperti itu, dan demikianlah yang terjadi di majlis beliau. mungkin ada tambahan atau pengurangan, tapi demikianlah setahu saya.
Pembaca lembaran: Beliau berkata: "Dia meyakini bahwa serangan rofidhoh suatu kenikmatan"
Demi Alloh, saya tidak meyakini seperti itu, sedangkan saudaraku telah terbunuh, saudaraku seayah dan seibu. Bagaimana mungkin saya meyakini serangan itu nikmat, sedangkan rumah saya hancur karena serangan Hawn (mortir) dan saya waktu itu di dalam rumah, jarak antara saya dengan tempat jatuhnya hanya beberapa hasta. demi Alloh, dan banyak murid-muridku yang terbunuh dan terluka. tujuh puluh orang syahid di Barroqoh, akibat kedholiman dan permusuhan rofidhoh. Dan Anda dulu merasa sedih karenanya, siapakah yang merubah sikap Anda? Tidak lain -demi Alloh- yang merubah Anda adalah para pengadu domba itu. Anda menelpon saya mengungkapkan kesedihan dengan penuh kehangatan dan rasa sayang, demikian juga saya. Dan antara kami dan Anda terjalin ukhuwah, tapi kemudian dirusakkan oleh orang-orang itu.
Bertaqwalah kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang benar. Di sana masih banyak korban yang terluka kami kirimkan ke banyak negara di dunia. Apakah mungkin saya merasa senang dengan seperti itu dan menganggapnya nikmat, bahkan saya menganggapnya cobaan dan fitnah.
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالخَيْرِ فِتْنَة وَإلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
"Dan kami coba kalian dengan kesedihan dan kesenangan, dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan." (QS. Al Anbiya: ).
kesenangan dan kesedihan semua itu adalah fitnah.
يبتلى المرأ على قدر دينه الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فإن كان في دينه رقة خفف عنه وإن كان في دينه قوة شدد عنه
semua orang diuji sesuai dengan kadar agamanya, bila agamanya lemah, diringankan ujiannya dan bila agamanya kuat diberatkan ujiannya."
Anggaplah saja kami berdosa, karena kita memang tidak bisa selamat dari dosa. Nabi shollallohu 'alai wasallam berkata,bahwa Alloh azza wa jalla berkata:
»إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا«
"Sesungguhnya kalian bersalah siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa semuanya"
Kita memohon kepada Alloh semoga ini merupakan penghapus bagi dosa-dosa kita. Sebagaimana disebutkan di shohihain, dan sebagian lafadznya ada di salah satu dari shohihain, bahwa nabi shollallohu 'alai wasallam berkata:
«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، وفي لفظ: المؤمن، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ«
"Tidaklah menimpa seorang muslim –dan dalam lafadz yang lain: mukmin– suatu kelelahan, penyakit, kesusaha, kesedihan, gangguan atau beban pikiran, sampaipun duriyang mengenainya, kecuali dengannya Alloh menggugurkan sebagian dosanya."
»مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ«
"Barangsiapa Alloh menginginkan baginya kebaikan dikenakan padanya cobaan."
Saya merasa sakit –demi Alloh– atas apa yang terjadi dari orang tua kita Robi' semoga Alloh menjaga dan memberi taufiq kepada beliau, karena beliau berbalik dari kepala ke kaki, padaha beberapa hari yang lalu, beliau merasa bersedih (atas apa yang menimpa kita), memberi nasehat, mengarahkan, mencintai, selalu menghubungi, sampai-sampai beliau berkata, "Telah terjadi mengunjungiku Syaikh Abdul Muhsin Al 'Abbad" dan perkataan yang lain yang menyebabkan kami senang mendengarnya, demi tegaknya dakwah dan saling mencintai sesama ahlussunnah. Tapi mereka tidak rela dengan seperti itu, lalu berusaha bertahan di rumah kediaman beliau, demi untuk membuat fitnah. Yakni bismillah memanas-manasi beliau, dan sebagian mereka mengatakan: "Benar-benar akan aku adu domba antara Al Hajuri dengan ahlul ilmi"
Dan pernah Syaikhuna (Muqbil) rohimahulloh –saya mengingatkan Anda dengan kejadian ini wahai Syaikh– Anda menelpon Syaikhuna rohimahulloh: "Wahai Syaikh, Anda mengatakan bahwa di tempatku ada hizbiyyun?" Syaikh Muqbil menjawab: "Tidak mustahil kalau di tempat Anda ada hizbiyyun?" kata Syaikh Robi': "Wahai Syaikh, ada seseorang yang berkata, "Sungguh akan aku adu domba antara Anda dan Syaikh Muqbil," dan dia bilang bahwa dia bersikeras akan melakukannya, oleh karena itu saya memperingatkan Anda dari mereka". Maka Syaikh Muqbil berkata: "Wahai Syaikh, kalau seandainya dua gunung saling bertumbukan, tidak akan membahayakan kita, tidak akan mengadu domba kita".
Kemudian setelah Syaikh (Robi') mengingatkan saya dengan kejadian ini, beliau berkata: "Saya mengingatkanmu dengan kejadian ini", dan saya selalu mengingat itu –demi Alloh– . Dan tidak dihasilkan dari saya sesuatu yang buruk ke arah Asy Syaikh Robi' sama sekali.
Dan orang-orang itu mengadu domba antara saya dengan Anda, bertakwalah kepada Alloh, tidak boleh terpengaruh dengan mereka. Mereka telah mendholimi dakwah salafiyyah, melakukan ini dan itu, dan sebagainya, semuanya dimuat di banyak tulisan di internet yang ramai dengan mereka. Maka demikianlah, semuanya karena pengaruh mereka, termasuk beberapa perkataan beliau ini. Sedangkan beliau telah berkata kepada kita waktu itu, memuji dan bekata, "Kalian diuji dan Alloh akan menolong kalian!" Tapi kemudian beliau terpengaruh dengan perkataan mereka yang dahulu pernah kami dengar dari mereka di sini, ketika mereka menelantarkan kami dalam di depan musuh-musuh Alloh, bahkan mereka mengatakan, "Ini semua disebabkan dosa-dosa mereka." Tidak boleh bagi Syaikh mati-matian membela mereka dalam perkara tersebut.
المؤمن للمؤمن كالبنيان
"Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan".
Merasa sakit karena sakitnya saudaranya, merasa sedih dengan kesedihan saudaranya, dan merasa senang karena dengan kesenangannya.
Adapun bila dikatakan saya senang bahwa (serangan rofidhoh) ini nikmat, dari sisi mana itu bisa dikatakan nikmat? Bagaimana bisa dikatakan nikmat??
Banyak dari saudara-saudara kita yang kita cintai, kita hormati dan sebagian mereka para penghafal, mereka terbunuh di jalan Alloh, dalam rangka membela kebaikan ini. Dan bukankah kalianpun dahulu berterimakasih terhadap ahlussunnah karena membela kebaikan ini, maka skiapakah yang telah menyebabkan perubahan ini? Tidak lain mereka adalah orang-orang yang fitnah mereka patut menjadi pelajaran bagi masyarakat.
Pembaca lembaran: Syaikh Robi' berkata: "Akan tetapi demi Alloh itu adalah hukuman dari Alloh."
Syaikh Yahya menjawab: "Saya katakan: Kalau memang itu adalah hukuman dari Alloh, semoga saja itu menjadi penghapus bagi dosa-dosa kami, sebagaimana dalam hadits-hadits yang telah berlalu penyebutannya. Meskipun demikian, demi Alloh, Alloh maha tahu bahwa saya tidak suka untuk bersengaja melakukan satu dosapun. Akan tetapi saya tidak mungkin selamat dari dosa. Maka apabila Alloh subhanahu wata'ala mensucikanku dari dosa-dosa dengan ujian seperti cobaan ini yang terjadi antara kami dengan para masyayikh dan sebagainya, semoga itu merupakan penyucian dosa.
{وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ } [آل عمران: 141]
"Dan agar Alloh membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir."
Dan telah tetap hadits dari Abu Huroiroh رضي الله عنه: bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إن الرجل ليكون له عند الله المنزلة، فما يبلغها بعمل فما يزال الله يبتليه يعني في أهله في ماله في نفسه بما يكرهه- بما يكره، حتى يبلغه».
“Sesungguhnya ada seseorang yang dia itu punya kedudukan di sisi Alloh tapi dia tidak mencapainya dengan amalannya, maka Alloh terus-menerus mengujinya –yaitu di dalam keluarganya, di dalam hartanya, di dalam dirinya dengan apa yang tidak disukainya- dengan apa yang dibencinya hingga Dia menyampaikannya ke kedudukan tadi.” (HR. Abu Ya’la (no. 6095)/Darul Ma’mun Lit turots dan yang lainnya. Sanadnya hasan).
Semoga Alloh menjadikan aku seperti itu.
Adapun jika dikatakan bahwasanya itu adalah hukuman untuk kami, dari jenis hukuman orang-orang kafir:
{سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (44) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ } [القلم: 44، 45]
"Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat tangguh."
Ini tidak demikian. Hanya saja semoga Alloh menghapus dosa-dosa kita.
Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi' berkata: "Akan tetapi demi Alloh, sungguh itu adalah hukuman dari Alloh atas kedustaannya terhadap Ahlussunnah sepanjang tujuh tahun."
Asy Syaikh Yahya menjawab: "Tidak, saya tidak membikin kedustaan sama sekali. Akan tetapi saya membela saudara-saudara saya dan membela kebaikan (dakwah) ini. Dan saya diperlakukan dengan zholim, saya dizholimi. Dan ini adalah hakikat saya. Dan ini adalah bukti-bukti saya. Dan yang selain itu banyak, dariku dan dari saudara-saudaraku.
Pembaca lembaran: Asy Syaikh Robi' berkata: "Fitnah yang dia sebabkan di seluruh penjuru alam, dengan ghuluwnya dia di seluruh negri."
Asy Syaikh Yahya menjawab: "Bukan, bukan, fitnah yang terjadi adalah disebabkan karena pengobaran –wahai Syaikh, semoga Alloh memberi Anda taufiq-, bukan keghuluwan diriku sama sekali. fitnah yang terjadi adalah disebabkan karena pengobaran terhadap orang yang datang misalkan sebagai pengunjung dan sekelompok orang, sebagian dari mereka datang untuk berkunjung dalam keadaan dia ingin pengobaran tadi. Dan sebagian dari mereka datang untuk berkunjung dan dia tidak ingin pengobaran tadi. Pengobaran macam ini: "Bangkitlah kalian untuk menghadapi si fulan, berbuatlah terhadap si fulan, bangkitlah seperti bangkitnya orang-orang jantan." Ini terjadi fitnah terhadapku.
Baiklah, para muridku di banyak tempat, saudaraku dan sahabatku di banyak tempat melarang dari kejelekan ini. Mereka menasehatkan untuk menjauhi itu, memperingatkan dari siapa saja yang mengobarkan fitnah terhadap kami. Itulah tadi sebab munculnya finah. Adapun bila dikatakan fitnah itu karena sebab ghuluw dariku, tidak, tidak ada padaku ghuluw, dan saya tidak pernah meyakininya, tidak pula saya beribadah kepada Alloh dengannya. Dan saya minta perlindungan kepada Alloh darinya."
Pembaca lembaran: Syaikh Robi' berkata: "Di setiap negeri, yang saya sebutkan tadi, demi Alloh, itu adalah hukuman dari Alloh ketika dia meyakini bahwa itu adalah suatu nikmat. Dia memang meyakini ini, tapi sebenarnya itu adalah hukuman dari Alloh atas apa yang dia lakukan."
Syaikh Yahya menjawab: "Saya tidak meyakini ini, saya tidak meyakini ini, saya lebih tahu tentang hati saya sendiri dari pada Anda."
Pembaca lembaran: Syaikh Robi' berkata: "Buah dari perbuatannya dan perbuatan murid-muridnya. Demi Alloh, belum pernah disaksikan keghuluwan semacam ini dari ahlul bida' sepengetahuan kita, pada murid-muridnya."
Syaikh Yahya: "Wahai ikhwan, bertaqwalah kepada Alloh, bagaimana bisa demikian?? Jadi Rofidhoh menurut perkataan ini tidak mempunyai sikap ghuluw seperti yang ada pada kita, sedangkan mereka mengucapkan: "Waahsenaah lesy matjiinaah (Wahai Husain kenapa Anda tidak datang kepada kami)." Dan menusuk-nusuk badan mereka dengan pisau.
Kelompok Sufiyah yang yang merangkak (ke arah imam mereka) demikian dan merayap sampai ke lututnya kemudian menciumnya, setelah itu kembali dengan berjalan mundur, apakah mereka tidak memiliki ghuluw seperti ghuluw kami?
Saya katakan kepada kalian: perkataan ini keluar dari beliau dalamkeadaan beliau marah dan emosi. Sampai-sampai ada yang mengabarkan kepadaku dari orang yang hadir waktu itu, bahwa beliau berbicara sambil gemetar. Dan suatu perkataan apabila diucapkan dalam keadaan marah terkadang muncul padanya penambahan dan pengurangan. Dan yang beliau ungkapkan ini merupakan sebagian dari tambahan dalam perkataan beliau, dan ini tidak mungkin untuk diingkari oleh seorangpun.
Syaikh Yahya: Demikian tadi nasehat, dan saya memohon kesediaan dari Syaikh dan para pendengar apabila terjadi salah ucap dan kekeliruan sedangkan saya tidak menginginkannya –demi Alloh– keluar dari mulut saya, saya mohon untuk dimaafkan.
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ]هود: 88[
"Aku tidak menginginkan kecuali untuk memperbaiki sesuai dengan kemampuanku. Dan tidak ada bagiku petunjuk kecuali dengan kehendak Alloh, hanya kepadaNyalah aku bertawakkal dan hanya kepadaNyalah aku kembali." (QS. Hud:88)
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت سبحانك وأتوب إليك
Malam senin, 6 Jumadal Ula 1434 H
Kata penerjemah: dengan ini selesailah penerjemahan bagian kedua/akhir dari "An Nushhur Rofi'" semoga bermanfaat dan bisa meluruskan persepsi yang keliru.
والحمد لله رب العالمين

**************************

Posting-posting Terkait

>>> Nasihat yang Luhur dari Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali ke-2 (2/2)
>>> Nasihat yang Luhur dari Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali ke-2 (1/2)
>>> Nasihat yang Luhur dari Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali ke-1
>>> [Transkrip Berbahasa Indonesia] Nasihat yang Luhur dari Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali ke-1
>>> [Terjemahan - Audio] Nasihat yang Luhur dari Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali ke-1
>>> [Transkrip Berbahasa Inggris] Nasihat yang Luhur dari Syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri untuk Syaikh al-Walid al-'Allamah Rabi al-Madkhali ke-1
A LOFTY ADVICE FOR THE FATHER, THE ILLUSTRIOUS, THE NOBLE SHAYKH RABEE'

>>> Karakter Haddadiyyah Dalam Diskusi Ilmiyyah

> > > > > > > READ MORE